Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Fikri


Aku mengerutkan kening ku, ternyata lelaki ini mengenali ku. Lama ku perhatikan wajahnya dan akhirnya aku ingat. Aku tersenyum ketika mengetahui siapa lelaki yang telah menolong ku dari kedua penjahat itu.


"Fikri?!"


Lelaki itu tergelak, "Ha! Akhirnya kau mengenaliku... Apakah aku begitu berubah hingga kamu tidak mengenaliku, Ge?!" tanya Fikri


Fikri, anak pemilik Villa. Dimana aku pernah diajak berlibur oleh Alessandro dan Sarra ketika aku masih menjadi Assisten Pribadinya.


Mengapa aku tidak mengenali sosok Fikri? Karena lelaki ini begitu berubah. Dia terlihat lebih dewasa ketika mengenakan celana panjang serta kemeja ketat yang membalut tubuhnya.


Tubuhnya juga tumbuh dua kali lipat dibanding terakhir kali aku bertemu dengannya ketika di pantai. Dulu dia biasa saja, lelaki sederhana dengan baju kaos dan celana selutut.


Tetapi kini dia benar-benar berubah. Wajahnya yang dulu masih terlihat ada beberapa jerawat, sekarang mulus tanpa noda sedikitpun.


"Kau berubah, Fikri. Jujur aku tidak mengenali mu. Kau terlihat jauh lebih dewasa dibanding saat kita bertemu di pantai waktu itu." sahut ku.


"Benarkah?!" sahut Fikri sambil terkekeh.


Tiba-tiba Nur memotong pembicaraan kami, "Apa kalian akan terus berdiri disitu?" tanya Nur sambil memperhatikan aku dan Fikri yang masih berdiri disamping meja kasir.


Aku tertawa pelan ketika mendengarnya, namun Nur memang benar. Aku segera mengajak Fikri untuk duduk disalah satu kursi yang masih kokoh berdiri. Karena tidak terkena imbas dari perkelahian Fikri Vs kedua penjahat tadi.


Fikri pun duduk, sedangkan Nur segera membuatkan minum untuknya.


"Kamu tidak berubah, Ge! Kamu masih cantik sama seperti dulu saat pertama kali kita bertemu." ucap Fikri sambil tersenyum hangat padaku.


"Masa sih?! Aku sudah punya dua anak lo!" sahut ku sambil terkekeh pelan.


Fikri mengerutkan keningnya, "Kau sudah menikah?"


Aku pun mengangguk sambil tersenyum padanya dan dia pun membalas senyuman ku.


"Sebenarnya apa yang kamu lakukan ditempat ini, Fikri?" tanyaku,


Heran saja, tempat tinggalnya sangat jauh dari kota ini.


"Aku sudah beberapa hari disini untuk memantau perkembangan Kafe ku. Dan kebetulan sekali tempatnya berseberangan dengan toko mu ini." sahutnya,


"Benarkah, jadi Kafe itu milik mu?" Tanyaku,


Fikri tersenyum seraya mengangguk pelan. Tepat disaat itu, Nur menghampiri kami dengan membawa nampan berisi minuman dingin untuk Fikri.


"Ehm, Fikri kenalkan ini Nur, Nur ini Fikri."


Aku memperkenalkan mereka berdua. Nur tersenyum sambil mengulurkan tangannya kepada Fikri dan Fikri pun segera menyambut uluran tangan Nur sambil tersenyum hangat.


"Ehm, Kakak. Aku keatas dulu ya! Sepertinya Fariz dan Farissa sudah bangun." ucap Nur.


Akupun mengangguk, kemudian Nur bergegas menuju lantai atas meninggalkan aku dan Fikri disana.


"Ge, bagaimana hubungan mu dengan Tuan Alessandro?" tanya Fikri,


Aku mengerutkan kening ku, aku merasa bingung dengan pertanyaan Fikri. Memangnya aku pernah punya hubungan apa sama Alessandro? Hubungan ku dengan Alessandro cuma sebatas seorang Model dan Assisten.


"Hubungan kami masih baik dan pastinya aku sudah tidak bekerja dengannya lagi." sahut ku,


Kini Fikri yang mengerutkan keningnya, "Bukan hubungan yang seperti itu, maksud ku apakah kamu dan Tuan Alessandro... Ehm, kalian dulu pacaran, kan?!" tutur Fikri,


"Hah?!"


