Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Pengakuan Julian


POV FARISSA


Hari ini kehamilan ku sudah memasuki bulan ketiga, tapi mual dan susah makan ku masih setia mewarnai hari-hariku.


"Farissa sayang, makanlah... barang sedikit. Tubuh mu semakin kurus saja." ucap Julian kepadaku sambil menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut ku.


Ya, aku memang susah makan dan sekali mau makan, pasti akan dikeluarkan lagi sampai tak bersisa hingga tubuhku lemah tak berdaya. Beruntung Julian selalu setia menjaga ku dan memberikan apapun yang aku inginkan.


"Nanti saja, Sayang. Aku sedang tidak ingin makan." sahut ku sambil menjauhkan sendok itu dari mulut ku.


Julian menghela nafas dalam kemudian mengembalikan sendok yang ia pegang keatas piring yang berisi makanan untukku.


"Ya, sudah. Sekarang makan ini saja."


Julian mengambil buah apel kemudian menyerahkannya kepadaku. Ya, aku tidak menolak memakan buah tapi untuk makanan berat, aku masih pilih-pilih.


Aku meraih buah apel itu dan mulai menggigit nya. Sedangkan Julian duduk disamping ku sambil memijit pundak ku dengan lembut.


"Farissa, besok aku ikut latihan bersama Bian, ya. Sudah lama aku tidak ikut latihan dan Bian terus bertanya-tanya padaku." ucap Julian.


Aku tersenyum kepadanya, ini semua gara-gara aku. Julian bahkan tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Dan benar, Julian sudah dua minggu tidak ikut latihan bersama Bian karena morning sickness yang terjadi kepadaku semakin berat.


"Baiklah. Tapi berjanji ya, Setelah selesai latihan bersama Bian kamu bakal cepat balik." sahut ku sambil mengulurkan jari kelingking ku kepadanya.


Julian terkekeh pelan kemudian ia mengaitkan jari kelingking nya ke kelingking ku. "Iya, Sayang. Aku berjanji." sahut Julian.


Aku menatap wajah tampan Julian sambil terus tersenyum kepadanya. Tiba-tiba Julian menyerang bibirku dengan ciuman hangatnya. Aku terkekeh pelan sambil mendorong tubuhnya dengan lembut.


"Jangan macam-macam, Julian. Aku takut kamu tidak mampu menahan hasrat mu kepadaku. Ingat apa yang dikatakan oleh Dokter kandungan saat itu?!" ucap ku kepada Julian yang masih ingin mencicipi bibir ku.


Julian menggaruk kepalanya kemudian menghembuskan nafas kasar, "Iya, iya! Aku ingat." sahut Julian.


Ketika aku memeriksakan kandungan ku diawal kehamilan, Dokter kandungan ku menyarankan untuk tidak melakukan hubungan itu sementara waktu. Paling tidak setelah kehamilan ku melewati Trimester pertama. Dan Julian harus bersabar menahan hasratnya satu bulan lagi.


"Ya, sudah! Sini kita tidur sambil pelukan saja!" titahnya.


Julian meraih tubuhku kedalam pelukannya dan memberikan kecupan hangat di puncak kepalaku. Aku memperhatikan dirinya. Julian benar-benar sudah berubah. Berkat latihan dan kerja kerasnya, kini tubuh Julian sudah benar-benar terbentuk.


Dan aku yakin, siapapun yang melihat Julian yang sekarang, tidak akan percaya jika Julian yang dulu adalah seorang lelaki gemulai. Otot-otot tubuhnya sudah terbentuk sempurna. Perutnya sudah seperti roti sobek membuat aku betah berlama-lama menyentuhnya.


"Kenapa kamu terus melihatku seperti itu, Farissa?! Apa kamu tergoda pada tubuhku?" goda Julian, karena sejak tadi aku hanya memperhatikan tubuhnya.


Aku terkekeh pelan sambil mencubit perutnya. "Aku yakin banyak wanita yang tergila-gila padamu sekarang, benar kan?!" Aku balas menggodanya.


Julian sempat terdiam sejenak. Sepertinya ada yang sedang mengganggu pikirannya. Julian meraih kepalaku dan meletakkannya tepat ke dadanya. Bahkan aku bisa mendengar detak jantungnya dengan sangat jelas.


"Farissa, akhir-akhir ini ada seseorang yang mencoba mengusik kehidupan ku dan aku benar-benar merasa terganggu." ucap Julian tiba-tiba.


