
"Nur, apa menurutmu keputusanku sudah benar?" tanya ku pada Nur.
Saat ini kami sedang beristirahat di tempat tidur masing-masing. Kami tidur dalam satu ruangan yang sama tapi beda tempat tidur. Nur tidur sendiri dan aku tidur bersama si Kembar yang tidurnya berputar seperti jarum jam. Bahkan terkadang aku mengalah dan membiarkan Fariz dan Farissa menguasai tempat tidur.
"Aku rasa keputusan Kakak sudah benar. Lagipula ia adalah Ayah kandung dari Fariz dan Farissa." sahut Nur sambil memeluk guling nya dan menghadap ke arahku.
Aku terus memperhatikan cincin cantik yang masih melingkar di jari manisku. Sambil mengingat kejadian tadi siang, disaat Alessandro tiba-tiba saja melamar ku.
"Jika nanti aku menikah dengan Alessandro, apa kau masih mau ikut bersamaku, Nur?" tanyaku lagi,
Namun Nur tidak menjawab pertanyaan ku. Akupun menoleh ke arahnya dan ternyata Nur sudah tertidur bahkan ia sedang mendengkur pelan. Aku jadi tersenyum ketika melihat Nur tidur dengan mulut menganga. Kasihan dia, mungkin dia sangat kelelahan.
Setelah beberapa saat, akupun diserang kantuk yang amat sangat hingga akhirnya akupun tertidur.
❤❤❤
Seperti biasanya, pagi ini kami mulai bersiap membuka toko. Namun, baru saja aku selesai menata kue-kue di etalase. Aku sudah kedatangan tamu.
Seorang tamu yang sudah lama tidak pernah aku temui. Terakhir kali kami bertemu di Rumah Sakit. Saat aku menjenguknya setelah ia mengalami kecelakaan hebat bersama keluarga kecilnya.
"Hai, Ge! Apa khabar?" sapa EL sambil berdiri didepan pintu toko.
"Baik, silakan masuk EL." sahut ku sambil membiarkan ia memasuki Toko ku.
Aku juga mempersilakan dia untuk duduk disalah satu kursi pelanggan. Kemudian iapun duduk seraya berterimakasih padaku.
"Bagaimana kabar Bella dan Arini?" tanya ku basa-basi padanya.
EL tersenyum kecut, "Mereka baik, Arini terus menanyakan kabar mu, Ge. Mungkin dia merindukan dirimu." sahutnya,
"Syukurlah kalau mereka baik-baik saja. Ehm, ada perlu apa ya, EL?"
EL menghela nafas kemudian meraih tanganku dan memperhatikan cincin Alessandro yang melingkar di jari manisku. Dia bahkan memperhatikan tulisan di cincin tersebut.
"Jadi benar, AL sudah melamar mu?" ucapnya sambil tersenyum kecut padaku.
Akupun mengangguk, "Ya!"
EL menghembuskan nafas panjang, "Semoga kalian bahagia, Ge." sambungnya.
Aku masih memperhatikan EL, aku rasa dia sedang punya masalah. Namun ia sulit mengatakannya padaku.
"EL, sebenarnya ada apa? Ada yang bisa ku bantu?" tanyaku,
Tiba-tiba EL terisak, "Aku menyesal Ge, sungguh! Sebenarnya aku ingin kita bisa seperti dulu. Aku ingin kau dan aku kembali bersama..."
Aku menarik nafas panjang. Aku memang sudah melupakan semua kesalahan EL padaku. Namun untuk kembali lagi seperti dulu, aku rasa tidak mungkin.
"Maafkan aku, EL. Aku tidak bisa karena aku sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi padamu. Bahagia lah bersama Bella dan Arini. Mereka sangat membutuhkan mu." sahut ku sambil mengelus tangannya dengan lembut.
"Ge..." EL memelas padaku,
"Bukankah saat itu aku sudah memberikan pilihan untukmu, EL? Dan saat itu kau lebih memilih keluarga kecil mu. Kau tahu, tidak mudah melupakan seseorang yang kita cintai, begitupula aku. Aku berjuang keras untuk bisa melupakan mu dan memulai hidupku yang baru."
EL semakin terisak, "Maafkan aku, Ge."
Akupun tersenyum, "Aku sudah memaafkan semua kesalahan mu tapi aku tidak bisa kembali padamu seperti dulu. Tetaplah bersama mereka dan bahagiakan mereka..."
