Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
August


POV AUTHOR


"Dimana Melinda?!" tanya August kepada Kepala Pelayan yang masih setia berdiri disampingnya diruangan itu.


"Nyonya Melinda sudah pergi, pagi-pagi sekali. Dan Nyonya bilang, dia ingin bertemu dengan temannya." sahut Kepala Pelayan itu.


"Siapa temannya?!" tanya August lagi,


Saking fokusnya pada pekerjaannya, August sama sekali tidak pernah mengetahui bagaimana pergaulan istrinya dan dengan siapa Melinda berteman selama ini.


"Maafkan saya, Tuan. Kalau masalah itu saya tidak tahu. Karena Nyonya Melinda tidak pernah membawa teman-temannya berkunjung kerumah ini." sahut Kepala Pelayan itu lagi.


August terdiam. Ia memikirkan bagaimana cara ia memperlakukan Melinda selama ini. Mungkin Melinda lebih memilih bersenang-senang di luaran. Karena selama ini August tidak pernah sekalipun mempunyai waktu senggang bersama istrinya itu. Walaupun seluruh kebutuhan hidupnya tercukupi namun kasih sayang dan perhatian August sama sekali tidak pernah dirasakan oleh Melinda.


"Baiklah... nanti jika dia sudah pulang, segera hubungi aku. Ada yang harus aku bicarakan kepadanya." ucap August kepada Kepala Pelayan itu.


August meraih kunci mobilnya dan bergegas menuju halaman depan rumahnya. Setibanya disana, August segera melajukan mobilnya menuju kediaman Julian.


Disepanjang perjalanan, August terus bergumam. Ia sangat menyesal karena selama ini ia sudah salah menilai Kakak kandungannya itu. Dia seringkali menghina Julian dengan kata-kata yang sangat tidak pantas ia sebutkan. Bahkan ia juga mengusir Julian kala itu.


"Akhh!!! Apa yang sudah aku lakukan selama ini?!" teriak August sambil memukul setir mobilnya.


"Aku begitu bodoh! Seandainya aku tidak menikahi Melinda, mungkin Kak Julian tidak akan pernah terjerumus kedalam dunia menjijikkan itu!" hardik nya lagi.


Hingga akhirnya August tiba di depan rumah Julian yang nampak tenang seperti tak ada kehidupan didalamnya. August keluar dari mobilnya kemudian memperhatikan suasana rumah itu dari depan pagar yang terkunci rapat. Bahkan Penjaga keamanan yang sering berjaga di depan pun tak terlihat batang hidungnya.


"Julian! Julian! Ini aku, August!" teriak August,


Tiba-tiba seseorang menghampirinya, "Maaf Tuan, Tuan Julian sudah tidak tinggal disini lagi. Tuan Julian sudah pindah bersama istrinya beberapa bulan yang lalu." ucap orang itu.


August terdiam sejenak sambil memperhatikan orang itu. "Apa anda tahu kemana mereka pindah?" tanya August.


Orang itu nampak berpikir, kemudian tak lama setelah itu ia segera memberitahukan tempat tinggal Julian yang baru. August berterimakasih kemudian segera melajukan mobilnya menuju kediaman Julian yang baru.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya August menemukan alamat yang dia cari-cari setelah beberapa kali tersesat. August keluar dari mobilnya dan memperhatikan rumah sederhana milik Julian. Entah mengapa luka di hatinya semakin menganga setelah menyaksikan keadaan saudaranya itu.


Perlahan, August melangkah memasuki halaman rumah Julian yang tidak terlalu luas. Dan bangunan rumah Julian pun terlihat sangat sederhana jauh dari perkiraan August sebelumnya.


"Ya, Tuhan! Disaat Saudara kandung ku kesusahan seperti ini, dimana aku yang bodoh ini?! Aku sama sekali tidak pernah mempedulikan bagaimana keadaannya..." gumam August.


August melanjutkan langkahnya menuju pintu dan mengetuknya. Tepat disaat itu, Julian baru saja tiba bersama Farissa. Julian begitu terkejut ketika mendapati mobil mewah milik August terparkir di halaman rumahnya.


"Sayang, bukankah itu August?!" ucap Farissa seraya menunjuk kearah August yang berdiri didepan pintu rumah mereka.


