Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Ditinggalkan di malam pertama


Akhirnya hari yang menegangkan itupun dilaksanakan. Aku harus bersanding dengan Julian disebuah pelaminan yang super duper megah, hari ini.


Julian terlihat sempurna dengan setelan jas berwarna hitam dan aku mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang dirancang khusus oleh Julian sendiri.


Ya, pernikahan kami dirayakan secara besar-besaran. Siapapun yang menyaksikan perayaan pernikahan kami, akan membelalakan matanya.


Semua orang nampak bahagia di acara pernikahan ini. Baik itu dari pihak ku maupun pihak Julian. Namun sayang, hatiku masih separuh-separuh dengan pernikahan ini.


Aku rasa pernikahan ini terlalu mendadak. Aku bahkan tidak tahu bagaimana sifat Julian yang sebenarnya. Dia memang terlihat baik dan sangat sopan dan semoga saja itu memang sifatnya yang sebenarnya.


Disaat aku dan Julian tengah menyambut para tamu undangan yang ingin mengucapkan selamat buat kami, tiba-tiba seorang laki-laki tampan menghampiri kami.


Lelaki itu tampan, bahkan bisa dibilang sangat tampan. Dia menghampiriku dan Julian seraya tersenyum hangat. Lelaki itu sempat menatapku namun hanya sebentar, ia kemudian kembali menatap Julian tajam sambil tersenyum manis.


"Selamat, Julian! Semoga kalian bahagia!" ucapnya seraya menggenggam tangan Julian dengan erat. Julian pun melemparkan senyuman manisnya kepada lelaki itu, namun kurasa senyuman mereka terlihat sangat aneh.


Tiba-tiba saja, Julian cium pipi kanan dan cium pipi kiri kepada lelaki itu seraya memeluknya. Aku syok saat itu, aku tidak percaya melihat adegan yang mereka ciptakan di depan mataku.


Mereka menatapku kemudian Julian meraih pinggang ku seraya memperkenalkan lelaki itu kepadaku.


"Farissa sayang! Kenalkan ini sahabat aku, namanya Leo." ucap Julian


Lelaki yang bernama Leo itu kemudian menghampiri ku sambil mengulurkan tangannya. Akupun menyambut uluran tangannya sambil tersenyum kecut.


Ini pertama kalinya aku melihat ada dua laki-laki yang berpelukan sambil cipika-cipiki seperti mereka walaupun alasannya mereka berdua bersahabat.


Setelah melihat adegan itu, entah kenapa terbesit kecurigaan di hatiku kepada Julian dan sahabatnya itu. Tapi aku berdoa, semoga saja itu hanya sebatas kecurigaan ku saja dan tidak lebih dari itu.


Aku mencoba menenangkan diri sambil menghela nafas dalam. Ku pandangi kedua orangtuaku, mereka nampak sangat berbahagia melihat aku bersanding bersama Julian. Begitupula kedua saudaraku, mereka tidak kalah bahagianya.


Hingga akhirnya, pesta itupun usai. Kini tiba saatnya aku pamit kepada kedua orangtua ku dan juga dua saudaraku.


Aku menghampiri Mama kemudian memeluknya sambil terisak. Mama mengelus punggung ku dengan lembut sambil menitikkan airmata bahagianya.


"Sudahlah, Sayang! Tidak usah bersedih. kamu kan masih bisa menjumpai kami semua. Lagipula tempat tinggal kalian tidak jauh dari rumah kita." ucap Mama menghibur ku.


Aku melepaskan pelukan Mama kemudian menghampiri Daddy dan memeluknya. Daddy hanya tersenyum sambil mengecup puncak kepalaku berkali-kali. "Daddy sayang Farissa!" ucap Daddy.


"Farissa Sayang Daddy!" sahut ku disela isak tangis ku.


Setelah memeluk Daddy kini aku memeluk saudara kembarku, Fariz yang juga berkali-kali melabuhkan ciuman hangatnya di puncak kepalaku. Namun tak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya. Dia hanya tersenyum sambil melepaskan pelukannya.


