
"Arini sudah sekolah?" tanyaku
Ku pegang wajah anak itu kemudian membelainya dengan lembut. Arini tersenyum kepadaku, ternyata benar apa yang dikatakan oleh Bella, Arini anaknya asik buat diajak ngobrol.
"Sudah, Tante. Arini sekarang masih di TK, tapi tahun depan Arini sudah masuk SD loh, Tante!" sahut Arini.
Aku tersenyum kepadanya, kemudian ku raih tangannya yang masih tertancap jarum infus. Ku genggam tangan mungil itu sambil mengelus nya dengan lembut.
"Wah, Arini hebat ya!" seru ku,
Arini semakin melebarkan senyumnya. Terlihat manis sekali. Bentuk wajah Arini persis seperti Ibunya, Bella. Namun bentuk mata dan bibirnya persis seperti EL. Perpaduan yang begitu sempurna bagiku.
"Tante, mana dede Faliz dan Falissa!"
Terdengar sangat lucu ketika Arini menyebutkan nama Fariz dan Farissa. Sebenarnya Arini sudah tidak cadel lagi tetapi mungkin ia hanya salah menyebutkan nama mereka saja.
"Dede Fariz dan Farissa ada di luar bersama Ayah mu. Tante panggil kan, ya?!"
Arini pun menganggukkan kepalanya. Aku segera bangkit dan meninggalkan Arini di kamarnya. Aku menghampiri EL yang ternyata sedang menemani Fariz dan Farissa yang sudah bangun dari tidur mereka.
Ternyata EL tidak sendiri di ruangan itu. Bella juga ada disana dan duduk disamping EL. Bella tersenyum manis padaku ketika aku menghampiri mereka. Saat itu, Bella sedang memangku Fariz sedangkan Farissa berada di pangkuan EL.
"Bagaimana, Sayang?!" tanya EL,
EL meraih tanganku kemudian melabuhkan ciuman di punggung tanganku. Seperti itulah EL, dia selalu manis padaku walaupun sekarang aku tidak pernah membalasnya.
Aku sempat melihat reaksi Bella yang tengah duduk disampingnya. Ia jadi serba salah dan terlihat sangat canggung melihat perlakuan EL kepadaku.
"Arini anak yang baik dan juga sangat manis. Oh ya, Arini ingin sekali bertemu Fariz dan Farissa. Bisa bantu aku membawa mereka ke kamar Arini?" ucap ku
EL segera bangkit dan membawa Farissa bersamanya. Akupun segera meraih Fariz dari pangkuan Bella kemudian mengikuti langkah EL dari belakang.
EL membuka pintu kamar Arini dengan mendorongnya menggunakan sikut nya karena kedua tangannya sedang menggendong tubuh Farissa.
Arini tersenyum lebar ketika melihat Fariz dan Farissa mendekatinya. Sepertinya dia sangat senang, dia bahkan sampai bertepuk tangan.
"Yeay! Dede..." seru nya
"Lihat, Sayang dede nya cantik dan ganteng loh!" ucap EL sambil memperlihatkan Farissa kepada Arini.
Arini menyentuh pipi Farissa sengan telunjuknya kemudian iapun tertawa riang. Aku dan EL ikut tertawa bersamanya.
"Bagaimana, Arini ingin dede cowok atau dede cewek?! tanya EL
"Dua-duanya! Seperti dede Farissa dan dede Fariz. Semoga nanti Mama bisa kasih Arini dede kembar seperti mereka ya, Ayah!" sahut Arini
Deg!
Sontak aku dan EL saling tatap. Perkataan Arini membuat kami merasa tidak nyaman. Bagaimana Bella bisa memberikan Arini seorang Adik sedangkan EL masih bersamaku. Terkecuali Bella menikah lagi dengan laki-laki lain atau... EL kembali kepadanya.
Setelah beberapa saat berada di kamar itu, akhirnya Fariz dan Farissa rewel. Mereka terlihat jenuh terkurung disana. Bella segera menghampiriku dan mengambil Fariz dariku.
Ia membawanya keluar dan akhirnya Fariz pun mulai tenang begitupula Farissa, EL membawanya keluar dan menimang-nimang nya bersama Bella. Aku memperhatikan kebersamaan mereka.
