Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Kabar Baik dan Kabar Buruk


Setelah lama berbincang-bincang bersama Julian, August pun pamit pulang. Ia kembali melajukan mobilnya menuju kediamannya. Nanun siapa sangka, ketika August masih menikmati perjalanannya, ia dikejutkan dengan pemandangan menyakitkan yang harus ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


"Melinda!" seru August,


August bergegas menghentikan mobilnya dan memarkirkan nya dipinggir jalan. Ia memperhatikan Istrinya sedang asik bersama laki-laki lain. Melinda nampak bahagia, tawanya selalu menghiasi wajah cantiknya. Apalagi ketika laki-laki itu melabuhkan sebuah kecupan hangat di bibirnya, membuat Melinda semakin bahagia dibuatnya.


Dengan hati bergejolak, August melangkah menghampiri Istrinya yang tengah mabuk cinta bersama laki-laki lain, disebuah Kafe mewah yang begitu jelas terlihat dari arah jalan.


August sadar, pengkhianatan yang dilakukan Melinda bukan semata karena kesalahan wanita itu. August juga salah dalam hal ini, karena selama ini dia tidak pernah sekalipun punya waktu luang untuk istrinya.


Dengan hati panas dan terasa terbakar, August memasuki Kafe itu kemudian melangkah menghampiri Melinda dan laki-laki itu. Saking asiknya, pasangan itu bahkan tidak menyadari keberadaan August yang hanya beberapa meter dari mereka. Hingga akhirnya August benar-benar berdiri dihadapan mereka dengan wajah yang nampak tenang.


"Melinda, apa yang kamu lakukan disini?!"


Walaupun August begitu tenang namun siapa sangka hatinya sakit dan hancur berkeping-keping ketika menyaksikan istri yang begitu ia cinta dan puja-puja selama ini, ternyata sudah berkhianat dibelakangnya.


"August?!" seru Melinda kaget.


Melinda kelabakan, ia segera bangkit dan melepaskan tangan sang kekasih yang masih menggenggam erat tangannya. Wajah Melinda pucat pasi dan rasanya mengelak pun tiada guna sebab August sudah menyaksikan semuanya dengan jelas, dengan mata kepalanya sendiri.


"A-august! Kamu dari mana, Sayang! Ehm, ayo... duduk dulu, biar aku pesankan minuman untukmu!" ucap Melinda seraya menarik tangan August dan berpura-pura sedang terjadi apa-apa antara dia dan laki-laki itu.


"Ehm, Melinda! Sebaiknya aku pulang dulu ya!" ucap Laki-laki itu seraya bangkit dari tempat duduknya.


Namun August menahannya. "Tidak perlu, Bro! Sebaiknya aku yang pergi dan kalian, lanjutkan saja acara makan-makan kalian!" sahut August seraya melepaskan tangan Melinda yang masih menempel di lengannya dan melangkah menjauhi tempat itu.


August kembali memasuki mobilnya dengan perasaan yang bercampur aduk. Dia tidak menyangka Melinda akan berbuat hal seperti itu dibelakangnya. Sebelumnya August begitu mempercayai sosok Melinda. Ia percaya Melinda adalah wanita yang baik, yang tidak akan bermain serong dibelakangnya.


Tubuh Melinda bergetar karena ketakutan. Ia sangat panik sepeninggal August. Beberapa kali ia mengacak rambut indahnya. "Bagaimana ini?! Bagaimana August bisa tahu kalau aku sedang berada disini bersama mu?!" ucap Melinda panik.


"Mana aku tahu!" sahut lelaki itu acuh,


"Nasib ku sedang diujung tanduk! Dan kamu harus bertanggungjawab atas semua ini!" hardik Melinda sambil menunjuk-nunjuk wajah lelami itu.


"Kenapa menyalahkan aku? Bukankah kamu sendiri yang ingin hubungan kita lebih dari sekedar sahabat, Melinda?!" sahut lelaki itu lagi.


Setelah mengucapkan hal itu, Lelaki itu pergi meninggalkan Melinda yang masih menghardiknya.


***


Beberapa minggu setelah acara Konferensi Pers itu,


"Farissa! Farissa sayang!" panggil Julian seraya mencari keberadaan istrinya.


Dengan perlahan, Farissa melangkahkan kakinya menuju kearah suaminya. Farissa tersenyum ketika melihat Julian yang menghampirinya sambil berlari kecil.


