Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Konferensi Pers


POV AUTHOR


Hari ini Julian menuruti anjuran dari Assisten nya. Julian mengundang beberapa wartawan untuk mengadakan Konferensi pers.


Bersama Farissa yang begitu setia mendampinginya, Julian melangkah menuju ruangan dimana ia akan membuat pengakuan tentang masa lalunya.


Ternyata semua wartawan sudah berkumpul dan menunggu kedatangan Julian. Julian menuntun Farissa hingga duduk di kursi yang sudah disediakan untuk mereka. Begitupula Julian, ia duduk disamping sang Istri.


Julian menghembuskan nafas panjang sambil memperhatikan para Wartawan dan para Kameramen yang sudah siap merekam pengakuannya secara Live. Farissa memperhatikan wajah Julian dan ia tahu suaminya itu sedang gugup.


Farissa meraih tangan Julian kemudian menggenggam nya dengan erat. Tangan Julian terasa dingin dan juga berkeringat. Farissa melemparkan sebuah senyuman hangat kepada Julian disaat suaminya itu menoleh kepadanya.


Setelah menyapa para awak media, Julian pun mulai menguak kisah masa lalunya kepada mereka.


"Ya, aku akui berita yang sempat viral itu adalah benar. Aku memang sempat terjerumus didunia itu. Dan aku minta maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian semua dan seluruh masyarakat karena mungkin apa yang kulakukan itu bukanlah sesuatu yang patut untuk dicontoh." ucap Julian dengan raut wajah penuh penyesalan.


Farissa semakin mempererat genggamannya dan hal itu memberikan energi positif kepada Julian.


"Sebenarnya apa yang membuat kamu sempat terjerumus ke dunia itu, Julian?" tanya salah seorang Wartawan.


Julian kembali menghembuskan nafas panjang kemudian tersenyum kepada Wartawan tersebut. "Masa lalu ku yang suram membuat aku memilih dunia itu." sahut Julian.


"Bolehkah kami tau cerita masa lalu mu, Julian? Apakah masa lalu mu begitu suram hingga akhirnya kamu lebih memilih menjadi seseorang seperti itu?" tanya yang lainnya.


"Entahlah bagi kalian. Tapi bagiku, masa lalu ku begitu suram. Aku harus menerima pengkhianatan dari seorang Wanita yang aku cintai ketika aku masih meniti karier di Luar Negeri. Setelah aku sukses dan bermaksud untuk melamarnya, ternyata dia sudah bertunangan dengan saudara ku sendiri. Aku hancur saat itu. Aku merasa apa yang aku perjuangkan selama ini begitu sia-sia. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk tidak mempercayai wanita lagi dan memilih dunia menjijikkan itu sebagai pelampiasan ku." tutur Julian dengan mata berkaca-kaca.


Para Wartawan sempat terdiam dalam pikiran mereka masing-masing. Ada yang terlihat kebingungan, ada yang terlihat iba kepada nasib Julian dan berbagai macam reaksi diwajah mereka.


"Lalu, apakah sekarang kamu sudah benar-benar berubah, Julian?" tanya salah seorang Wartawan yang membuyarkan lamunan semua orang diruangan itu.


Julian tersenyum hangat kemudian menatap Farissa yang masih menggenggam tangannya dengan erat.


"Ya, aku berani bersumpah kepada kalian semua bahwa aku sudah benar-benar berubah. Dan semua itu karena perjuangan seorang Wanita yang kini sedang mengandung anakku. Dia adalah Farissa, Istri ku, Wanita yang pantas untuk diperjuangkan!" sahut Julian mantap.


Julian dan Farissa saling bertatap mata kemudian Julian melabuhkan sebuah kecupan hangat di kening Farissa. Sontak hal itu membuat para awak media bersorak dan bertepuk tangan kepada mereka. Membuat wajah Farissa merona menahan malu.


Apakah nasib baik atau malah sebaliknya, nasib buruk yang akan mereka jumpai setelah melakukan pengakuan ini. Julian pun sudah pasrah dan siap menerima nasibnya. Begitupula Farissa, iapun sudah siap menerima keadaan Julian, apapun itu.


