Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
O M G


Sudah seminggu aku berada di kediaman Julian. Namun hubungan kami masih jalan ditempat, tidak ada kemajuan sama sekali. Walaupun sebenarnya Julian tetap bersikap baik padaku.


Hari ini Julian kedatangan seorang tamu. Tamu yang seringkali berkunjung ketempat ini. Selama seminggu aku disini, sudah beberapa kali dia berkunjung. Dia adalah Leo, sahabat Julian.


Lelaki tampan dan macho itu sekarang sedang berada didalam kamar Julian. Begitulah mereka. Setiap kali Leo berkunjung, Julian selalu mengajaknya masuk kedalam kamarnya. Entah apa yang mereka lakukan. Tapi kurasa mereka sedang bersenang-senang disana. Sering kali terdengar suara gelak tawa mereka berdua dari dalam ruangan itu.


Dan sekarang pun sama, mereka masih tertawa-tertawa didalam sana. Sedangkan aku masih duduk sendirian disini sambil memainkan ponsel ku.


Aku tengah berchatting ria bersama sahabatku, Ibra. Seorang lelaki keturunan Arab yang sudah lama menjadi sahabatku. Sebenarnya dia adalah sahabatnya Fariz, ketika masih duduk dibangku SMA. Namun karena seringnya aku dan dirinya bertemu dan merasa saling cocok, kamipun akhirnya bersahabat.


"Paket!!!"


Tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang Kurir pengantar barang didepan pagar rumah Julian. Bukan hanya sekali Kurir itu berteriak, meneriakkan kata PAKET, tapi sudah berkali-kali.


Mungkin Pelayan tidak mendengar teriakkan nya. Dengan terpaksa akupun bangkit dan melangkah menghampiri Kurir itu.


"Mbak, ada paketan atas nama Julian Alexander!" ucapnya sambil menyerahkan paketan itu kepadaku.


"Terimakasih!" sahut ku seraya meraih paket itu dan memperhatikan tulisan yang terpampang dipaket itu.


"Wig?!"


Ya, isi paket itu adalah sebuah Wig. Aku sempat mengerutkan kening ku setelah membacanya. Untuk apa Julian sebuah Wig? Ah, ya! Paling untuk menghiasi manekin-manekin cantik yang berjejer di butiknya. Mungkin...


Aku melangkah menuju kamar atas, kamar Julian. Dari dasar tangga sudah terdengar jelas gelak tawa mereka didalam sana, tawa Leo dan Julian. Satu demi satu anak tangga ku naiki hingga akhirnya kakiku berhenti tepat didepan pintu kamarnya.


Kulihat pintunya tidak tertutup rapat. Tanpa permisi aku masuk kedalam ruangan itu. Karena Julian adalah suamiku, aku merasa tak perlu meminta izin darinya hanya untuk sekedar memasuki ruangan itu.


Namun alangkah terkejutnya aku, bahkan paketan yang sedang ku pegang pun terjatuh begitu saja ke lantai. Aku melihat Leo sedang merengkuh pundak seorang wanita cantik mengenakan dress pendek, ketat yang membalut tubuhnya, berambut hitam panjang, bertubuh indah, kulitnya putih bersih dan tinggi semampai.


Aku bingung, sejak kapan wanita itu masuk ke ruangan ini? Bukankah semenjak Leo bertamu, aku hanya duduk di ruang utama tanpa bergerak sedikitpun dari tempat duduk ku?


Mereka masih tidak menyadari kehadiran ku dan aku sempat memperhatikan mereka yang tengah asyik ber live streaming ria didepan kamera sambil peluk-pelukan.


Tanpa sadar, aku menghampiri mereka dan menarik rambut wanita itu dengan keras. Karena ku rasa wanita itu sudah berani menyelinap masuk kedalam kamar suamiku.


"Dasar Wanita sialan! Berani-beraninya kamu masuk kedalam kamar suamiku!!!" hardik ku sambil menarik rambutnya dengan sangat keras.


Leo mencoba membantu wanita itu namun aku sempat menendang kakinya hingga ia mundur beberapa langkah kebelakang sambil memegangi kakinya yang sakit.


Tak cukup cuma di rambutnya saja, aku juga menarik dress ketatnya hingga robek. Wsnita itu masih menundukkan kepalanya tanpa mau menatapku. Padahal aku ingin sekali mencakar wajahnya yang tidak tahu malu itu, karena sudah berani-berani memasuki kamar suamiku.


