
Beberapa hari kemudian,
Setelah mengetahui kehamilan ku, sikap Julian berubah 180 derajat kepadaku. Dia begitu manis dan sangat perhatian. Apapun yang aku butuhkan, Julian pasti akan menyediakannya untukku. Dan diapun begitu semangat berlatih Gym bersama Bian. Dia benar-benar serius ingin berubah untuk aku dan anak kami.
"Sayang, ayo kita berangkat." ajak Julian setelah ia selesai bersiap-siap.
Hari ini Julian ingin kembali latihan bersama Bian. Dan sepertinya tubuh Julian sudah terlihat lebih berisi dibanding sebelumnya walaupun belum begitu nampak. Sedangkan aku ingin kerumah Orangtuaku. Aku ingin berkunjung kesana, karena sudah lama aku tidak menjenguk mereka.
Julian melaju menuju kediaman Orangtuaku untuk mengantarkan aku, sebelum ia menuju tempat Gym milik Bian.
"Farissa, apa yang kamu katakan itu benar. Detektif yang ku sewa sudah memberikan hasil penyelidikan mereka tentang Leo. Leo sudah merencanakan pernikahannya dengan kekasihnya, setelah berhasil mendapatkan separuh kekayaan milik ku." ucap Julian sambil terus fokus pada jalan.
Aku mengerutkan kening ku setelah mendengar ucapan Julian. "Separuh harta kekayaan mu? Apa maksudnya?!"
Julian menghembuskan nafas dalam kemudian sebelah tangannya meraih tanganku dan menggenggam nya.
"Maafkan aku, Farissa! Aku dan Leo pernah berpikir bodoh. Leo terus mendesak ku melakukan operasi ubah kelam*n dan berjanji akan menikah denganku. Tapi entah kenapa hatiku begitu berat melakukan hal itu dan aku begitu bersyukur karena kamu sudah berhasil menyadarkan aku..." ucap Julian.
Mataku membulat sempurna. Aku tidak percaya dengan apa yang ku dengar barusan. "Apa?! Kamu ingin operasi ganti kelam*n?!" pekik ku.
Julian menutup mulut ku dengan tangannya. "Sstthh! Jangan keras-keras, Sayang! Itu cuma rencana dan beruntung belum terjadi." sahut Julian.
Aku menepis tangannya yang menutupi mulutku dengan kasar. Tiba-tiba saja aku meradang ketika mendengar Julian mengatakan hal itu.
"Awas saja ya kalau kamu berani melakukannya! Aku bersumpah kamu tidak akan pernah melihat aku dan anak mu lagi, camkan itu!" ancam ku kesal.
Julian terkekeh pelan, "Jangan bicara seperti itu, Farissa sayang! Aku sayang kalian dan aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh itu. Aku berjanji!" sahut Julian lagi.
Setelah beberapa saat, mobil yang dikemudikan oleh Julian pun tiba di halaman depan rumah orangtuaku. Julian tidak masuk, dia cuma mengantarkan aku hingga ke halaman depan kemudian kembali melajukan mobilnya menuju tempat Gym milik Bian.
Belum sempat aku masuk kedalam rumah, Adik rese ku sudah menyambut kedatangan ku dengan mata berkaca-kaca.
"Kakak Farissa!!!" seru Fiona sambil berlari kecil ke arahku. Dia langsung memeluk tubuhku dengan erat sambil berpura-pura terisak.
"Huuu... Aku kangen kamu, Kak!" sambungnya.
Sebenarnya aku sering mengunjungi rumah ini, tapi jarang sekali bertemu Adik rese ku karena jadwalnya sebagai seorang model, begitu padat.
"Tumben ada dirumah, tidak ada jadwal pemotretan kah?!" tanya ku kepada Fiona.
Fiona melepaskan pelukannya kemudian mengajakku masuk kedalam rumah. "Khusus untuk menyambut kedatangan Kakak Farissa dan calon keponakanku, aku rela mengundur jadwal pemotretan ku hari ini!" sahut Fiona sambil tersenyum hangat kepadaku.
"Eh, kamu sudah datang ya, Sayang?!"
Mama segera menghampiriku kemudian memeluk tubuh ku dengan erat.
"Iya, Mah. Baru saja." sahut ku.
"Sini, duduk dulu!"
Mama mengajakku duduk di sofa ruang utama, begitupula Fiona. Ia juga ikut duduk disamping ku sambil mengelus perut ku yang masih rata.
