Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
S2. MENIKAHI LELAKI KEMAYU



Di suatu pagi, di ruang makan.


"Farissa, teman Daddy malam ini akan berkunjung kesini. Dia ingin bertemu langsung dengan mu." ucap Daddy ku.


Aku mengerutkan kening ku, kemudian meletakkan kembali garpu dan sendok yang ada ditangan ku keatas piring. Kebetulan saat itu aku sudah selesai menikmati sarapan pagiku.


"Siapa, Dad?!" tanyaku.


Daddy dan Mama ku saling tatap kemudian tersenyum kepadaku. Sedangkan kembaran ku, Fariz menatapku dengan raut wajah bingung sama halnya dengan ku.


Berbeda dengan adik bungsu ku, Fiona, tersenyum-senyum tidak jelas kepadaku. Mungkinkah dia mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh kedua orangtua kami?


"Apa kau masih ingat dengan Tuan Joseph Alexander, salah satu rekan bisnis Daddy yang sering mampir kesini?" tanya Daddy balik.


Aku mencoba mengingat-ingat kemudian akupun mengangguk kan kepalaku pelan, "Ya, Dad! Aku ingat. Tapi... untuk apa dia menemui ku?"


"Dia ingin mempertemukan kamu dengan anak pertamanya, Julian Alexander. Desainer terkenal itu lo, Farissa." sahut Daddy dengan sangat antusias.


Mama pun tersenyum padaku begitupula adik bungsu ku yang menyebalkan itu, Fiona. Walaupun aku dan Fiona jarang akur, namun kami saling menyayangi satu sama lain.


"Tapi... untuk apa?" tanya ku lagi.


"Tuan Joseph ingin menjodohkan mu dengan Julian. Tapi semua keputusan ada ditangan mu, Farissa. Kami tidak akan memaksa mu begitupula Tuan Joseph dan Julian. Kamu bisa menolaknya jika kamu memang tidak menginginkannya." tutur Daddy.


Deg!!!


Di jodohkan? Aku ingin tertawa ketika mendengarnya. Di jaman modern seperti sekarang, masih ada jodoh-jodohan. Dan itu si Julian, bukankah dia seorang Desainer terkenal. Kenapa tidak mencari istri saja, yang cocok dengannya?


Aku yakin sekali banyak wanita cantik yang bersedia menjadi istrinya. Apalagi dia seorang lelaki yang kaya raya, pasti banyak wanita yang rela antri untuk menjadi pasangan hidupnya.


Fiona terkekeh ketika mendengar aku akan dijodohkan dengan lelaki yang bahkan tidak pernah aku lihat sekalipun wajahnya itu.


"Kak Farissa, Tuan Julian itu sangat tampan loh! Wajahnya setampan oppa-oppa Korea gituh!" seru Fiona.


Aku kembali mengerutkan kening ku ketika mendengar si Julian itu setampan oppa-oppa Korea. Aku bukan pecinta drakor seperti Fiona dan aku tidak tertarik setampan apa si Julian itu.


"Ih, Kak Farissa mah gitu! Aku serius loh, Kak! Dia seperti aktor-aktor ganteng di drakor gitu." sambung Fiona sambil tersenyum-senyum tidak jelas padaku.


"Kalau begitu kenapa tidak kamu saja yang menikah dengannya? Bukankah kamu pecinta lelaki ala Drakula-drakula gitu!" sahut ku,


Fiona kesal, ia menekuk wajahnya kemudian mengadu sama Mama. Yah, seperti minta pembelaan dari Mama. Biasalah, anak bungsu mah gitu.


"Tuh kan, Kakak ih! Drakor, Kak! DRAKOR! Bukan Drakula...!!!" ucapnya kesal. Ia tidak terima ketika kata-katanya aku plesetin.


"Ih kalian ini, kebiasaan deh!" gerutu Mama,


"Bagaimana, Farissa?!" tanya Daddy lagi.


Sembari bangkit dari tempat duduk, "Ehm, ketemu aja dulu, Dad..." sahut ku.


Daddy kembali tersenyum kepadaku, begitupula dengan Mama. Aku menghampiri kedua orangtuaku kemudian pamit.


🌸 Sedikit cerita tentang keluarga kecilku 🌸


Karena usia Daddy yang sudah tidak muda lagi, kini Daddy memilih melanjutkan perusahaan mendiang Kakek yang sempat terbengkalai karena Daddy lebih memilih Dunia Modeling daripada menggeluti Dunia Bisnis.