EL tersenyum kecut kemudian ia menyeka airmata nya. "Dimana anak-anak? Aku sangat merindukan mereka." ucapnya,
"Paling sebentar lagi mereka akan turun," sahut ku dan benar saja, Nur membawa Fariz dan Farissa turun dari lantai atas. Mereka berdua sudah terlihat cantik dan ganteng.
"Fariz! Farissa... Ayah EL kangen..." ucap EL sambil membentangkan kedua tangannya untuk menyambut Faris dan Farissa.
Namun entah kenapa Fariz dan Farissa diam saja, tak bergerak sedikitpun dari tempat mereka berdiri sambil memperhatikan EL. Mungkin EL sudah terlalu lama tidak menjenguk mereka hingga kedua bocah ku itu tidak lagi mengenalinya.
EL sadar, Fariz dan Farissa tidak ingin menghampirinya. Ia bangkit dan berdiri disampingku sambil tersenyum kecut.
Aku menepuk lembut pundaknya, "Kau sudah terlalu lama tidak menjenguk mereka, EL."
EL melangkah menghampiri Fariz dan Farissa kemudian memeluk tubuh mungil mereka. Fariz dan Farissa masih diam, mereka masih menatap wajah EL sambil keheranan.
Aku hanya berdiri sambil memperhatikan mereka. Namun betapa terkejutnya aku, tiba-tiba sebuah tangan melingkar dipinggang ku. Akupun segera menoleh dan ternyata Alessandro sedang berdiri disampingku.
"Alessandro?!
Alessandro tersenyum hangat dan ikut memperhatikan EL yang tengah bercengkerama dengan Fariz dan Farissa.
"Aku ingin mengajak mu bertemu Mami. Aku ingin membicarakan masalah pernikahan kita bersama Mami dan kamu tenang saja, Mami sudah merestui hubungan kita." ucap Alessandro
EL berpaling dan kedua kakak beradik itu kini saling bertatap mata. EL mendekat dan mengulurkan tangannya kepada Alessandro.
"Selamat ya, Alessandro..." ucap EL dengan wajah sendu,
Alessandro menyambut uluran tangan EL sambil tersenyum hangat.
"Terimakasih EL. Oh ya bagaimana kabar Bella dan Arini? Aku sudah lama tidak berjumpa dengan mereka." ucap Alessandro
EL sempat menatapku sebentar namun setelah itu ia kembali menatap Alessandro yang sedang berdiri di hadapannya.
"Mereka baik... Ehm, sepertinya aku harus kembali. Aku sudah terlalu lama meninggalkan butik ku." ucap EL,
EL pun segera keluar dari toko ku dengan wajah sendu. EL melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan menghilang dari pandangan ku.
"Daddy!" seru Fariz dan Farissa,
Alessandro segera menyambut mereka dan mengangkat kedua tubuh mungil itu kedalam dekapannya.
"Alessandro, apa hubungan mu dengan EL masih sama seperti dulu?" tanyaku
Alessandro tersenyum kecut, "Ya seperti itulah... Aku sudah mencoba memperbaiki hubungan kami tapi EL selalu menghindar dariku." sahut Alessandro
"Ge, ayo bersiap! Mami sudah menunggu kita di rumahnya." ucap Alessandro.
Aku sempat terdiam,
"Ehm, Alessandro... aku bersedia menikah denganmu tapi ada satu syarat." ucap ku
Alessandro mengerutkan keningnya, dia nampak berpikir. "Apa syaratnya?!"
"Aku ingin pernikahan kita dilaksanakan secara sederhana. Tidak ada wartawan atau apapun itu. Cukup kau, aku dan kerabat-kerabat kita. Aku tidak ingin berita tentang dirimu dulu kembali menjadi perbincangan. Aku sudah di cap sebagai pelakor dalam rumah tangga mu dengan Sarra. Dan jika mereka tahu kita menikah, maka mereka akan menyimpulkan bahwa apa yang dikatakan oleh Sarra itu benar!" ucap ku,
Alessandro sempat berpikir keras namun tidak lama setelah itu diapun mengangguk.
"Sebenarnya aku ingin pernikahan ini dilaksanakan secara meriah, Ge! Aku ingin memperlihatkan kepada semua orang bahwa kau adalah isteriku. Tapi jika kamu inginnya seperti itu, ya sudahlah... tidak masalah." sahut Alessandro
***
Maaf telat UP, hari ini author lagi gak mood mengetik dan mikir alur... 😩😩😩