
Alessandro bangkit dan mengikuti EL dari belakang. Aku segera menghampiri Alessandro namun aku tak bisa menahannya. Dia sangat marah dan menarik kemeja EL dari belakang.
EL berbalik dengan wajah memerah menahan amarahnya, menatap Alessandro. Begitupula Alessandro, dia tidak kalah marahnya kepada EL.
"Aku membiarkan mu menikahi Ge, karena aku kira Ge akan bahagia hidup bersama mu, EL! Ternyata aku salah, kau hanya menambah penderitaan nya! Dan sekarang lepaskan dia, aku akan menikahinya!" teriak Alessandro,
"Jangan mimpi, AL! Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum kesabaran ku habis!" bentak EL,
Aku kelabakan melihat kedua lelaki itu beradu mulut. Aku tidak ingin perkelahian mereka terulang lagi. Aku segera menghampiri Alessandro dan mengajaknya keluar dari rumah EL.
"Sebaiknya kamu pulang saja, Alessandro! Sepertinya suasana hati EL sedang tidak bagus..."
Dengan susah payah, aku menarik tubuh besar Alessandro dan membawanya hingga ke halaman depan.
"Pulanglah..."
Ucap ku sambil menyodorkan tissue kepadanya. Alessandro mengerti apa maksudku menyodorkan tissue itu. Ia segera membersihkan cream yang masih menempel di wajahnya.
"Ge, lepaskan EL dan kembalilah padaku. Aku akan batalkan kontrak ku kemudian kita hidup bersama, kau, aku dan kedua anak kita." ucap Alessandro,
Aku terdiam dan tidak menjawab perkataan Alessandro. Aku hanya memperhatikan wajahnya yang masih ada sedikit cream yang masih menempel di sudut bibirnya. Aku tidak mungkin membiarkannya, ku ambil selembar tissue dan ku bersihkan sudut bibirnya dengan tissue itu.
Alessandro tersenyum kepadaku. Namun karena aku masih ketakutan, aku tidak berani membalas senyuman nya. Tiba-tiba Alessandro mengambil beberapa tissue dan membersihkan cream yang juga masih menempel wajahku.
Aku sangat terkejut dan segera kuraih tissue di tangannya kemudian ku bersihkan sendiri wajahku seraya berlari meninggalkan nya.
Aku kembali menemui EL yang ternyata sudah masuk kedalam kamar. Aku melangkahkan kakiku dengan tergesa-gesa sambil membersihkan wajahku dengan menggunakan tissue yang ku ambil dari Alessandro.
Setibanya didalam kamar, kulihat EL sedang berdiri mematung sambil menatap jendela kaca yang tertutup tirai transparan dengan hiasan bunga berwarna Gold.
Aku mendekatinya, ku raih tangannya kemudian memeluknya. Ku lihat apa yang sedang diperhatikan oleh EL di jendela kaca itu. Ternyata dari jendela kaca itu, aku bisa memperhatikan halaman depan.
Tepat dimana Alessandro memarkirkan mobilnya. Aku membelalakan mataku. Mungkinkah tadi EL tengah memperhatikan aku dan Alessandro.
Aku kembali menatap wajah EL yang masih terlihat masam menatap pemandangan diluar jendela.
"EL..."
"Apa kamu masih mencintai Alessandro?!" potong EL,
Ia bahkan masih menatap kosong keluar jendela ketika menanyakan hal itu kepadaku. Aku yakin dia kembali salah paham kepadaku.
"EL, aku hanya mencintai mu..." jawabku,
Dulu aku mempertanyakan tentang perasaannya terhadap Bella dan sekarang dia yang menanyakan perasaan ku terhadap Alessandro.
Dia tersenyum sinis setelah mendengar jawaban dariku. Apa mungkin Ia tidak mempercayai kata-kata ku tadi?
"EL, sebenarnya apa yang terjadi padamu. Kamu berubah EL. Kamu tidak seperti dirimu yang dulu lagi..."
Aku memelas padanya, namun apa yang kudapatkan? EL meninggalkan aku dan masuk kedalam kamar mandi kemudian menguncinya.
Aku duduk di tepi tempat tidur sambil menunggu EL keluar dari kamar mandi. Dan tidak berselang lama, EL keluar dengan aroma wangi yang menyeruak dari tubuhnya.