Namun betapa terkejutnya aku ketika rambut panjangnya terlepas dari kepalanya dan ternyata itu hanya sebuah Wig yang memang terbuat dari rambut asli.


Tepat disaat itu, Leo memeluk tubuhku dari belakang. Dia mencoba menghentikan kebrutalan ku saat itu. Kini mataku tertuju pada mahluk bertubuh sempurna, yang masih tertunduk dilantai sambil menundukkan kepalanya.


Tiba-tiba tubuhku lemas, tulang-belulang ku terasa meleleh semua. Aku melepaskan pelukan Leo dari tubuhku kemudian berjalan menghampiri Seseorang yang masih terdiam di lantai.


"Julian!" ucap ku lirih sambil menatap sosok itu dengan tatapan kosong.


"Maafkan aku, Farissa..." sahutnya sambil terisak di lantai.


Aku menghela nafas panjang, kemudian bangkit dan perlahan melangkah mundur menuju pintu kamar.


Akhirnya orang itu mengangkat wajahnya. Dia menatapku dengan deraian airmata. Wajahnya yang begitu cantik tanpa cela, kini terlihat sangat menyedihkan.


"Farissa, tunggu!"


Aku tidak mempedulikan ucapan nya. Aku berlari dan meninggalkan ruangan itu. Dengan langkah cepat, aku menuruni anak tangga kemudian menuju halaman depan.


Julian mengejarku, namun dengan dress ketat yang sedang ia kenakan, ia kewalahan mengejarku. Ia terus berteriak memanggil-manggil namaku.


Namun aku tidak mempedulikannya. Aku terus berlari kemudian memasuki mobil ku dan segera melajukan nya. Julian hanya bisa menatap kepergian ku, sedangkan Leo terus mencoba menenangkan Julian yang terlihat kacau.


Aku menyeka airmata ku. Aku tidak ingin menangisi lelaki jadi-jadian seperti Julian. Aku menghabiskan waktuku dengan sia-sia karena hidup bersama mahluk dua alam seperti dirinya.


Aku meraih ponsel ku dari dalam saku dan mencoba menghubungi Ibra, sahabat ku. Aku butuh teman curhat sekarang. Aku butuh Ibra yang selalu setia mendengar ocehan ku kapan saja.


"Hallo, Farissa! Ada apa ya, tumben langsung menghubungi ku, biasanya cuma via chat!" goda Ibra sambil terkekeh pelan dari seberang telepon.


"Ibra, aku buruh dirimu! Aku ingin menceritakan sesuatu kepadamu!" ucap ku dengan terbata-bata karena menahan rasa sakit di hatiku dan menahan airmata ku tidak kembali jatuh.


"Farissa, kamu kenapa?! Kamu dimana sekarang? Kamu tunggu saja disana, aku akan segera menemuimu!" ucap Ibra cemas,


"Tidak usah, Ibra. Aku sedang di perjalanan menuju rumahmu." ucap ku seraya mematikan panggilan ku.


Pikiran ku benar-benar buntu sekarang. Aku tidak menyangka, ternyata inilah alasan Julian menikahi ku. Dia ingin menutupi jati dirinya. Dia ingin dianggap sebagai lelaki normal untuk menutupi dunianya sebagai seorang manusia beralam dua.


Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Sepertinya aku harus menuntut cerai dari nya. Aku tidak ingin menghancurkan masa depan ku dengan bertahan bersama mahluk seperti dirinya.


Akhirnya mobil yang ku kemudian tiba di halaman rumah Ibra. Dan ternyata lelaki itu sudah berdiri dengan wajah cemas di halaman rumahnya.


"Farissa, kamu tidak apa-apa?" ucap Ibra sambil tergesa-gesa menghampiri mobil ku.


"Aku ingin curhat denganmu, Ibra. Aku butuh yeman bicara sekarang!" sahut ku,


Ibra menuntun ku memasuki rumahnya kemudian mendudukkan aku di sofa ruang tamu.


"Ada apa, Farissa??" tanya Ibra sambil memperhatikan wajahku.


Sanggupkah aku mengatakan pada Ibra kalau suamiku yang baru saja menikahi ku ternyata seorang mahluk yang hidup didua alam?


***