Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Masih Dirumah Mama


"Masuklah, Nak." ajak Daddy


Kini Daddy yang menuntun ku masuk kerumah. Aku melangkah bersama Daddy menuju ruang utama, sedang Mama, Fiona, Fariz dan Ibra berjalan dibelakang kami.


"Duduklah, Sayang..." ucap Daddy sambil mendudukkan aku di sofa. Aku masih menundukkan kepalaku, aku bingung bagaimana caranya menjelaskan kepada Daddy agar Daddy mengerti bahwa Julian sudah berubah. Julian bukan lagi lelaki jadi-jadian seperti dulu.


Daddy menghampiri ku kemudian berjongkok tepat dihadapan ku.


"Farissa, maafkan Daddy... Jika seandainya Daddy tahu Julian hanya memanfaatkan dirimu seperti ini, mungkin Daddy tidak akan menerima lamaran Tuan Joseph saat itu. Daddy tidak menyangka ternyata Tuan Joseph begitu tega membohongi Daddy padahal Daddy sudah menganggap Tuan Joseph seperti saudara Daddy sendiri..." ucap Daddy sambil memperhatikan wajahku yang masih tertunduk.


"Daddy, sebenarnya aku sudah mengetahui hal itu beberapa hari setelah pernikahan kami. Dan Tuan Joseph memang terkesan sangat jahat karena sudah membohongi kita dengan menutupi kebenaran tentang Julian. Tapi Tuan Joseph punya alasan melakukan hal itu, Dad. Tuan Joseph ingin Julian kembali seperti dulu. Tuan Joseph ingin aku membantunya untuk mengubah Julian menjadi lelaki normal. Dan aku sudah berjanji padanya, Dad." tutur ku


Daddy tersenyum sinis padaku, "Memang kamu pikir mengubah seseorang seperti Julian itu mudah? Tidak semudah yang kau bayangkan, Farissa! Ya, dia mungkin bisa menutupi kebohongannya dengan cara mengikuti semua kemauan mu. Ikut Gym, beladiri dan sebagainya, agar kamu percaya bahwa dia sudah berubah. Tapi kamu tidak tahu apa yang ada dihati dan diotak lelaki kemayu itu! Dengan sekejap mata, ia bisa kembali menjadi dirinya lagi, seorang waria!" sahut Daddy.


Aku kembali terisak, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya meyakinkan Daddy.


"Tapi aku mencintainya, Dad..." ucap ku disela isak tangis ku.


"Ya Tuhan, Farissa! Bagaimana bisa kamu jatuh cinta pada laki-laki seperti dirinya?!" hardik Daddy,


Melihat Daddy meradang, Mama segera menghampiri Daddy kemudian memeluknya. "Sudahlah, Sayang! Farissa sedang hamil, apa kamu sudah lupa? Ada cucu kita didalam kandungannya." ucap Mama sambil mencoba menenangkan Daddy.


"Tapi, Ge! Oh, astagaaaa! Aku bahkan sampai lupa bahwa Farissa sedang mengandung anak dari Waria itu!" ucap Daddy semakin geram. Ia bahkan mengacak-acak rambutnya dengan kasar.


"Sudahlah, Alessandro ku sayang! Bisakah kamu tenang sebentar saja!" Mama pun ikut emosi ketika melihat Daddy yang semakin tidak bisa mengontrol emosinya.


"Baiklah, Daddy sudah putuskan. Daddy akan mengurus surat perceraian kalian secepatnya. Dan sejak hari ini, kamu tidak boleh lagi menemuinya. Biarkan anak dalam kandungan mu bersama kita. Kita akan mengurusnya bersama-sama dan jangan biarkan lelaki itu menemui anaknya, aku tidak ingin cucu ku menjadi Waria sama seperti dirinya!" ucap Daddy.


Aku mengangkat kepalaku dan menatap Daddy yang masih memasang wajah marah.


"Tapi, Dad?!"


Mama segera menghampiri ku dan mengajakku untuk mengikutinya.


"Sudahlah, Farissa sayang! Dengarkan saja Daddy mu. Sebaiknya kita ke kamar, kamu harus banyak istirahat. Tidak boleh banyak pikiran nanti tidak baik untuk kandungan mu."


"Tapi, Ma?!"


Mama terus menuntun ku menuju kamar, meninggalkan Daddy yang masih marah-marah.


