Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Ketempat Gym


"Farissa! Kamu mimpi buruk lagi."


Julian memeluk tubuhku erat. Sudah beberapa kali aku mengigau seperti ini. Dan Julian terus memeluk tubuhku dengan erat sambil menenangkan ku.


"Aku tidak menyangka Leo tega membuat mu menjadi seperti ini, Farissa. Aku akan menemuinya besok dan meminta penjelasan darinya." ucap Julian lagi.


"Tapi Julian, aku tidak ingin Leo menyakiti mu." ucap ku sambil menengadah ke wajahnya.


Julian kembali mengecup puncak kepalaku, "Kamu tenang saja, Farissa. Dia tidak akan pernah berani macam-macam padaku." sahut Julian.


"Sebaiknya aku segera mandi. Aku pasti sudah bau, kan?!" sahut lu seraya melepaskan pelukan Julian dari tubuhku.


Julian pun tersenyum sambil mengacak puncak kepalaku pelan. "Ya, kamu sudah bau. Sudah sana, cepat mandi!"


Akupun segera beranjak kemudian memasuki kamar mandi dan melakukan ritual pagi ku seperti biasanya. Setelah selesai mandi dan berpakaian serta memoles wajahku sedikit, aku segera menemui Julian di kamarnya.


Seperti janji ku kemarin, aku ingin mengajak Julian ke suatu tempat. Ketika aku memasuki kamarnya, ternyata Julian baru saja selesai mandi. Dengan hanya menggunakan handuk kecil yang melilit menutupi area pribadinya, Julian terlihat sangat tampan. Dia tersenyum hangat kepadaku ketika aku masuk kedalam kamarnya.


"Hai, Farissa! Kamu terlihat sangat cantik pagi ini." sapa Julian.


Aku menghampirinya dan berdiri tepat di hadapannya. "Kamu juga terlihat sangat tampan, Julian." ucap ku.


Aku meletakkan tanganku ke dada mulusnya sambil ku elus-elus dengan sangat lembut. Bulu halus tubuh Julian seketika berdiri. Aku tidak tahu, apakah lelaki itu geli atau ia sedang terangs*ng karena sentuhan ku.


Julian meraih tanganku kemudian menciumnya dengan lembut. "Tunggu sebentar, ya. Aku ingin berpakaian." ucap Julian.


Akupun menunggunya sambil duduk di tepi tempat tidur. Aku memperhatikan lelaki kemayu itu mengenakan pakaiannya. Dia memang hebat memadupadankan kemeja serta celana yang ia kenakan sekarang.


Beberapa kali Julian melirik ku sambil tersenyum mungkin karena aku tiada hentinya memperhatikan dirinya yang tengah bersiap-siap.


"Ayo, Farissa! Aku sudah siap."


Julian mengulurkan tangannya dan kemudian ku sambut uluran tangannya. Aku dan Julian berjalan sambil bergandengan tangan menuju halaman luar. Beberapa Pelayan yang bekerja dirumah Julian, membulatkan mata mereka ketika melihat kami.


Mungkin ini adalah pemandangan langka bagi mereka. Karena mereka terbiasa menyaksikan kebersamaan Julian dan Leo. Tapi sekarang lelaki kemayu itu malah tampil mesra bersamaku.


Julian membukakan pintu mobilnya untukku dan kali ini dia kembali memilih menyetir mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir pribadinya.


"Silakan, Farissa." seru Julian sambil membukakan pintu mobil.


"Terimakasih!" sahut ku seraya masuk kedalam mobilnya.


Julian segera melangkah menuju tempat duduknya dan siap untuk mengemudikan mobilnya.


"Kita mau kemana, Putri?!" goda Julian.


Aku tersenyum ketika mendengar lelaki itu menyebut ku dengan sebutan Putri.


"Jalan saja, biar aku yang menjadi penunjuk jalan." sahut ku,


Julian pun tersenyum seraya melajukan mobilnya. "Baiklah kalau begitu."


Ya, aku menjadi penunjuk jalannya hari ini. Aku ingin membawa Julian ke suatu tempat dimana dia bisa belajar menjadi lelaki seutuhnya. Hingga akhirnya mobil itu berhenti disebuah tempat Gym terbesar dan terlengkap di pusat kota.


"Mau apa kita kesini, Farissa?" tanya Julian.