Ya, tidak mungkin lah seusia Daddy masih bergelut di dunia Modeling, siapa juga yang mau mengontrak dia yang sudah tak muda lagi (54 tahun), walaupun dia masih sangat tampan.


Sekarang toko kue milik Mama sudah berkembang pesat dan memiliki lebel sendiri. Aku sudah memiliki beberapa karyawan. Ada yang bertugas membuat kue dan ada juga yang bertugas melayani pembeli didepan.


Tante Nur, dia sudah hidup enak. Suaminya saja seorang pengusaha, ya tidak mungkin lah dia masih bergelut di toko yang jauh lebih kecil dibandingkan usaha milik suaminya.


Dan Fariz (24 tahun), kembaran ku itu lebih memilih membantu Daddy di perusahaan daripada menjadi Model seperti Daddy dulu. Lain halnya dengan Fiona (20 tahun), gadis itu sangat tergila-gila dengan dunia modeling.


Dan beruntung Tuhan memberikannya tubuh yang indah dan tinggi badan yang semampai tidak seperti aku. Tubuhku malah asli menurun dari Mama, kecil mungil.


***


Aku melajukan mobil kesayangan ku menuju toko. Sambil mendengarkan lagu favorit ku, ku nikmati perjalanan ku kali ini.


Karena keasyikan menikmati lagu, aku sampai tidak menyadari ada seseorang yang ingin menyeberang jalan.


Aku terkejut, begitupula orang itu. Beruntung aku sempat menginjak rem, dan beruntung nya lagi rem mobil ku benar-benar pakem hingga dapat menghentikan kecepatan mobil ku tepat pada waktunya.


Chittttt!!!!! suara decit mobil ku.


"Huft...!!!" aku menyeka keringat dingin yang menetes di pelipisku. Beruntung orang itu tidak sempat tertabrak olehku. Kalau tidak, aku pasti akan berada dalam masalah yang besar.


Lelaki itu sempat menutup wajahnya, ternyata saat itu ia juga ketakutan karena hampir saja ku tabrak. Dan setelah itu, ia bergegas menghampiri mobil ku dengan wajah marah.


"Heh! Kamu itu bisa nyetir atau enggak sih?!" hardik lelaki yang hampir ku tabrak itu.


Lelaki berperawakan tinggi dengan kulit putih mulus dan terlihat seperti aktor drakula-drakula itu. Eh, bukan drakula tapi Drakor!


Lelaki itu sepertinya sangat marah padaku. Ia terus menggedor-gedor pintu mobil ku sambil berteriak lantang.


"Buka! Kalau tidak kamu akan ku teriaki maling, biar warga pada datang menggebukin kamu!" ancam lelaki itu.


Aku ketakutan, sampai-sampai tubuhku ikut bergetar karena mendengar ancamannya yang begitu menakutkan. Akhirnya akupun memberanikan diri untuk membuka kunci pintu mobil ku.


Lelaki itu bergegas masuk dan duduk tepat disamping ku yang sedang menyetir mobil. Dia melotot tajam kepadaku dengan matanya yang rada sipit itu.


Aku hampir tertawa melihat matanya. Dengan mata yang ala-ala oppa korea itu mau melotot seperti apa saja, ya tetap saja seperti itu!


"Antar aku kejalan XX, cepat!" perintahnya padaku


"Ehm, aku juga ingin bekerja, Tuan. Kenapa Tuan tidak mencari tumpangan lain saja!" sahut ku,


Wajahnya memerah ketika aku menjawabnya seperti itu. Dia menunjuk wajahku dengan telunjuknya yang panjang itu sembari memarahi ku,


"Aku hampir mati gara-gara kamu, sekarang antar aku kalau tidak..."


"Baiklah, Tuan!"


Aku kesal karena lelaki itu terus saja mengancam ku. Daripada aku berdebat dengannya lebih baik aku turuti saja kemauannya.


Sambil menekuk wajahku, aku mengantarkannya ketempat yang ia tuju. Padahal untuk menuju tempat itu, aku harus kembali memutar jalan untuk kembali ke toko ku.


Tanpa terimakasih, lelaki itu keluar dari mobil ku. Bahkan dia membanting pintu mobil ku dengan sangat keras.


"Dasar lelaki gila!" teriak ku, namun lelaki itu tidak mempedulikannya.


***