Dan terakhir adik bungsu ku, Fiona. Fiona memeluk ku sambil menangis histeris, "Kak Farissa, aku pasti akan merindukan mu karena aku tidak punya teman lagi untuk berdebat." ucapnya seraya melepaskan pelukannya.


Aku tertawa dalam tangis ku setelah mendengar perkataan Fiona. Bukannya merindukan aku karena hal lain, ternyata dia malah merindukan aku karena aku adalah teman berdebat nya.


"Dasar bocah aneh! Tuh ajak Kak Fariz untuk berdebat denganmu!" sahut ku sambil menyeka airmata ku.


"Sudah, sudah! Julian sudah menunggu mu, Farissa. Kasihan dia..." ucap Mama seraya menuntut ku kepada Julian yang masih setia menunggu ku.


Julian tersenyum kepada kami, "Tidak apa-apa, Ma. Aku masih bisa menunggu." sahutnya dengan sopan.


Namun Mama bersikeras menuntun ku kepada Julian dan menyerahkan aku kepada lelaki yang kini sah menjadi suamiku.


"Jaga Farissa ya, Julian. Mama sangat menyayanginya." ucap Mama kepada Julian.


"Tentu saja, Ma." ucap Julian seraya menyambut ku dan menuntun ku memasuki mobilnya. Setelah kami sama-sama masuk kedalam mobil, Julian pun segera menyuruh sopirnya untuk melajukan mobilnya ke Hotel XX, Hotel termewah yang ada dikota ini. Dan Hotel ini pulalah yang menjadi saksi malam pertama Daddy dan Mama.


Sama halnya seperti Daddy, Julian pun menyewa sebuah Suite Room untuk malam pertama kami. Setibanya disana, Julian menuntun ku memasuki kamar hotel yang begitu mewah. Bahkan ini pertama kalinya aku memasuki kamar hotel semewah ini.


"Farissa, kamu tunggu sebentar ya! Ada yang ingin ku ambil dibawah, sebentar saja!" ucap Julian seraya pergi dari kamar kami.


Kini tinggal aku sendirian dikamar ini. Detik berganti detik dan menit berganti menit. Bahkan sekarang jam sudah berganti jam, namun Julian masih tidak menampakkan batang hidungnya.


Aku mondar-mandir dikamar ini seperti orang gila menunggu kehadiran suamiku. Aku bahkan sudah melepaskan gaun pengantin dan juga sudah melakukan ritual mandiku.


Waktu sudah menunjukkan pukul 00.30, namun Julian masih belum kembali. Akupun sudah mencoba menghubungi nomor ponselnya berkali-kali namun ia terus menolak panggilan ku.


Tak terasa airmata ku pun jatuh dikedua pipiku. Aku tidak percaya Julian akan meninggalkan aku di malam pertama kami. Apa yang membuat dia melakukan ini kepadaku?


Apakah dia membenciku? Lalu kenapa dia menikahi ku? Atau... Julian punya niat lain menikahi ku? Semoga saja itu tidak benar.


Setelah bertarung dengan rasa kantuk ku, menunggu kedatangan Julian. Akhirnya akupun tertidur diatas tempat tidur yang nyaman serta mewah itu.


Keesokan harinya,


Setelah membuka mataku, ku coba mencari keberadaan suamiku. Ternyata Julian tidak juga menampakkan batang hidungnya. Rupanya tadi malam, ia tidak kembali dan membiarkan aku berada sendirian dikamar ini.


Aku bangkit dari tempat tidur ku kemudian segera menuju kamar mandi dan melakukan ritual mandi ku. Selesai mandi dan berpakaian, akupun segera berkemas. Aku ingin pulang kerumah ku jika Julian tak juga kembali pagi ini.


Aku benar-benar merasa ditipu oleh sifat baik Julian selama ini. Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh kedua orangtuaku ketika mereka mengetahui bahwa aku hanya dibohongi oleh lelaki itu.


Disaat aku tengah berkemas, tiba-tiba ponsel ku berdering. Aku segera meraihnya dan menerima panggilan itu.


"Farissa, aku sudah menunggu mu di lobby. Segera turun dan kita pulang!" perintahnya,


"Julian?!"


Belum sempat aku berkata-kata, Julian sudah menutup panggilannya.


***