
Aku masih disini, di kediaman Julian. Aku menunggunya untuk menuntut cerai tapi sepertinya Julian tidak berkeinginan untuk menceraikan aku.
Dan sesuai ucapan ku kemarin, aku tidak ingin mempedulikan dirinya lagi. Terserah dia mau melakukan apapun bersama Leo, aku sudah tidak peduli.
Dalam beberapa hari ini, Leo semakin bebas keluar masuk rumah ini. Seakan rumah ini adalah miliknya. Dan aku tau apa maksud dari kedatangannya, apalagi kalau bukan soal uang.
Ya, jika dia bisa bebas bersama Leo. Akupun bisa bebas bergaul dengan siapapun. Seperti hari ini, Ibra berjanji akan menjemputku. Dia akan mengajakku jalan-jalan bersamanya. Lagipula aku juga butuh refreshing, karena otakku sudah terlalu pengap akibat memikirkan hubungan rumit ku bersama lelaki kemayu itu.
Aku memakai pakaian terbaik ku dan berhias secantik mungkin. Setelah beres, aku segera melangkah menuju halaman depan untuk menunggu Ibra menjemputku.
Ketika aku melewati ruang utama, kulihat Leo dan Julian tengah berbincang disana dengan sangat serius. Aku sempat memperhatikan mereka tetapi hanya sebentar saja. Aku sudah tidak ingin mencampuri urusan mereka lagi.
Aku terus melangkah tanpa mempedulikan Julian yang sejak tadi menatapku tanpa berkedip.
"Mau kemana kamu dengan pakaian seperti itu, Farissa?" sapa Julian.
Aku menghentikan langkah ku kemudian berbalik. Julian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri ku.
Julian terus memperhatikan penampilan ku hari ini. Ya, aku memang sengaja memakai pakaian seksi. Aku ingin membuktikan wanita itu lebih menarik daripada lelaki bertubuh macho itu kepada suami kemayu ku yang keras kepala ini.
"Aku ingin jalan-jalan bersama Ibra." sahut ku enteng sambil tersenyum hangat kepadanya.
Julian mengerutkan keningnya kemudian menatapku tajam, "Ibra? Siapa Ibra?!" tanyanya.
Aku melebarkan senyum ku kemudian mendekatkan wajahku ke samping telinganya, "Ibra itu sudah seperti TTM untukku. Tau TTM? Teman Tapi Mesra!" ucap ku sambil mendesis di telinga Julian.
Wajah Julian memerah. Sepertinya ia sangat marah padaku. Tapi aku tidak peduli, semakin ia marah padaku, semakin aku bersemangat untuk memanaskan suasana hatinya.
"Aku tidak mengijinkan mu, Farissa!" ucap nya kesal.
Tiba-tiba dari luar terdengar suara klakson berbunyi. Aku yakin suara klakson itu adalah suara klakson mobilnya Ibra.
"Nah, itu dia! Aku berangkat dulu ya, Julian. Selamat bersenang-senang!" ucap ku seraya pergi meninggalkan Julian yang terlihat sangat emosi kepadaku.
"Farissa, tunggu!" teriak Julian
Julian ingin mengejar ku namun ditahan oleh Leo.
"Biarkan saja dia, Julian! Bukankah sudah ku bilang, Farissa itu bukan gadis yang baik!" sahut Leo.
Cih! Brengsek si Leo! bisa-bisanya dia mengatakan hal itu kepada Julian. Padahal dirinya lah yang bukan lelaki baik-baik.
Aku tidak mempedulikan mereka dan terus melangkah menuju halaman depan. Setibanya disana, ternyata benar, Ibra sudah menunggu ku didepan pagar Julian. Ibra terlihat sangat keren, ia bersandar disamping mobilnya sambil tersenyum padaku.
Ketika aku menghampiri Ibra, Julian kembali meneriaki ku.
"Farissa, aku bilang berhenti! Aku tidak mengijinkan mu pergi, apalagi dengan laki-laki itu!" seru Julian.
Aku pura-pura tidak mendengar. Aku terus melangkah menghampiri Ibra. Ketika aku sudah berada dihadapan Ibra, aku nekat memeluk dan mencium pipi kanan dan pipi kiri Ibra.