"Kak, bagaimana rasanya hamil?!" tanya Fiona
"Ish! Kamu itu tanyanya jangan aneh-aneh begitu donk!" sahut Mama sambil melotot kearah Fiona.
"Nanti kamu juga pasti akan merasakannya. Tapi menikah dulu, ya!" sahut ku seraya merengkuh pundak Fiona.
Hari ini, sambil menunggu Julian selesai latihan bersama Bian, aku menghabiskan waktu ku bersama keluarga kecilku. Mama membuatkan rujak buah khusus untukku. Dan entah mengapa aku begitu semangat menikmati rujak buah buatan Mama ku.
Fiona pun tidak kalah semangat sampai-sampai Mama kesal karena Fiona juga ikut-ikutan seperti orang yang tengah hamil muda.
"Ish, Fiona! Sebenarnya yang sedang ngidam disini siapa? Kamu atau Kakak mu?!" ucap Mama sambil menepuk pelan tangan Fiona yang terus mengambil rujak buah buatan Mama.
Fiona terkekeh namun tangannya terus meraih buah-buahan segar itu dan memasukkannya kedalam mulutnya tanpa mempedulikan ekspresi Mama saat ini.
"Biarkan saja, Mah..." sahut ku sambil menyuapi Fiona dengan buah yang ada di tanganku.
"Terimakasih, Kakak! Nah begitu donk, Mah! Kakak saja mengerti aku, masa Mama ku sendiri tidak mengerti keinginan ku, Hu... Hu..." ucap Fiona sambil menyandarkan kepalanya ke pundakku.
Aku tersenyum melihat tingkah konyol adik rese ku ini. Dia tidak pernah berubah, dia tetap adik konyol ku yang selalu suka membuat orang rumah kesal dengan tingkah konyol nya.
"Sebaiknya kamu cepat menikah, Fiona." ucap ku sambil mengelus puncak kepalanya yang bersandar di bahu ku.
"Gimana mau menikah, kekasih saja dia tidak punya!" sahut Mama sambil terkekeh pelan kemudian berlalu menuju dapur. Sepertinya Mama ku yang cantik itu ingin memasakkan sesuatu untukku.
"Kak, sebenarnya aku sedang jatuh cinta loh! Tapi sayang, laki-laki itu menolak cintaku dan terus menyebut ku dengan sebutan bocah! Aku seakan patah semangat dan merasa tidak punya kesempatan sama sekali." ucap Fiona dengan sangat pelan, sepertinya ia takut kedengaran oleh Mama.
Aku tersenyum lebar ketika mendengar penuturan Fiona. "Siapa lelaki menyebalkan itu, yang sudah berani menyebut adikku dengan sebutan bocah?! Dan sayangnya dia benar!" tanya ku sambil tergelak.
"Ish, Kakak nih!" sahut Fiona kesal, ia bahkan memukul lengan ku.
"Tapi dia benar lo, Fiona! Coba deh ubah sikap kekanak-kanakan mu, siapa tahu dia akan menerima cintamu. Siapa sih namanya?" ucap ku yang masih penasaran dengan sosok laki-laki yang sudah membuat Fiona tergila-gila.
"Kak Ibra!" bisik nya.
"Ibra?!" pekik ku, tanpa ku sadari aku menyebut nama Ibra dengan lantang bahkan sampai kedengaran oleh Mama di dapur.
"Kakak!!!" seru Fiona kesal, ia kembali memukul lengan ku.
"Eh, maaf. Kakak kebablasan! Sejak kapan kamu menyukai Ibra?" Jiwa penasaran ku kembali bergejolak.
Fiona menundukkan kepalanya, wajahnya terlihat sedih dan kini ia menatapku dengan tatapan sendu.
"Aku sudah lama menyukainya, Kak. Tapi aku sadar Kak Ibra tidak pernah sekalipun melirik ku. Aku tahu Kak Ibra begitu mencintai Kak Farissa, iya kan?!" ucapnya.
Deg!
Aku tidak menyangka Fiona tahu kalau selama ini Ibra menyukai ku. Aku tersenyum kepadanya kemudian memeluk tubuhnya. Fiona membalas pelukan ku dan kini tangannya melingkar di perutku.
"Jangan menyerah, Fiona! Dan kamu tenang saja, Kakak pasti akan selalu mendukung mu." sahut ku.
"Benarkah itu, Kak?!" tanya Fiona, dia mendongak ke wajahku sambil tersenyum.
"Tentu saja!" sahut ku sambil melabuhkan sebuah kecupan hangat di keningnya. Walaupun Fiona super rese namun aku tetap menyayanginya.
...***...