Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Pulang Kerumah Orangtua


"Sekarang kita pulang, Kak! Kakak tidak pantas tinggal bersama lelaki jadi-jadian seperti dia!" hardik Fiona sambil menuntun ku untuk mengikutinya.


"Tidak, Fiona. Rumah Kakak disini, Kakak tidak mau pulang kerumah Daddy." sahut ku seraya menarik tanganku dari genggaman Fiona dengan perlahan.


"Tetaplah bersamaku, Farissa. Aku hancur tanpa mu..." ucap Julian sambil memelas.


Aku tidak tega melihat Julian yang memelas kepadaku. Dan tak terasa airmata ku pun kembali mengalir dikedua pipiku.


"Farissa, mari kita pulang. Daddy mu menyuruh kami untuk menjemput mu." ucap Ibra


"Tapi..." Aku masih berusaha menolak namun Fiona terus merengkuh tubuhku agar mengikutinya.


"Tidak bisa, Kak! Apa Kakak ingin Daddy sendiri yang menjemput Kakak kerumah ini, kemudian menghajar lelaki ini habis-habisan, itukah yang Kakak inginkan?!" sahut Fiona sambil terus menuntun ku untuk ikut bersamanya.


Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat. Aku tidak ingin Daddy ku menyakiti Julian.


"Tidak kan?! Makanya ikut lah bersama kami!" sahut Fiona lagi.


"Lepaskan aku, Fiona. Baiklah aku akan ikut kalian tapi biarkan aku bicara sama Julian sebentar saja." pinta ku,


Akhirnya Fiona melepaskan tanganku walaupun wajahnya masih terlihat masam. Ia pun mengijinkan aku untuk bicara kepada Julian.


"Baiklah, Kakak! Tapi sebentar saja."


Aku melangkah menghampiri Julian dan kini kami berdiri dengan posisi saling berhadapan.


"Julian..." ucap ku lirih,


Julian pun segera meraih tubuhku kedalam pelukannya. "Farissa, jangan tinggalkan aku..." ucap Julian disela isak tangisnya sambil mengelus rambutku dengan lembut.


"Julian, aku berjanji padamu. Aku tidak akan pernah meninggalkan mu tapi untuk sementara biarkan aku pulang. Aku akan menjelaskan semua ini kepada Daddy dan aku yakin Daddy pasti akan mengerti. Kita akan kembali bersama, Julian. Yakinlah..." ucap ku, menenangkan Julian yang masih terisak sambil memeluk tubuhku dengan erat.


"Baiklah. Aku percaya padamu, Farissa." sahut Julian sambil melepaskan pelukannya. Julian merapikan rambut ku yang berantakan akibat cengkeraman Leo kemudian mengecup kening ku dengan lembut.


Tiba-tiba Fiona menghampiri ku dan menarik tubuhku agar menjauh dari Julian. "Sudah cukup, Kakak! Sekarang kita pulang." ucap Fiona kemudian menuntun ku menuju halaman depan dimana mobil milik Ibra terparkir.


Julian pun mengantarkan kepulangan ku hingga ke halaman rumahnya. Airmata masih terlihat membasahi kedua pipinya dan sesekali Julian menyeka nya.


"Julian, buktikan dirimu layak mendapatkan Farissa. Berjuanglah dan aku siap membantu mu." ucap Ibra sambil menepuk pundak Julian.


Julian mengangguk pelan, "Terimakasih, Ibra." sahutnya.


Ibra pun segera memasuki mobilnya dan siap membawaku kembali ke kediaman Orangtuaku. Julian sempat melambaikan tangannya kepadaku sebelum Ibra melajukan mobilnya dan meninggalkan Julian yang masih termangu menatap kepergian kami.


Disepanjang perjalanan aku hanya bisa menangis meratapi nasib ku. Bagaimana tidak, disaat aku baru saja mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari Leo, sekarang aku harus dipisahkan dari Julian.


"Sudahlah, Kakak. Lupakan lelaki itu!" ucap Fiona sambil mencoba menenangkan aku.


"Kamu tidak akan mengerti, Fiona! Aku sudah habis-habisan memperjuangkan Julian untuk kembali menjadi lelaki seutuhnya dan sekarang dia sudah berubah. Percayalah padaku dan jika kamu tidak percaya, tanyakan hal itu pada Bian!" sahut ku kesal.


"Jelaskan hal itu pada Daddy, dan berdoalah agar Daddy mempercayai semua perkataan mu!" sahut Fiona ketus.


"Demi Tuhan, Farissa! Aku tidak pernah mengatakan hal itu. Dan jika seandainya aku ingin mengatakan kebenaran itu kepada Daddy mu mungkin sudah kulakukan sejak pertama kali kita mengetahuinya." sahut Ibra sambil melajukan mobilnya.