Aku tersenyum kemudian mendekatinya. EL menatapku namun tak ada senyuman sedikitpun di wajahnya. Sebegitu marahnya kah ia padaku.
"EL, Maafkan aku..."
Aku melupakan ego ku dan meminta maaf padanya walaupun aku tidak tahu apa salah ku kepadanya.
EL masih tidak mempedulikan ku, ia membuka lemari pakaian dan mengambil kemeja serta celananya.
Aku terus memperhatikan dirinya hingga ia selesai mengenakan pakaiannya. Dia terlihat sangat keren dan tampan.
"Kamu mau kemana, EL?"
Ucap EL sambil merapikan kerah kemejanya dan menatap bayangan nya didalam cermin.
"Arini atau Bella?" sahut ku,
Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba saja aku mengatakan hal itu sambil menitikkan airmata ku. Entah mengapa hatiku kembali terusik. EL berbalik dan kini ia menghadap ku,
"Sudah cukup, Ge! Kamu sengaja kan membawa-bawa nama Bella dalam hubungan kita agar hubungan mu dengan Alessandro tertutup dengan sempurna? Kamu itu licik..."
EL menjauhi ku dan ketika ingin membuka pintu kamar, ia kembali bicara tanpa menoleh padaku.
"Aku akan pulang larut. Kau tidur saja dan tidak perlu menunggu ku!" ucapnya
EL menutup pintu dengan keras kemudian pergi meninggalkan aku yang masih terisak dalam kamar sendirian.
Hatiku sakit, bagai dihujam ribuan pisau tajam. Kulihat dari balik tirai jendela kaca, EL melajukan mobilnya dan meninggalkan halaman rumahnya.
💔💔💔
Apa yang diucapkan oleh EL ternyata benar. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 01.00 malam, namun ia tidak juga kembali. Akhirnya akupun menyerah dan kembali ke kamar untuk segera tidur.
Keesokan harinya,
Aku dan si Kembar sudah bersiap menunggu Alessandro. Dia akan berangkat hari ini dan kami akan mengantarkan nya ke bandara.
Tin... Tiiinn...!!!
Akhirnya mobil Alessandro tiba di halaman rumah. Aku dan Nur bergegas menuju halaman dan menghampiri Alessandro berdiri disamping mobilnya.
Dia tersenyum dan entah mengapa aku merasa dia terlihat sangat tampan hari ini. Alessandro segera meraih Fariz dan Farissa dan meletakkannya di kursi belakang.
Ternyata Alessandro tidak sendiri. Ada seorang wanita cantik yang duduk di kursi belakang. Wanita cantik itu tersenyum sambil melambaikan tangannya padaku.
"Hai, Ge!" sapa Wanita itu.
Akupun membalas senyuman nya, "Hai!"
Alessandro tersenyum padaku kemudian ia memperkenalkan aku dengan Wanita cantik itu.
"Ini Fania, adik perempuan ku." ucap Alessandro,
Aku tersenyum lebar, ternyata Wanita cantik itu adalah adik perempuannya. Pantas saja wajahnya agak mirip-mirip sama Nyonya Liliana, Mami EL dan Alessandro.
"Hai Fania, senang berkenalan denganmu."
Aku mengulurkan tanganku kepada Fania dan diapun menyambut uluran tanganku.
"Aku juga! Tidak salah kalau kedua kakak lelaki ku memperebutkan dirimu, Ge! Ternyata kamu memang cantik..." ucap Fania sambil tersenyum simpul.
"Fania!" Alessandro segera menyambar perkataan adiknya dengan memasang wajah masam.
"Ayo, Ge!"
Alessandro mengajakku masuk kedalam mobilnya. Aku duduk disamping Alessandro yang memegang setir mobilnya sedangkan Fania duduk dibelakang menemani Fariz dan Farissa.
"Bye, Fariz! Bye Farissa!!"
Nur melambaikan tangannya, kini ia sendiri dirumah sambil menunggu kedatangan EL. EL tidak pulang semalam. Mungkin ia kembali menginap di rumah Bella. Dan biarkan ia marah besar hari ini karena aku tidak menunggu kepulangannya.
Bukankah ia memang meminta aku untuk tidak menunggunya. Dan sekarang aku memang tidak akan menunggu kepulangannya lagi.
***
Hari ini otak otor lagi mulus jadi bisa kasih dua BAB, kalo esok entahlah... hihihi 😂🙏✌