"Aku ingin kamu nge-Gym untuk membentuk otot-otot mu. Biar kamu terlihat lebih macho, Julian. Jangan kalah sama lelaki jahat itu!" ucap ku sambil menepuk lengan Julian yang kecil itu.


Tubuh Julian terlalu kecil kalau dibandingkan Fariz, saudara kambar ku. Fariz selalu ketempat ini untuk membentuk tubuhnya agar selalu terlibat bagus. Dan usahanya tidak mengkhianati hasil. Tubuhnya kekar dengan perut six pack seperti roti sobek.


Julian tersenyum kecut ketika mendengar ucapan ku. Tapi dia menurut saja, dia mengikuti langkah kakiku yang menuntunnya memasuki tempat itu. Salah seorang pelatih Gym sekaligus pemilik tempat ini, segera menghampiri kami. Dan kebetulan aku sangat mengenalnya karena dia adalah salah satu sahabatnya Fariz.


"Hai, Farissa. Ini suami mu kan?!" tanya Bian.


"Ya! Ini Julian, suamiku." sahut ku.


Ya, aku pernah mengutarakan keinginan ku untuk membawa Julian ketempat Gym milik Bian. Dan tentu saja Bian dengan senang hati menyambutnya.


"Julian ini kan Designer terkenal itu?" ucap Bian seraya mengulurkan tangannya kepada Julian yang masih terbengong-bengong.


"Ah, iya! Senang berkenalan dengan mu." sambut Julian sambil tersenyum hangat.


"Kamu tau Farissa, entah sudah berapa lama aku tidak pernah menginjakkan kakiku ketempat ini." bisik Julian kepadaku.


Aku hanya terkekeh pelan sambil membelai pipinya. "Mulai hari ini, aku akan selalu mengajak mu ketempat ini!" sahut ku.


Julian menautkan kedua alisnya sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Sepertinya Julian agak risih berada ditempat ini tapi aku tidak peduli. Aku terus menggiringnya mengikuti langkah kaki Bian yang menuntun kami ketempat pelatihan. Bian pun menjelaskan bagaimana nge-Gym untuk pemula seperti Julian.


Walaupun Julian sempat menolak, tapi dengan sedikit desakan dariku, akhirnya Julian mengalah dan mengikuti arahan dari Bian.


Setelah beberapa saat, Julian pun kehabisan tenaganya. Dengan nafas terengah-engah, Julian bersandar di dinding tampat itu. Bian hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya ketika melihat Julian yang kewalahan.


"Tenang saja, Julian. Untuk pertama kali latihan, memang akan terasa sangat berat. Tapi nanti kamu pasti akan terbiasa dan otot-otot mu pasti akan cepat terbentuk." ucap Bian, memberikan semangat untuk Julian.


Aku hanya bisa tersenyum tipis tapi tiba-tiba kepalaku terasa berputar-putar dan semakin berat hingga akhirnya tubuhku melayang dan akupun tak sadarkan diri.


POV AUTHOR


"Farissa! Farissa! Kamu kenapa?!" seru Julian


Baik Julian maupun Bian begitu terkejut karena tiba-tiba saja Farissa jatuh pingsan. Julian yang tadinya lemas karena kelelahan, segera bangkit dan menyambut tubuh Farissa yang tergolek di lantai. Semua orang yang ada ditempat itu terheran-heran sambil memperhatikan Julian dan Bian yang tengah panik.


"Bawa ke ruangan ku, Julian!" ucap Bian sembari mengajak Julian menuju ruangan pribadinya.


Julian pun segera membawa Farissa yang tidak sadarkan diri ke ruangan pribadi Bian dan meletakkannya keatas sofa yang ada diruangan itu. Setelah meletakkan tubuh Farissa, Julian segera meraih ponselnya dan menghubungi Dokter pribadinya untuk segera memeriksa keadaan Farissa.


"Sebenarnya Farissa sakit apa, Julian?" tanya Bian kepada Julian yang masih panik.


"Aku tidak tahu. Dia tidak pernah bercerita apapun tentang penyakitnya dan tadi pagi pun dia masih baik-baik saja." sahut Julian.


"Tapi... tadi malam Farissa sempat beberapa kali terbangun dari tidurnya karena sesuatu hal yang membuatnya begitu trauma. Apa mungkin karena itu, ya?!" sambung Julian.


"Bisa jadi." sahut Bian sambil memperhatikan Farissa yang masih tak sadarkan diri.


...***...