Sementara itu di kediaman August, adik kandung Julian.


August tersenyum sinis ketika mengetahui bahwa saudaranya itu akan melakukan Konferensi Pers secara Live disalah satu televisi swasta. August berpikir Julian hanya akan semakin mempermalukan dirinya sendiri dan entah mengapa ia begitu senang melihat Kakak kandungnya itu semakin hancur. Karena selama ini ia menganggap Julian hanyalah pembawa sial untuk keluarganya.


August duduk manis di sofa mewah miliknya sambil menopang kaki. Dia menyaksikan aksi Live Julian di televisi ukuran super besar yang terletak di ruang bersantai nya. August juga meminta Pelayannya untuk membuatkan secangkir teh hangat serta cemilan untuk menemaninya menonton aksi Saudara kandungnya.


Disaat acara dimulai, August kembali tersenyum sinis sambil memutarkan kedua bola matanya. "Julia, Julia... Apa maksud mu membawa serta Istri mu yang sangat bodoh itu? Dan Wanita itu juga mau-maunya bersandiwara dengan berpura-pura hamil! Memangnya berapa sih Mrs. Julia itu membayarnya?!" gumam August sambil tergelak diruangan bersantai nya.


Pelayan yang membawakan teh manis kepada August pun sempat geleng-geleng kepala. Ia begitu heran dengan sikap August yang seperti itu. Padahal selama ini Pelayan itu tahu, Julian jauh lebih baik daripada Adiknya yang angkuh.


August masih memperhatikan acara Live itu dengan seksama. Kadang ia tertawa sendiri, kadang ia tersenyum sinis dan kadang ia menggerutu. Berbagai macam ekspresi terlihat diwajah August.


Namun ketika Julian menceritakan kisah masa silamnya yang membuat ia terjun ke dunia menjijikkan itu, August membulatkan matanya. Teh hangat yang masih ia pegang itupun jatuh ke lantai.


"A-apa?! Ti-tidak mungkin!" seru August seraya bangkit dari sofa mewahnya.


Tiba-tiba August teringat masa silam nya ketika menjalin hubungan bersama Melinda, sang Istri tercintanya. Ia baru sadar kalau selama ini Melinda adalah wanita yang telah menjalin asmara bersama Julian dan tanpa di duga, August malah menikahi wanita itu.


"J-jadi... Melinda..." August panik, bahkan sudah beberapa kali ia mengacak rambutnya hingga berantakan.


"Ya, Tuan! Melinda adalah kekasih Tuan Julian. Dan akibat rasa sakit yang begitu mendalam, Tuan Julian memilih dunia menjijikkan itu untuk melampiaskan rasa sakitnya." sahut Kepala Pelayan yang sudah mengabdikan dirinya untuk keluarga Tuan Joseph.


"Apa?! Kamu sudah mengetahui masalah itu?! Tapi kenapa kamu tega menyembunyikannya dariku!!!" teriak August histeris sambil mencengkeram kerah kemeja milik Kepala Pelayan itu.


"Maafkan saya, Tuan! Saya sudah berjanji kepada Tuan Julian tidak akan memberitahukan masalah ini kepada siapapun, termasuk anda! Dia tidak ingin merusak kebahagian anda, Tuan August... karena Tuan Julian begitu menyayangi anda." sahut Pelayan itu.


August menangis sejadi-jadinya di ruangan itu. Ia baru sadar selama ini dia sudah salah menilai Julian. Lelaki yang ia anggap sebagai pembawa sial dan sangat menjijikkan itu ternyata adalah korban dari keegoisan nya. Tanpa menyelidiki siapa melinda yang sebenarnya, August langsung menikahi wanita cantik itu tanpa berbasa-basi.


"Oh, Tuhan! Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Julian saat itu!" ucap August yang terduduk di lantai rumah mewahnya sambil menangis lirih, menyesali perbuatannya selama ini terhadap Julian.


...***...