Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Digerebek Polisi


Karena Julian kebakaran jenggot, akhirnya jalan-jalan ku batal. Dan Ibra pun mau tidak mau, harus kembali ke rumahnya.


Julian masih saja menggerutu ketika mobilnya masih melaju. Dan tepat disaat itu, ponsel ku berbunyi. Aku segera meraihnya dari dalam tasku kemudian menerima panggilan itu.


"Ya, Ibra?"


"Hai Farissa! Julian tidak menyakiti mu, kan? Jika dia macam-macam padamu, katakan saja padaku. Biar aku kasih pelajaran lelaki menyebalkan itu!" sahut Ibra dari seberang telepon.


Aku terkekeh ketika mendengar kata-kata Ibra. "Tidak kok, kamu tenang saja. Dia tidak akan..."


Tiba-tiba saja ponsel yang sedang ku genggam direbut paksa oleh Julian.


"Jangan ganggu istri ku! Kau dengar itu, Ibra?!" teriak Julian.


Julian mematikan panggilan di ponselku kemudian mengembalikan ponsel itu dengan kasar kepadaku.


"Jangan pernah berhubungan dengannya lagi, Farissa! Hormati aku! Aku adalah suami mu!" bentak Julian.


"Dan ini?! Kau lihat pakaian yang sedang kamu kenakan? Kamu menampakkan seluruh aurat mu kepada lelaki itu! Seharusnya kamu berpakaian seperti itu hanya untukku, bukan untuk laki-laki lain!" sambungnya dengan emosi yang berapi-api.


Aku tersenyum sinis kepadanya seraya menyimpan kembali ponsel ku.


"Paling tidak, Ibra masih berhasrat ketika melihatku mengenakan pakaian ini. Daripada dirimu, yang lebih berhasrat ketika melihat tubuh macho dengan perut six pack!"


Hah, aku sudah bosan bersikap manis kepada lelaki dua alam ini. Walaupun perkataan ku menyakitkan, paling tidak apa yang ku katakan itu adalah suatu kebenaran.


Julian terlihat sangat marah padaku, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Julian, apa yang kamu lakukan?! Apa kamu ingin kita mati?!" teriak ku,


Aku ketakutan karena Julian melajukan mobilnya bak seorang pembalap. Wajahnya yang masih memerah menandakan lelaki itu benar-benar marah padaku.


Julian terus melajukan mobilnya seperti seorang pembalap terkenal. Astaga, aku sampai berkeringat dingin, aku takut sesuatu terjadi pada kami karena kecerobohan Julian.


"Julian, berhenti! Ku mohon..." ucap ku sambil memelas.


Jujur, saat ini aku ingin menangis karena ketakutan. Namun lelaki dua alam itu tetap tidak menghiraukan aku yang sudah ketakutan setengah mati.


Hingga akhirnya ia menghentikan mobilnya di jalanan yang cukup sepi. Julian beranjak dari mobilnya dan membanting pintu mobil dengan sangat keras. Setelah itu ia menghampiri pintu mobil disampingku dan membukanya dengan kasar.


"Sekarang keluar kamu!"


Julian menarik tanganku dengan kasar kemudian menyandarkan tubuhku disamping mobilnya.


"Kau belum tahu siapa aku, Farissa! Baiklah akan ku beritahu siapa aku yang sebenarnya..."


Mendadak Julian melepaskan pakaiannya dengan kasar hingga terlihatlah dada mulus dan putih tanpa bulu itu.


Julian menghampiri ku dengan wajah yang sangat mengerikan bagiku. Semakin dekat dan semakin dekat dan akhirnya ia melabuhkan sebuah ciuman di bibirku dengan sangat kasar dan beringas.


Aku mencoba menghindar tapi tidak bisa, Julian menahan tubuhku dengan tubuhnya. Ia benar-benar mencumbui ku dengan sangat kasar. Bahkan dress pendek yang ku kenakan sudah terangkat semua.


"Lepaskan aku, Julian bodoh!" hardik ku,


Bukannya melepaskan aku, dia malah semakin beringas saja. Julian membuka pintu mobil bagian belakang dan memasukkan aku kedalam sana.