Aku membulatkan mataku, aku hampir saja tergelak mendengar penuturan Fikri. Bagaimana bisa dia menyimpulkan aku dan Alessandro berpacaran. Sedangkan sewaktu di Villa dulu sudah jelas-jelas Alessandro masih bersama Sarra.


Aku tertegun, ternyata Fikri begitu memperhatikan perlakuan Alessandro terhadapku. Bahkan aku sendiri tidak pernah menganggap Alessandro cemburu saat itu.


"Aku rasa kamu salah deh, Fikri. Aku dan Alessandro tidak pernah punya hubungan apapun selain partner kerja."


Tepat disaat itu, Nur menghampiri kami bersama Fariz dan Farissa. Nur tersenyum manis saat itu dan Fikri pun sempat menatap Nur. Aku memperhatikan mereka, Ehm... Sepertinya mereka cocok.


"Nah, ini dia si Kembar ku. Mau berkenalan dengan mereka, Fikri?" ucap ku sambil meraih Fariz dari pelukan Nur.


Fikri tersenyum hangat, ternyata lelaki itu penyuka anak kecil. Dia segera meraih Farissa dari pelukan Nur.


Namun Fikri sempat tertegun ketika memperhatikan wajah Fariz dengan seksama. Aku tahu, pasti Fikri sedang membandingkan wajah Fariz dengan Alessandro.


Hmmm, tidak bisa dipungkiri. Fariz adalah duplikat Alessandro. Bahkan Nyonya Liliana saja mengakui hal itu. Ia bilang wajah Fariz persis seperti Alessandro.


"Maafkan aku, Ge! Tapi wajah anakmu benar-benar..."


"Mirip Alessandro, bukan?"


Ku potong kata-kata Fikri saat itu. Mengelak pun rasanya percuma saja. Dan benar saja, Fikri tergelak menertawakan aku.


"Tuh kan, apa ku bilang! Aku yakin sekali, dia pasti Ayah mereka, bukan?! Sekarang mana suami mu itu?" ucap Fikri sambil memperhatikan sekeliling toko ku,


Aku dan Nur saling tatap. Tidak mungkin aku mengumbar aib ku kepada Fikri. Dan bagaimana cara menjelaskannya agar dia mengerti kalau aku dan Alessandro memang tidak memiliki hubungan apapun. Dan yang lebih anehnya lagi, aku malah menikah dengan Kakaknya.


"Kau tidak akan menemukan Alessandro ditempat ini, Fikri. Karena lelaki itu sedang berada di luar negeri."


Fikri kembali terkekeh, "Kenapa tidak mengakuinya sejak awal, Ge! Ternyata benarkan, kalian sudah menikah." ucapnya lagi.


Aku menggaruk kepalaku, aku bingung bagaimana cara menjelaskannya. Ya sudah, biarkan dia bersama pemikirannya.


"Kak, bagaimana dengan toko ini?!" ucap Nur sambil memperhatikan keadaan toko yang amburadul akibat perkelahian tiga lelaki tadi.


"Astaga!"


Aku benar-benar melupakan keadaan toko ku akibat keasyikan berbincang dengan lelaki itu. Padahal keadaan toko ku saat ini seperti kapal pecah.


"Ehm, sebaiknya kita bereskan sekarang!" ucap Fikri.


Nur mengangguk tanda setuju. Akupun segera mengamankan Fariz dan Farissa dengan memasukkan mereka kedalam kereta dorong. Setelah kedua Bocil itu anteng, akupun turut membantu Nur dan Fikri yang sedang membersihkan toko ku.


Akhirnya selang beberapa saat, toko ku pun kembali rapih. Dan Etalase ku pecah sudah disingkirkan oleh Fikri.


Setelah pekerjaan kami selesai, Fikri pun pamit. Dan tanpa ku sangka, Fikri meninggalkan sebuah cek untuk mengganti barang-barang yang rusak.


Namun disaat aku dan Nur sedang asik membahas masalah cek Fikri yang harus dikembalikan, tiba-tiba ponsel ku berdering. Setelah di lihat, ternyata Fania yang menghubungiku.


"Ya, Fania. Ada apa?!"


Aku mendengarkan Fania berbicara panjang lebar di seberang telepon. Aku terkejut bukan main ketika mendengar berita yang disampaikan olehnya.


"Aku akan segera kesana..."


"Ada apa, Kak? Kok wajah kakak memucat?" tanya Nur,


***


Note: Karena Author pendengar yang baik, akhirnya Author mengabulkan keinginan kalian. Besok kita lihat karma apa yang akan didapatkan oleh EL 😅✌