Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Melinda


POV AUTHOR


Setelah perkelahian itu, Julian segera memanggil Dokter pribadinya untuk mengobati luka-luka di wajahnya. Dokter itu tertawa renyah ketika mendapati wajah Julian yang membiru akibat pukulan Leo.


"Kenapa kamu menertawakan aku, Dok?!" tanya Julian kesal.


Dokter itu menahan tawanya kemudian menepuk pundak Julian dengan pelan. "Aku bangga padamu, Julian! Akhirnya kamu bisa menunjukkan bahwa dirimu adalah laki-laki! Semalam aku dikejutkan dengan kehamilan istri mu dan hari ini aku dikejutkan dengan wajah mu yang babak belur akibat berkelahi." sahut Dokter itu.


Julian pun akhirnya terkekeh pelan ketika mendengar ucapan Dokter.


Dokter mulai mengobati luka-luka diwajah Julian kemudian memberinya obat untuk mengurangi rasa sakit yang masih ia dirasakan oleh Julian.


"Setelah ini, jangan berikan aku kejutan apapun lagi, ya Julian!" goda Dokter itu sambil terkekeh sebelum ia pamit.


Julian kembali tersenyum dan mengantarkan Dokter itu hingga kedepan Butiknya. Setelah Dokter itu pergi, Julian pun bergegas melajukan mobilnya kembali ke rumahnya dimana Farissa sudah menunggunya.


Namun di perjalanan Julian menghentikan mobilnya ketika melihat seseorang yang ia kenal sepertinya sedang kesusahan. Julian memarkirkan mobilnya ditempat yang aman kemudian ia keluar dan menghampiri seseorang itu.


"Mobil mu kenapa, Mel?" tanya Julian.


Wanita yang disapa Julian dengan sebutan Mel itu sempat terkejut dan segera menoleh kearah asal suara. Setelah mengetahui siapa yang sedang menghampirinya, wanita itu melemparkan sebuah senyuman hangat kepada Julian.


"Hai, Julian. Aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja mobil ku mati. Mana aku lagi buru-buru!" sahutnya dengan nada cemas sambil memperhatikan mesin mobilnya.


"Sini, biar aku lihat!" ucap Julian seraya menghampiri mobil wanita itu.


Julian mulai mengotak-atik mesin mobil milik wanita itu. Sedangkan wanita itu terus tersenyum hangat sambil memperhatikan perubahan tubuh Julian.


"Julian, bagaimana kabar mu?" tanya wanita itu.


Julian menoleh sebentar kearah wanita itu kemudian kembali fokus pada mesin mobil. "Baik." sahutnya singkat dan jelas.


Walaupun Julian adalah sosok lelaki kemayu yang fokus pada Fashion, namun ia pernah belajar mengotak-atik mesin mobilnya sendiri. Sebab itulah ia memberanikan diri mengecek mesin mobil wanita itu.


"Coba kamu hidupkan mobilnya," ucap Julian seraya membersihkan tangannya yang kotor terkena oli mesin dengan tissue yang ia raih dari dashboard di mobil wanita itu.


"Baiklah," Wanita itu segera masuk kedalam mobilnya kemudian mencoba menghidupkan mesin mobilnya.


Brumm, brummm...


Wanita itu sumringah saat mesin mobilnya berhasil dihidupkan. Begitupula Julian, dia senang bisa membantu wanita itu. Julian melangkah menuju mobilnya namun baru beberapa langkah, wanita itu kembali memanggilnya.


"Julian, tunggu!"


Wanita itu berlari kecil menghampiri Julian dengan membawa beberapa lembar tissu di tangannya. Julian menautkan kedua alisnya sambil menatap wanita itu. Wanita itu kembali melemparkan senyuman hangatnya kepada Julian dan tiba-tiba saja wanita itu menyentuh wajah Julian. Julian terkejut dan sempat memundurkan tubuhnya karena menolak disentuh oleh wanita itu.


"Tidak apa, Julian. Aku hanya ingin membersihkan wajah mu. Ada oli yang menempel di pipi mu." ucap Wanita itu.


"Sudah cukup, Mel! Aku tidak ingin ada yang melihat ini kemudian menyalah artikan sikap baik mu kepadaku." sahut Julian seraya meraih tangan wanita itu agar tidak menyentuh wajahnya.