Sesampainya dikamar, Mama membawaku menuju tempat tidur kemudian mendudukkan aku disana.


"Farissa, biarkan Daddy mu meluapkan amarahnya untuk saat ini. Nanti jika amarahnya sudah reda, kita bisa membujuknya lagi." ucap Mama seraya merengkuh tubuhku kedalam pelukannya.


"Apa kamu yakin sama perasaan mu pada Julian?" sahut Mama sambil mengerutkan alisnya.


Akupun mengangguk cepat, "Ya, Mah! Farissa sangat yakin. Dan Mama harus percaya padaku bahwa Julian sudah berubah, Ma! Dia benar-benar sudah berubah." sahut ku.


Mama tersenyum, walaupun itu bukanlah senyuman terbaiknya. Namun itu sudah cukup membuat ku tenang. Mama kembali memeluk tubuhku dengan erat sambil sesekali melabuhkan ciuman di puncak kepalaku.


"Mah, Julian sangat membutuhkan Farissa saat ini. Farissa takut terjadi apa-apa kepadanya..." ucap ku lirih.


Mama menghela nafas panjang, "Yakinlah, Farissa. Suami mu pasti akan baik-baik saja. Sekarang jangan pikirkan apapun lagi. Pikirkan saja Bayi mu, cucu Mama yang sedang tumbuh di rahim mu." sahut Mama.


Tiba-tiba aku teringat kejadian tadi siang, dimana Leo ingin menghancurkan hidup ku. Aku belum sempat membersihkan diriku setelah disentuh oleh lelaki menjijikkan itu. Dan itu membuat aku ingin segera menuju kamar mandi untuk merendam tubuhku kedalam Bath Up.


"Mah, aku ingin membersihkan diriku sebentar." ucap ku.


Mama pun mengangguk pelan sambil tersenyum padaku. "Sudah sana, bersihkan dirimu. Kamu sudah terlihat berantakan sekali." sahut Mama.


Mama belum tahu saja apa yang membuatku terlihat berantakan seperti ini. Seandainya Mama tahu apa yang sudah terjadi pada ku tadi siang, mungkin Mama tidak akan pernah mendukung ku bersama Julian. Mama pasti akan mendukung Daddy. Ya, aku yakin baik Daddy ataupun Mama akan menganggap ini semua karena kesalahan Julian. Seandainya Julian tidak memilih ku sebagai istrinya mungkin Leo tidak akan pernah menaruh dendam kepadaku.


Aku bergegas menuju kamar mandi kemudian segera mengisi Bath Up. Aku ingin merendam tubuhku yang terasa sangat kotor karena sentuhan lelaki menjijikkan itu.


Setelah Bath Up terisi, aku segera menanggalkan seluruh pakaian ku kemudian masuk kedalam Bath Up. Aku melihat ada beberapa tanda merah di tubuhku akibat ulah Leo. Aku jijik dan kejadian memalukan itu kembali terlintas di pikiran ku dengan sangat jelas.


Aku terisak sambil menggosok tanda merah itu dengan spon. Aku berharap tanda merah itu segera hilang walaupun aku tahu itu tidak mungkin.


Semoga saja setelah ini Leo mendapatkan hukuman yang setimpal. Hingga membuat dia jera dan tidak akan mengganggu kehidupan ku dan Julian lagi.


Setelah puas merendam tubuhku ,aku segera kembali ke kamar dan berpakaian. Beruntung pakaian ku masih banyak didalam lemari.


"Kak Farissa..."


Tiba-tiba Fiona masuk kedalam kamar ku sambil tersenyum hangat.


"Fiona, malam ini temani Kakak tidur ya. Kakak butuh teman!" ucap ku kepada Fiona.


"Idihhh... tumben! Biasanya Kakak menolak tidur bersamaku. Apa Kakak tidak takut aku tendang?! Kan Kakak bilang aku tidurnya seperti jarum jam yang berputar." sahut Fiona.


Aku terkekeh mendengar perkataannya. Memang benar, aku sebenarnya enggan tidur bersama Fiona yang tidurnya seperti jarum jam berputar. Namun aku tidak punya pilihan lain. Aku butuh Fiona untuk menenangkan aku, aku yakin sekali tidurku pasti akan terganggu lagi seperti kemarin.


...***...