
"Kakak! Kakak Farissa! Tenanglah, semuanya sudah berakhir... Kamu aman bersamaku, Kak!" ucap Fiona sambil memeluk tubuhku dengan erat.
Nafasku tersengal-sengal. Seperti yang aku khawatirkan, aku kembali mengigau seperti dulu. Kejadian itu kembali menghantui ku bahkan airmata ku pun ikut mengalir tanpa ku sadari.
"Farissa! Kamu kenapa, Sayang?! Apa kamu baik-baik saja?!" tanya Mama yang tiba-tiba masuk kedalam kamar ku.
Mungkin suara teriakan ku terdengar hingga ke telinga Mama. Hingga ia bergegas menghampiri ku dengan wajah cemas. Tidak berselang lama, Daddy pun muncul dengan wajah yang masih mengantuk.
"Sudah ku bilang kan, Sayang! Farissa itu cuma mengigau." ucap Daddy sambil mengucek matanya.
"Tapi ini sudah yang kesekian kalinya, Dad! Aku bahkan belum sempat tertidur nyenyak, Kakak sudah berteriak lagi!" sahut Fiona,
Astaga Fiona! Aku benar-benar lupa untuk mengatakan kepadanya agar tidak pernah menyinggung masalah kejadian siang kepada Daddy maupun Mama.
"Benarkah? Memangnya apa yang terjadi hingga membuat Farissa seperti itu?!" tanya Daddy sambil menautkan kedua alisnya menatap Fiona.
"Tadi pagi Kak Farissa hampir saja menjadi korban pemerkosaan oleh Leo, kekasihnya Julian..." tutur Fiona
DUARRRR!!!
Mati aku! Benarkan, mulut adikku ini mulus sekali seperti jalan tol bebas hambatan! Seketika raut wajah Daddy dan Mama berubah. Mereka begitu terkejut mendengar penuturan Fiona.
"Apa?!" Mata Daddy membulat sempurna. Ingin rasanya aku menjitak kepala adik ember ku yang sedang memeluk tubuhku sekarang ini.
"Benarkah itu Farissa? Jawab Mama?!" Mama pun ikut-ikutan histeris.
"Sudahlah, Dad, Mah... semuanya sudah berlalu dan Leo pun sudah ditangkap oleh Polisi." sahut ku, mencoba menenangkan hati Daddy dan Mama ku.
"Iya, Leo memang sudah ditangkap Polisi! Tapi jika seandainya aku dan Kak Ibra tidak datang tepat waktu! Aku yakin sekali, Kakak pasti sudah beres dikerjai oleh Leo saat itu!" sahut Fiona memanas-manaskan suasana yang sudah mulai panas.
"Astaga, Farissa! Untung kamu baik-baik saja, seandainya hal itu benar-benar terjadi, maka akan ku bunuh kedua orang itu!" hardik Daddy kesal
"Daddy, sebenarnya kalian salah paham. Leo melakukan itu karena ia tidak terima Julian berubah dan lebih memilih aku daripada dia. Oh ayolah, Dad! Beri Julian kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya sudah berubah. Dan bukan lagi Julian yang dulu..." ucap ku sambil memelas.
"Daddy tidak percaya seseorang seperti Julian bisa berubah, yang ada malah semakin menjadi! Sudah cukup, Farissa! Lupakan Julian, dan mulailah kehidupan baru tanpa dirinya!" ucap Daddy yang kemudian keluar dari kamar ku dengan kesal.
Aku menatap Mama yang masih duduk disamping ku. Mama membalas tatapan ku dengan tatapan sendu. "Sudahlah, Farissa. Untuk saat ini turuti saja permintaan Daddy mu. Apa kamu lupa, Daddy mu itu agak keras kepala kalau menyangkut kehidupan kalian. Tapi Mama yakin, suatu hari nanti Daddy mu pasti akan luluh." ucap Mama sambil mengelus rambutku dengan lembut.
Sepertinya aku tidak punya pilihan lain selain menunggu hati Daddy yang membeku menjadi cair dan memberikan kami restu untuk kembali bersama.
Setelah kejadian itu, aku tidak berani tidur lagi. Aku tidak ingin kembali memimpikan kejadian menjijikkan itu. Aku menahan mataku agar terus terjaga dan alhasil mataku pun seperti mata panda.