"Julian, bolehkan aku bicara padamu sebentar? Ini tentang August, adikmu." ucapnya lagi.


Julian ingin sekali menolaknya namun tidak bisa karena wanita itu sudah duduk disampingnya.


"Sebaiknya cepat. Aku ingin segera pulang, Istriku sudah menunggu ku dirumah." sahut Julian.


Wanita itu tersenyum kecut, "Beruntunglah wanita yang kini menjadi istri mu, Julian. Karena kamu begitu memperhatikannya." sahut wanita itu dengan wajah sendu menatap Julian.


Julian tersenyum tipis, "Tentu saja aku memperhatikan istri ku, apalagi sekarang dia sedang hamil muda. Dia butuh perhatian ekstra dariku. Memangnya August tidak memperhatikan mu, Melinda?!" sahut Julian sambil memanas-manasi wanita yang pernah mengisi hatinya itu.


Melinda tertunduk lesu, "Aku menyesal, Julian. Maafkan aku karena aku sudah pernah membuat mu terluka. Dan sekarang aku mendapatkan karma atas perbuatan ku kepadamu. Apa kamu tahu, Julian? Ternyata selama ini August tidak bisa memberikan kau keturunan dan dia tidak pernah mau mengakuinya. Aku tertipu, Julian!" ucap Melinda sambil terisak memeluk tubuh Julian.


Julian sudah menduga hal itu. Tidak mungkin selama ini Melinda menunda kehamilannya untuk waktu yang cukup lama. Sudah beberapa tahun Melinda dan August bersama namun sampai sekarang mereka belum juga memiliki momongan.


Perlahan Julian melepaskan pelukan Melinda, wanita yang pernah menjadi orang istimewa sekaligus orang yang membuatnya hancur dan terpuruk.


"Sudahlah Melinda, sebaiknya kamu bicarakan masalah ini langsung dengan August. Lagipula, aku juga tidak bisa membantu mu karena ini masalah rumah tangga mu." sahut Julian.


Julian keluar dari mobil kemudian memutar dan membukakan pintu mobilnya untuk Melinda.


"Sebaiknya kamu pulang, aku tidak ingin ada yang melihat kita berdua disini dan menimbulkan kesalahan pahaman." sambung Julian.


Melinda pun keluar dari mobil Julian dengan penuh kekecewaan. Ia tidak menyangka Julian akan menolaknya. Padahal dulu Julian rela melakukan apa saja untuknya. Setelah Melinda keluar dari mobilnya, Julian kembali masuk dan segera melajukan mobilnya menuju kediamannya.


Sekarang di pikiran Julian hanya ada Farissa dan calon anaknya. Ia sudah tidak peduli baik itu Melinda maupun Leo yang berusaha menggoyahkan keteguhan hatinya.


Sesampainya di kediamannya, Julian bergegas menuju kamar. Namun betapa terkejutnya Julian, ternyata Farissa tidak ada didalam kamar. Julian mengedarkan pandangannya kemudian memanggil nama Farissa.


"Farissa, Sayang?!" panggil Julian.


Namun masih tak ada jawaban dan setelah Julian memeriksa ke kamar mandi, ia menemukan Farissa yang bersandar di dinding kamar mandi dengan wajah pucat pasi.


"Farissa, kamu kenapa?!" Julian panik sambik meraih tubuh Farissa yang lemah.


Farissa yang tadinya hanya menutup mata, perlahan membuka matanya dan ia tersenyum ketika melihat Julian sudah berada disampingnya.


"Julian... Aku lelah..." ucapnya lirih,


"Tenang, aku sudah disini, Farissa! Aku akan selalu menemani mu." sahut Julian seraya memeluk tubuh Farissa.


Farissa baru saja mengeluarkan seluruh isi perutnya hingga ia kehabisan tenaga. Inilah sebabnya mengapa Julian tidak ingin meninggalkan Farissa sendiri. Calon bayi mereka memang agak menyusahkan terutama untuk Farissa. Beruntung Farissa tidak pernah mengeluh sedikitpun. Dia selalu menikmati masa-masa kehamilannya walaupun hal itu sangat menyiksanya.


Julian mengangkat tubuh Farissa dan meletakkannya keatas tempat tidur. "Sekarang istirahat lah lagi. Aku akan selalu disini, bersamamu." ucap Julian.


...***...