
Aku membuka mataku, tiba-tiba saja semua orang sudah berkumpul mengelilingi tubuhku sambil tersenyum lebar. Apalagi Alessandro, matanya bahkan berkaca-kaca ketika melihat aku kembali tersadar.
"Ada apa ini? Kok, rame-rame begini?"
"Ge, terimakasih!" seru Alessandro sambil memeluk tubuhku dengan erat.
Aku semakin bingung melihat Alessandro yang memeluk tubuhku sambil terisak. Apalagi ia mengucapkan kata Terimakasih kepadaku. Walaupun aku tidak mengerti tapi aku tetap membalas pelukan Alessandro sambil menepuk pelan pundaknya.
"Terimakasih untuk apa, Sayang?!" tanya ku,
Alessandro melepaskan pelukannya dari tubuhku kemudian memegang kedua pipiku sambil menatap lekat mataku,
"Sayang, kita akan punya Baby lagi. Fariz dan Farissa akan segera punya adik baru!" ucap Alessandro sembari menciumi kedua pipiku.
Aku membulatkan mataku kemudian terisak seraya memeluk tubuh Alessandro. Alessandro pun kembali memeluk tubuh ku erat.
"Selamat ya, Sayang!" ucap Mami seraya menghampiri berdiri disamping Alessandro.
"Terimakasih, Mami." sahut ku, sambil melepaskan pelukan Alessandro.
Semua orang memberi selamat kepadaku, tak terkecuali keluarga kecil EL yang juga ada diruangan itu. Bella memeluk tubuhku dengan mata berkaca-kaca.
"Selamat ya, Ge. Aku turut bahagia mendengarnya." ucap Bella sambil melepaskan pelukannya,
"Terimakasih, Bella." sahut ku
Aku mengerti bagaimana perasaannya sekarang, dia pasti sedih. Mengingat ia pernah kehilangan calon buah hatinya dan sekarang ia sudah tidak mungkin lagi mengandung seorang bayi.
EL pun turut tersenyum, walaupun ia tidak mendekat padaku. Sedangkan Arini, gadis kecil itu sedang menemani Faris dan Farissa yang tengah bermain diruangan itu. Aku berdoa semoga saja EL terus bahagia bersama keluarga kecilnya.
Setelah aku agak mendingan, Alessandro mengajak ku pulang. Alessandro membopong tubuhku hingga memasuki mobilnya. Sedangkan Nur mengikuti dari belakang bersama Fariz dan Farissa. Setelah kami semua masuk dan duduk manis didalam mobil, Alessandro pun segera melajukan mobilnya menuju kediaman kami.
Di perjalanan pulang, Alessandro beberapa kali menengok kearah ku dengan wajah yang terlihat sangat bahagia. Berkali-kali pula ia melabuhkan kecupan hangat di punggung tanganku.
"Terimakasih, Sayang..."
Entah sudah berapa kali Alessandro mengatakan hal itu kepadaku. Mungkin karena saking bahagianya dia terus mengucapkan kata terimakasih kepadaku.
"Sama-sama, Sayang." sahut ku, sambil tersenyum manis kepadanya.
Tiba-tiba saja mataku tertuju kepada Nur yang sedang asyik dengan ponselnya. Aku lihat dia tersenyum-senyum seperti orang bodoh sambil memperhatikan layar ponselnya.
"Nur, kamu kenapa sih? Sejak tadi ku perhatikan senyum-senyum terus? Jangan-jangan..." goda ku, Alessandro pun sempat melirik Nur sambil terkekeh, rupanya ia juga menyadari tingkah aneh Nur saat ini.
Dengan cepat Nur menghentikan aktivitasnya kemudian tersenyum kepadaku, "Ih, Kakak! Apaan sih... Bukan apa-apa kok, Kak. Aku cuma lagi chattingan sama teman." sahut Nur
Aku mengerutkan kening ku, "Teman, apa teman?" sahut ku,
"Itu lo, Sayang. Lelaki yang tadi tidak sengaja menabrak Nur sewaktu di pesta... Mereka terlihat nempel terus sewaktu kamu tidak sadarkan diri. Dan mungkin saja lelaki itu teman chatting nya saat ini." sambung Alessandro,
"Hah?! Masa sih, Nur?" tanyaku,
Nur tidak menjawab, ia tersipu malu setelah mendengar perkataan Alessandro barusan. Sepertinya benar, lelaki itulah yang sedang Chatting an sama Nur saat ini.