Pagi menjelang, setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian, Fiona menuntun ku menuju ruang makan. Mama sudah menunggu kami disana. Dan benar saja, semuanya sudah berkumpul. Mama, Daddy dan Fariz sudah siap menikmati sarapan mereka.
Aku duduk diantara Fiona dan juga Mama. Dan disaat aku ingin memulai sarapan ku, tiba-tiba Daddy melemparkan ponselnya kepadaku.
"Coba kamu baca gosip itu!" ucap Daddy sambil meraih sendok dan garpu kemudian memulai sarapannya.
Aku meraih ponsel milik Daddy dan mulai membaca berita yang sudah dibaca oleh Daddy ku. Ternyata berita itu membahas tentang masa lalu Julian. Tanganku gemetar setelah membaca berita itu. Aku yakin sekali pasti Leo yang sudah menyebarkan berita ini.
Kasihan Suami kemayu ku, begitu banyak cobaan yang harus ia hadapi sekarang. Sedangkan aku masih disini dan tak bisa memberikan dukungan kepadanya sedikitpun.
"Dan sekarang Daddy sangat yakin, setelah ini nama Daddy pun bakal terseret-seret! Ternyata menantu seorang Alessandro adalah seorang Waria!" sambung Daddy.
Aku hanya terdiam. Membela pun, rasanya sudah tidak ada gunanya lagi. Daddy tidak akan pernah mendengarkan penjelasan ku.
Nafsu makan ku seketika hilang. Perutku yang tadinya lapar, kini mendadak kenyang. Pikiran ku hanya tertuju pada Julian. Aku yakin sekali suami kemayu ku sedang terpuruk. Dia pasti sangat membutuhkan aku.
"Ayo, Sayang! Makanlah dulu..." ajak Mama,
Aku bangkit seraya menyerahkah kembali ponsel milik Daddy. "Aku masih kenyang, Ma. Sebaiknya aku istirahat saja dikamar." sahut ku seraya melangkah menjauhi ruangan itu.
"Farissa! Farissa sayang!" teriak Mama,
"Sudah, biarkan saja! Lama-kelamaan dia pasti akan terbiasa dengan kehidupan barunya!" sahut Daddy.
Aku tidak mempedulikan teriakan Mama, aku terus saja melangkahkan kakiku hingga memasuki kamar ku kembali. Aku menjatuhkan diriku keatas tempat tidur. Airmata ini kembali jatuh membasahi pipiku. Aku tidak menyangka kisah cinta ku akan serumit ini.
Ceklek!
Pintu terbuka dan ternyata Mama yang tengah masuk kedalam kamarku. Mama membawakan sebuah nampan berisi makanan untukku.
"Farissa, makan dulu ya! Kasihan bayi mu kalau kamu tidak makan. Bayi mu akan dapat apa? Bukankah ia juga membutuhkan nutrisi untuk pertumbuhannya!" ucap Mama sambil tersenyum kepadaku.
Mama melangkah menghampiri ku dan kini ia duduk disamping ku. Mama juga membantu membangunkan tubuhku.
"Farissa, buka mulutnya!"
Mama mengarahkan sendok yang berisi makanan ke mulutku. Melihat Mama yang ingin menyuapi aku makan, aku kembali teringat akan sosok Julian yang selalu melakukan hal ini jika aku tengah malas makan.
"Aku merindukannya, Ma! Aku merindukan Julian." ucap ku.
Mama meletakkan kembali sendok yang ia arahkan kepadaku keatas piring. Kini Mama kembali menatap ku dengan tatapan sendu.
"Yakinlah, Farissa! Jika Julian memang jodoh mu. Dia pasti akan kembali padamu!" sahut Mama mencoba meyakinkan aku.
Mama meraih tubuhku kemudian memeluk ku dengan erat. "Apa Daddy sudah berangkat?" tanyaku,
"Belum, kenapa?" sahut Mama.
Aku melepaskan pelukan Mama kemudian menatapnya lekat,
"Mah, izinkan Farissa keluar sebentar setelah Daddy berangkat. Farissa ingin menemui Julian. Farissa ingin tahu bagaimana keadaannya, Mah!" rengek ku kepada Mama,
Mama masih menatap ku namun ku lihat ada keraguan dimata Mama untuk mengijinkan aku menemui Julian.
"Mah, Farissa mohon!" pinta ku lagi.
"Baiklah," sahut Mama sembari menghela nafas beratnya.
...***...