Aku tertunduk lesu. Aku merasa bersalah karena sudah menyalahkan Ibra. Dan apa yang dikatakan Ibra benar, tidak mungkin ia melakukan hal itu walaupun sebenarnya Ibra menyukai ku.


"Maafkan aku, Ibra." ucap ku lirih.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Sebenarnya aku curiga, jangan-jangan yang memberitahukan hal itu adalah Leo! Soalnya, semua informasi tentang kehidupan Julian begitu terperinci dan orang itu sangat mengenal Julian bahkan hingga kemasalah pribadinya." sambung Ibra


Aku mengangkat kepalaku kemudian menatap Ibra yang masih fokus menyetir mobilnya. "Apa maksudmu, Ibra?"


"Seseorang mengirimkan berkas-berkas tentang informasi kehidupan Julian yang sebenarnya bahkan lengkap dengan foto serta video-video menjijikkan hasil rekamannya menjadi seorang Mrs. Julia kepada Daddy." sahut Farissa.


"Benarkah?"


"Ya! Aku saja mau muntah setelah melihatnya apalagi Daddy dan Fariz! Daddy sangat marah karena merasa ditipu oleh Tuan Joseph dan juga Julian. Daddy tidak menyangka mereka akan menjebak mu menjadi istrinya hanya untuk menutupi statusnya yang sebenarnya!" sahut Fiona kesal.


"Sebenarnya Kakak ini kenapa sih, sudah tahu Julian itu banci kaleng, tapi masih saja menutupi kebusukannya dan memilih untuk bertahan bersama lelaki jadi-jadian itu?!" sambung Fiona lagi.


"Sudah Kakak bilang padamu, kamu tidak akan mengerti, Fiona. Kakak sudah terikat janji kepada Tuan Joseph untuk mengubah Julian menjadi dirinya seperti sediakala dan sekarang Kakak sudah menepati janji Kakak. Julian sudah berubah, dia bukan lagi seorang lelaki aneh dan diapun sudah berhenti menjadi Mrs. julia. Dia hanya Julian, hanya Julian, Fiona..." sahut ku lirih.


Fiona mendengus kesal dan melemparkan pandangannya kearah luar.


"Ibra, terimakasih sudah menyelamatkan aku dari Leo. Aku tidak tahu bagaimana nasib ku, jika seandainya kalian tidak datang tepat waktu, mungkin aku sudah hancur..." ucap ku kepada Ibra,


Ibra menoleh kepadaku sebentar sambil tersenyum hangat. Kemudian kembali berbalik dan fokus pada jalan.


"Sama-sama, Farissa. Mungkin insting Daddy mu sangat kuat hingga ia meminta kami untuk menjemput mu sekarang juga. Sedangkan saudara kembar mu, Fariz menolak menjemput mu karena dia takut tidak bisa menahan amarahnya kepada Julian." sahut Ibra.


Aku tersenyum tipis dan kini tatapan ku mengarah pada gadis cantik yang masih membuang pandangannya. Aku meraih tubuhnya kemudian memeluknya, "Terimakasih, Fiona. Kakak sayang padamu." ucap ku.


Akhirnya Fiona tersenyum padaku kemudian membalas pelukan ku. "Sama-sama, Kakak ku sayang! Aku juga menyayangi mu..." sahut Fiona.


Hingga akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Ibra tiba di halaman rumah orangtuaku. Ternyata kedatangan ku sudah ditunggu oleh kedua orangtua ku dan juga saudara kembali ku, Fariz.


"Sayang!"


Mama segera menghampiri ku dan memeluk tubuhku dengan erat. "Farissa, maafkan kami..." ucap Mama sambil terisak.


"Kenapa Mama meminta maaf padaku, Mama tidak salah apa-apa." sahut ku.


Mama melepaskan pelukannya dan menatapku dengan mata sembab. Bahkan airmata itu masih menggenang di pelupuk matanya dan siap meluncur. Aku yakin sekali Mama pasti habis menangis semalam karena Mama itu perasaannya sangat sensitif.


"Farissa, kami salah. Seandainya kami tidak meminta mu untuk menikahi Julian, mungkin ini tidak akan pernah terjadi." sahut Mama.


Aku terdiam, mereka bahkan belum tahu tentang kejadian tadi. Dimana Leo mencoba melakukan hal menjijikkan itu padaku. Bagaimana jika seandainya mereka tahu, aku yakin sekali mereka pasti tidak akan mengijinkan aku menemui Julian lagi.


...***...