Aku ingin mengangkat kepalaku namun Julian menahannya membuat aku tidak bisa menggerakkan kepalaku yang masih menempel di dada bidang Julian.


"Apa maksudmu, Julian?" tanyaku,


Akhirnya Julian melepaskan pelukannya dan kini ia menatapku tajam dengan mata sipitnya. "Farissa, aku ingin jujur padamu. Aku tidak ingin menyembunyikan apapun darimu. Jadi ku mohon, jangan marah ya. Ada yang ingin aku ceritakan padamu tentang sesuatu hal yang membuat aku terganggu akhir-akhir ini." ucap Julian.


Aku menautkan kedua alis ku sambil tersenyum kepadanya. "Baiklah, ceritakan saja. Aku janji tidak akan marah." sahut ku.


Julian menghela nafas kemudian mulai bercerita padaku.


Aku memperhatikan ekspresi wajah Julian saat ia mengatakan hal itu. Dan sepertinya dia berkata jujur jika ia merasa sangat tidak nyaman atas kehadiran Melinda, mantan kekasihnya yang kini sah menjadi istri adik kandungnya.


"Apa yang dia inginkan, Julian." tanyaku


"Kembali padaku." sahut Julian.


Aku memeluk tubuhnya dengan erat. Aku tidak ingin Julian kembali padanya. Aku sudah berjuang sampai sejauh ini dan aku tidak ingin orang lain yang menikmati hasil jerih payah ku.


"Kamu tidak akan meninggalkan aku dan kembali padanya kan, Julian?" tanyaku tanpa melepaskan pelukan ku.


Julian membalas pelukan ku dan mencium puncak kepalaku berkali-kali. "Aku bukan laki-laki bodoh yang akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya, Farissa sayang. Aku akan tetap bersama mu sampai kapanpun. Bahkan hingga maut memisahkan kita." sahut Julian.


Aku begitu terharu mendengarnya dan akupun sedikit tenang setelah mendengar jawaban dari Julian. Setelah pembicaraan itu, suasana menjadi hening hingga akhirnya Julian tertidur begitupula aku.


Keesokan Harinya,


"Sayang, aku berangkat dulu!" ucap Julian seraya mengecup kening ku.


"Iya, hati-hati dijalan ya! Dan jangan lupa cepat pulang..." sahut ku.


Julian terkekeh pelan seraya masuk kedalam mobilnya dan iapun sempat melampaikan tangannya kepadaku.


"Bye, Farissa sayang! I love you..." ucap Julian kemudian melaju dengan mobilnya.


"Bye, love you too!" sahut ku setengah berteriak.


Setelah kepergian Julian, akupun segera masuk kedalam rumah dan ingin bersantai sejenak. Aku bersantai diruang tengah sambil menonton televisi. Tiba-tiba ponsel ku berdering dan akupun segera meraihnya. Ternyata Julian yang mencoba menghubungi ku.


"Astaga, Julian? Ada apa lagi, pasti ada yang ketinggalan deh! Dasar si Julian, kebiasaan." gumam ku sambil menerima panggilan dari Julian.


"Ya, Sayang?!"


"Farissa, aku kangen sama kamu..."


"Astaga, Julian..." Akupun tergelak mendengarnya.


"Serius, Farissa! Aku merindukan mu..." sahutnya lagi,


Aku mencoba menghentikan gelak tawa ku, "Baiklah, aku juga merindukan mu, Julian. Tapi kamu baru berangkat beberapa menit yang lalu, Sayang! Masa sudah kangen?" tanya ku.


"Memangnya aku tidak boleh kangen, ya? Lagipula aku suntuk, tidak ada teman yang bisa diajak bicara." jawab Julian


"Tapi kamu kan bisa mendengarkan musik, lagipula tidak baik menelpon sambil mengendarai mobil. Nanti fokus mu bakal terbagi-bagi..."


"Hai, Farissa! Apa kamu merindukan ku?!"


Tiba-tiba aku mendengar seseorang menyapa ku dari belakang. Aku segera berbalik dan menoleh keasal suara dan betapa terkejutnya aku ketika mengetahui siapa yang telah mengunjungi ku pagi ini.


"Kamu?! Mau apa lagi kamu kesini?!"


"Farissa, siapa disana?! Farissa?!!"


...***...