Aku masih shok dengan perlakuannya, sedangkan dia semakin bernafsu saja. Dia ikut masuk dan kembali mencumbui ku namun kali ini ia melakukannya dengan lembut berbeda dari sebelumnya.


Namun disaat dia masih asik mencumbui ku, sebuah mobil polisi yang sedang melakukan patroli menghampiri mobil Julian.


Seorang Polisi keluar dari mobilnya kemudian memperhatikan mobil yang sedang kami tumpangi.


Ah! Bodohnya Julian! Dia masih saja asik menguasai diriku sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa seorang polisi tengah menghampiri mobilnya.


Tok... Tok... Tok!!!


Polisi itu mengintip dari balik kaca mobil kemudian mengetuknya dengan keras.


"Heh, pasangan mesum! Keluar kalian..." perintah Polisi itu.


Julian kaget, ia segera menoleh kearah Polisi itu. Setelah menyadari kedatangan Polisi itu, Julian membulatkan matanya.


"Astaga, apa ini!" ucap Julian seraya melepaskan tubuhku dan perlahan membukakan pintu mobilnya.


Beruntung saat itu Julian belum melepaskan celananya. Sambil mengenakan bajunya kembali, Julian menghampiri Polisi yang nampak marah. Akupun segera merapikan dress mini ku yang berantakan karena ulahnya dan perlahan keluar dari mobilnya.


Salah satu polisi lainnya turut menghampiri kami. Ia memperhatikan penampilan ku dan juga Julian dari atas kepala hingga ujung kaki.


"Apa yang kalian lakukan disini?!" ucap Polisi itu penuh selidik.


"Kalian pasti pasangan mesum, ya?!" sambung yang lainnya.


Astaga! Aku ingin tertawa sekaligus menangis mendengar kata-kata Pak Polisi. Bagaimana tidak, kedua Polisi itu menganggap kami adalah pasangan mesum.


"Tidak, tidak, Pak! Ini salah paham. Kami bukanlah pasangan mesum. Dia istri saya, Pak! Kami sudah menikah." sahut Julian mencoba menjelaskan kepada kedua Polisi itu.


"Hah, semua orang juga pasti mengaku seperti itu ketika digerebek! Sekarang mana buktinya kalau kalian adalah pasangan suami istri?!" hardik salah satu Polisi.


"Ada, Pak! Kami punya Buku Nikah tapi semuanya tertinggal dirumah." sahut Julian sambil tertunduk.


"Hah, alasan! Sekarang ikut kami ke kantor dan jelaskan semuanya disana!" kata Polisi itu seraya mendorong tubuh Julian.


"Aku bersumpah, Pak! Tunggu sebentar, aku akan suruh Sopir ku untuk mengantarkan Buku Nikah kami." sahut Julian lagi.


"Tidak bisa, kalian harus tetap ikut kami! Biarkan Sopir mu mengantarkan ke Kantor." perintah kedua Polisi itu.


Akhirnya aku dan Julian digiring ke Kantor Polisi. Julian pusing tujuh keliling, sudah beberapa kali ia menggaruk kepalanya dengan kasar.


"Ini semua gara-gara kamu!" ucap Julian,


Aku membulatkan mataku ketika mendengar Julian menyalahkan aku. "Ih, kamu benar-benar sudah gila! Bukannya kamu yang main nyosor dan sekarang malah aku yang disalahkan." sahut ku,


Julian hanya bisa mendengus kesal kemudian membuang pandangannya.


Setibanya di Kantor Polisi, kami kembali diinterogasi layaknya pasangan mesum yang sebenarnya. Namun tidak lama setelah itu, Sopir Pribadi Julian datang dengan membawakan Buku Nikah kami.


Setelah melihat Buku Nikah kami, Kedua Polisi itupun bersedia melepaskan kami.


"Pak, lain kali jangan melakukan hal itu lagi. Masih mending pihak kami yang menggerebek kalian. Yang dikhawatirkan jika seandainya yang menggerebek kalian adalah warga sekitar, bisa-bisa kalian menjadi bulan-bulanan warga." ucap salah satu Polisi.


Aku menatap Julian yang saat itu terlihat serba salah. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum kecut.


Akhirnya kamipun pamit dengan perasaan malu yang luar biasa akibat kelakuan Julian.


...***...