Kini aku sadar. Sepertinya akulah yang menjadi orang ketiga bukan Bella. Seharusnya aku tidak hadir dalam kehidupan mereka. Maka mereka bisa kembali bersatu dan menjadi keluarga yang sempurna.
Lamunan ku buyar ketika Arini memanggil ku. Aku berbalik ke arahnya kemudian tersenyum,
"Ya, Sayang?!"
Aku berjalan menghampirinya dan duduk ditempat ku semula.
"Tante, nanti jika Arini sudah bisa masuk sekolah. Arini boleh pinjam Ayah, ya! Arini ingin memperlihatkan Ayah Arini kepada teman-temannya Arini. Soalnya teman-teman Arini selalu mengata-ngatain Arini, kalau Arini itu gak punya Ayah." ucapnya
Tiba-tiba saja airmata ku menetes. Aku tidak bisa membayangkan jika itu terjadi kepada Fariz dan Farissa. Hatiku terasa disentil dengan sangat keras ketika Arini mengatakan hal itu.
"Kenapa Arini bilang begitu? Arini tidak perlu ijin untuk bisa bersama Ayah Arini karena Ayah Arini adalah milik Arini seorang." jawabku.
Arini menundukkan kepalanya, ia terlihat sedih. Aku meraih wajah lucunya dan ku tatap matanya yang sedang berkaca-kaca.
"Kata Mama, Ayah itu milik Tante Ge! Aku tidak boleh pinjam-pinjam Ayah tanpa seijin Tante." ucapnya sambil terisak.
Ya Tuhan, aku bagai disambar petir saat mendengar perkataannya. Aku peluk tubuh mungilnya dan ku kecup puncak kepalanya berkali-kali.
Sekarang aku sadar, aku menjadi penghalang untuk hubungan seorang Ayah dan anak. Aku harus melakukan sesuatu. Aku ingin Arini seperti anak lainnya, memiliki seorang Ayah yang selalu ada disaat mereka membutuhkannya.
"Tidak, Sayang! Mulai Ayah EL adalah milik Arini. Ayah EL akan selalu ada untuk Arini!" sahut ku, sambil menyeka airmata ku yang terus mengalir.
Arini tersenyum dengan airmata yang masih mengalir disudut matanya.
"Benarkah, Tante?! Tante akan mengembalikan Ayah kepada Arini?" tanya Arini
"Iya, Sayang! Iya!!!"
Aku mengangguk dengan cepat. Aku tidak peduli bagaimanapun hancurnya hatiku demi kebahagiaan gadis kecil ini. Arini lebih membutuhkan EL daripada Fariz dan Farissa.
Sekarang tekad ku sudah bulat. Aku akan melepaskan EL dan mengembalikannya kepada Arini. Karena Arini lebih berhak hidup bersamanya daripada aku.
Apalagi kondisi Arini sangat lemah. Dia akan hidup dengan duduk di kursi roda untuk selamanya. Dia butuh dukungan EL sebagai Ayah kandungnya.
Kini, yang ku pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya meyakinkan EL untuk segera melepaskan aku dan kembali bersama Bella juga Arini.
Dan aku juga harus mulai memikirkan perencanaan untuk aku dan si kembar kedepannya.
Aku harus bisa seperti Bella. Ia bisa menghidupi anaknya tanpa bantuan seorang laki-laki. Jika Bella saja bisa, aku juga pasti bisa!
Setelah perbincangan yang begitu mengharukan antara aku dan Arini, tak terasa sore pun tiba. EL sudah berkali-kali mengajakku pulang.
Hingga akhirnya aku menyerah karena si Fariz dan Farissa sudah sangat rewel. Mereka sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.
EL dan Bella pun sudah mulai kewalahan menenangkan mereka. Aku tersenyum kerika melihat kedua orang itu kelabakan menenangkan Fariz dan Farissa.
Karena jika mereka sudah rewel tingkat dewa seperti ini, kalau bukan aku atau Nur yang menenangkan nya, maka dia tidak akan mau tenang.
Akhirnya akupun pamit kepada Bella dan Arini. Dan ketika di perjalanan, Fariz dan Farissa kembali tenang. Merekapun terlihat ikut menikmati perjalanan hari ini.
Sedangkan aku, hati dan pikiran ku sedang berperang hebat. Aku harus memilih antara cinta dan Iba.
***