Ibra sempat terkejut karena aku tidak pernah melakukan hal ini kepadanya. Namun sepertinya Ibra tidak keberatan dan ia mengerti mengapa aku melakukan hal itu kepadanya. Ibra mengikuti permainan ku, ia meletakkan kedua tangannya ke pinggul ku sambil tersenyum hangat.
Setelah itu Ibra mengajakku memasuki mobilnya seraya melambaikan tangan kepada Julian yang berlari mengejarku. Namun dia terlambat, aku sudah berada didalam mobil dan Ibra pun segera melajukan mobilnya.
"Farissa, tunggu!"
"Sebenarnya ada masalah apa, Farissa?" tanya Ibra kepadaku.
Aku menelan saliva ku kemudian menatap kosong kearah luar.
"Aku sedang kesal sama Julian. Dia sudah berjanji akan berubah untukku tapi sampai sekarang dia bahkan tidak pernah berusaha untuk berubah." sahut ku,
Tiba-tiba Ibra menggenggam tanganku dengan erat. Aku segera menoleh kepadanya dan ternyata Ibra tersenyum kepadaku.
"Aku bersedia menggantikan posisi Julian untukmu, Farissa."
Aku terdiam, aku tahu sejak dulu Ibra menyukai ku lebih dari sekedar sahabat. Tapi aku hanya menganggapnya sebagai sahabat dan tidak lebih dari itu.
Disaat aku dan Ibra tengah terdiam dengan pikiran kami masing-masing, tiba-tiba saja sebuah mobil menyalip dan berhenti tepat didepan mobilnya Ibra.
Aku mengenali mobil itu. Mobil sport berwarna hitam itu adalah miliknya Julian. Dan benar saja, Julian keluar dari mobil itu sambil membanting pintu mobilnya dengan keras.
"Farissa, keluar!" ucapnya seraya berdiri tepat didepan mobil Ibra.
Julian bahkan memukul-mukul kaca depan mobil Ibra dengan keras, beruntung kacanya tidak pecah.
Aku dan Ibra bersamaan keluar dari mobilnya. Setelah melihatku keluar dari mobil, Julian yang sudah sangat emosi itu segera menghampiri ku dan menarik tanganku dengan kasar menuju mobilnya.
"Kita pulang!" seru Julian.
"Lepaskan aku, Julian!"
Aku berusaha melepaskan genggaman tangannya tapi sepertinya usaha ku sia-sia saja. Walaupun ia lelaki kemayu tetapi kekuatannya tetap seorang laki-laki.
Ibra pun tidak tinggal diam, ia menghampiri Julian dan menepis tangan Julian yang mencengkeram tanganku dengan sangat erat.
"Lepaskan dia, apa kamu tidak dengar!" hardik Ibra sambil menatap lekat mata Julian yang agak sipit itu.
"Siapa kamu? Kamu tidak punya hak atas Farissa! Farissa adalah istri ku sedangkan kamu bukanlah siapa-siapa nya! Benarkan?!" sahut Julian tidak mau kalah.
Ibra tidak bisa berkutik setelah mendengar ucapan Julian. Julian kembali membawaku memasuki mobilnya.
"Masuk!" ucap Julian seraya membuka pintu mobil dan menyuruh ku untuk segera masuk kedalam mobilnya.
Akupun masuk dan duduk di mobilnya sambil menggerutu. Setelah Julian masuk kedalam mobilnya, iapun segera melaju menuju kediamannya.
"Hari ini terakhir kalinya aku melihat dirimu bersama lelaki itu! Kau dengar itu, Farissa!" bentak Julian sambil melajukan mobilnya.
"Heh, memangnya kamu siapa melarang-larang aku menemuinya? Terserah aku mau bertemu dengannya kapan saja aku mau." sahut ku
Tiba-tiba saja Julian menginjak rem secara mendadak hingga aku terbentur-bentur body mobil. Beruntung tidak sakit.
Citthhhh.... suara decit mobil Julian.
"Aku suami mu, Farissa? Apa kamu sudah lupa?! Atau kamu ingin aku memperlihatkan buku nikah kita?!" sahutnya kesal.
Aku terkekeh pelan setelah mendengar penuturan Julian. Aku tidak menyangka bahwa lelaki kemayu itu mengakui pernikahan kami.
...***...