"Ya, itu August. Entah apalagi yang ia inginkan dariku..." sahut Julian seraya memarkirkan mobilnya.


"Ada apa, August?" tanya Julian, membalas tatapan August.


"Bolehkah kita membicarakannya didalam?" sahut August dengan wajah sendu menatap Julian saat itu.


Julian menghela nafas berat kemudian ia mengangguk dan mempersilakan August masuk kedalam rumah sederhananya.


Farissa menatap Julian dengan penuh tanda tanya. Ia merasa heran sekaligus takut. Farissa tidak ingin August menambah beban Julian. Sudah cukup bagi Julian mendapatkan cobaan yang bertubi-tubi menimpa dirinya.


Setibanya diruang tengah, Julian mempersilakan August duduk di sofa sederhana miliknya.


"Duduklah, August. Tapi maaf jika tempat duduknya tidak sebagus milikmu." ucap Julian


August sempat memperhatikan keadaan rumah sederhana Julian dan hal itu membuat August serasa tercekik. Ia bisa sepuasnya menikmati harta kekayaan yang seharusnya menjadi hak Julian, tetapi disini Julian harus bertarung untuk melanjutkan kehidupannya bersama sang istri yang tengah hamil besar.


Julian dan Farissa sudah duduk di sofa, sedangkan August masih berdiri sambil memperhatikan keadaan rumah Julian.


"Hanya sofa ini yang aku miliki, August. Mungkin sofa ini memang tidak pantas untuk kamu duduki tapi mau bagaimana lagi..." ucap Julian sambil memperhatikan August yang masih terdiam dalam pikirannya.


"Ehm, bukan tentang itu, Julian! Sebenarnya aku merasa tidak pantas untuk duduk bersama kalian. Aku terlalu kotor dan sangat menjijikkan!" ucap August kemudian ia bertekuk lutut didepan Julian.


"Maafkan aku, Julian! Aku sudah salah menilai mu selama ini. Bukan kamu yang menjijikkan, tapi aku!" ucap August sambil terisak.


Julian dan Farissa saling bertatap mata, mereka tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan didepan mata mereka. Seorang August yang begitu angkuh rela bertekuk lutut sambil memohon maaf kepada Julian. Apalagi saat ini August menangis, menangisi kesalahan besar yang sudah ia lakukan kepada Julian.


"Apa maksudmu, August?!" tanya Julian keheranan.


August mengangkat kepalanya yang tertunduk kemudian menatap Julian dengan tatapan penuh penyesalan.


"Julian, maafkan aku yang baru saja menyadari kesalahan ku. Seandainya kamu tidak mengadakan Konferensi Pers itu, mungkin sampai detik ini aku tidak tahu kesalahan apa yang sudah kulakukan kepada mu..."


Julian menghela nafas berat sambil mengerutkan keningnya menatap August yang masih bertekuk lutut di hadapannya.


"Ternyata kamu juga menyaksikannya, August. Ya, sudahlah... semua sudah terjadi dan akupun sudah melupakan hal itu. Yang terpenting bagiku sekarang, hanya kebahagiaan keluarga kecilku. Aku, Farissa dan calon bayi kami." ucap Julian tersenyum kepada Farissa sambil mengelus lembut perutnya yang sudah membulat.


Julian bangkit dan menghampiri August yang masih bertekuk lutut. Ia membangunkan tubuh August kemudian memeluknya dengan erat.


"Aku sudah memaafkan semua kesalahan mu, August! Karena aku menyayangi mu, sangat menyayangi mu..." ucap Julian seraya melerai pelukannya kepada August.


August tersenyum kecut, "Sekarang kamu bisa mengambil alih perusahaan milik Daddy! Perusahaan dan seluruh aset milik Daddy adalah milik mu, Julian! Aku hanya meneruskan saja, dan di surat wasiat itu namamu bahkan terpampang jelas." tutur August dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak, August! Teruskan saja. Aku tidak berbakat dalam mengurus perusahaan. Aku sudah cukup bahagia dengan kehidupan ku sekarang. Kelola lah Perusahaan dan seluruh kekayaan milik Daddy, karena aku percaya padamu!" sahut Julian sambil menepuk lembut pundak August.


...***...