"Ada apa, Sayang? Kelihatannya kamu bahagia sekali." tanya Farissa keheranan melihat Julian yang terlihat sangat bahagia hari ini.


"Sayang, Assisten ku baru saja menyampaikan berita baik untuk kita! Dia bilang keadaan Butik ku mulai normal dan pelanggan ku sebelumnya mulai kembali dan malah lebih banyak pelanggan baru yang berdatangan!" sahut Julian dengan mata berkaca-kaca menyampaikan hal itu kepada Farissa.


"Benarkah?! Owh, Sayang... aku turut bahagia mendengarnya!" sahut Farissa,


Farissa segera memeluk tubuh Julian dengan erat. "Mungkin ini rejeki yang diberikan Tuhan untuk calon anak kita..." sahut Farissa.


"Kamu benar, Farissa sayang!"


Julian mengecup kening Farissa kemudian kembali memeluknya.


"Hari ini aku ingin mengunjungi Butik, apa kamu mau ikut denganku, Sayang?!" tanya Julian seraya melepaskan pelukan mereka.


"Sepertinya aku tidak bisa, Sayang. Kamu tau kan, sekarang aku gampang sekali lelah..." sahut Farissa sembari mengelus lembut perutnya yang besar itu.


Julian tersenyum kemudian berjongkok dan melabuhkan ciuman hangat di perut Farissa yang membulat. "Baiklah, Sayang! Sebaiknya kamu istirahat saja..." sahut Julian.


Setelah sarapan bersama dengan menu sederhana mereka, Julian pun segera pamit kepada Farissa.


"Sayang, aku berangkat dulu ya...!" ucap Julian


Farissa sempat terdiam menatap Julian yang begitu bersemangat hari ini. Entah mengapa Farissa merasakan perasaan yang sangat tidak enak. Raut wajah Farissa pun berubah. Ia terlihat cemas ketika menatap Julian saat itu.


"Julian, aku mencintaimu..." sahut Farissa seraya memeluk tubuh suaminya dengan erat.


"Iya, iya! Aku juga mencintaimu, Farissa sayang!" sahut Julian.


Setelah melerai pelukannya, Julian bergegas memasuki mobilnya. Wajah Farissa semakin kusut ketika menyaksikan Julian sudah bersiap meninggalkannya.


"Hati-hati dijalan ya, Sayang! Dan jangan lupa cepat pulang ketika urusan mu sudah selesai. Aku menunggu mu disini..." ucap Farissa lagi,


Julian terkekeh pelan kemudian mencubit pipi Farissa yang terlihat lebih berisi selama mengandung. "Tenang saja, Sayang! Aku pasti akan pulang ketika semua urusan ku di Butik sudah selesai." sahut Julian.


Setelah itu Julian pun segera melajukan mobil menuju Butik miliknya. Dan benar saja, kedatangannya sudah dinanti-nanti oleh Assisten nya yang sudah menunggu kedatangannya sejak tadi pagi.


"Selamat datang, Tuan Julian! Bagaimana kabar anda pagi ini?!" sapa Assisten Julian sambil tersenyum lebar.


"Tentu saja baik! Apalagi setelah mendengar kabar baik yang kamu sampaikan kepadaku tadi pagi!" sahut Julian penuh semangat.


Disaat Julian sedang berbincang tentang kemajuan Butiknya setelah Julian melakukan Konferensi Pers saat itu, tiba-tiba saja mata Julian tertuju pada seseorang yang sangat ia kenali. Lelaki itu sedang berdiri di seberang jalan dan ingin menyeberang kearah Butiknya.


"Tuan Alessandro?!"


Julian melangkah keluar dan mencoba mendatangi Tuan Alessandro yang masih berada disisi jalan berseberangan dengannya. Saat itu Tuan Alessandro tidak menyadari kehadiran Julian yang ingin menghampirinya. Dia hanya fokus dengan ponselnya tanpa menghiraukan sekelilingnya.


Tanpa memperhatikan situasi jalan saat itu, Tuan Alessandro melangkahkan kakinya menyeberang jalan.


"Tuan Alessandro, awasss!!!"


Julian berteriak dengan lantang seraya berlari menghampiri Tuan Alessandro yang tidak menyadari kedatangan sebuah mobil pengangkut barang. Julian mendorong tubuh Tuan Alessandro hingga terpental ke pinggir jalan. Dan...


**BRUGGKKHH!!!!


...Bersambung**......