Setibanya dirumah, kamipun segera membersihkan diri kemudian bersiap untuk beristirahat.
***
Suara itu terdengar semakin jelas saja, seperti suara orang yang sedang memuntahkan isi perut. Aku mengerutkan kening ku kemudian bangkit dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi.
Dan ternyata benar, Alessandro sedang memuntahkan isi perutnya hingga ia benar-benar kelelahan dan terlihat sangat lemah. Aku segera berjongkok dan mensejajarkan tubuhku dengannya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanyaku
Aku mengelus punggungnya sambil memijit-mijit pundaknya dengan lembut. Dan berharap itu bisa mengurangi rasa tidak enak yang sedang dirasakan oleh Alessandro.
Setelah puas mengeluarkan isi perutnya, Alessandro bersandar di dinding kamar mandi sambil memejamkan matanya.
"Ternyata ini terulang lagi!" seru Alessandro dengan mata tertutup.
Aku tidak mengerti apa yang baru saja diucapkan olehnya. Ku raih wajahnya kemudian ku tatap lekat. Alessandro pun membuka matanya sambil tersenyum hangat kepadaku,
"Aku juga mengalami hal ini ketika kamu mengandung Fariz dan Farissa, Ge. Setiap pagi aku harus berjuang melawan rasa ini. Bahkan Dokter ku saja sampai bosan karena aku selalu memanggilnya kesini." tutur Alessandro.
Aku tidak menyangka ternyata Alessandro juga mengalaminya saat itu. Sekarang aku benar-benar tidak tega melihatnya. Aku tau bagaimana rasanya mual itu, sungguh-sungguh tidak enak.
"Apa kamu sudah baikan, biar aku bantu bangun. Sebaiknya kamu beristirahat di tempat tidur, biar nanti aku panggil kan Dokter." ucap ku,
Alessandro tersenyum kemudian mengangguk pelan. Kemudian aku bangkit dan mencoba membantu Alessandro melangkah menuju kamar dan membaringkan nya ditempat tidur.
Alessandro meraih ponselnya yang berada diatas meja, disamping tempat tidur. Ia mencoba menghubungi Dokter langganannya. Beruntung Dokter itu bersedia mengunjungi kediaman kami untuk melihat keadaan Alessandro sekarang.
Tidak berselang lama, Dokter itupun tiba. Akupun segera menyambutnya kemudian menuntunnya menuju kamar kami. Setibanya didalam kamar, Dokter itu segera menghampiri Alessandro yang tergolek lemah ditempat tidur sambil tersenyum.
"Wah, Alessandro. Terulang lagi ya, cerita tiga tahun yang lalu." goda Dokter itu.
Alessandro tersenyum kecut dengan wajah yang memucat. "Ya, Dok! Seperti itulah..."
Kemudian Dokter itu memeriksa keadaan Alessandro secara detail dan setelah beberapa saat, Dokter itupun terkekeh,
"Nikmati saja, Aley. Dengan begitu kamu akan merasakan bagaimana susahnya menjadi seorang wanita, bukan begitu Nona Ge!?" ucap Dokter itu,
Alessandro hanya bisa nyengir.
"Apa kamu tahu, Nona Ge? Alessandro pernah mengalami hal ini dan saat itu Alessandro sempat putus asa. Dia takut hal itu akan terus terjadi padanya." ucap Dokter sambil tersenyum kepadaku,
"Ya, Alessandro baru saja mengatakannya, Dok." sahut ku sambil terkekeh pelan.
Setelah selesai memeriksa keadaan Alessandro dan memberinya beberapa macam obat, Dokter itupun segera pamit.
Kini dikamar itu hanya tinggal aku dan Alessandro yang masih tergolek lemah.
"Apa kau ingin sesuatu, Sayang?" ucap ku seraya mengelus puncak kepalanya.
Alessandro bersandar di pundak ku sambil memejamkan matanya, "Aku tidak ingin apa-apa. Aku cuma ingin kamu tetap berada disini, bersamaku." sahutnya.
Sebenarnya aku tidak tega melihat keadaannya seperti itu. Rasanya lebih baik aku yang mengalaminya. Tapi sepertinya untuk kehamilan kali ini, aku tidak mengalami hal itu dan Alessandro lah yang menanggungnya.
***