
"Mama, mama! Daddy datang!" seru Fariz dan Farissa ketika melihat mobil Alessandro terparkir didepan Toko ku.
Tak berapa lama, Alessandro pun keluar dari mobilnya sambil menyapa Fariz dan Farissa.
"Hai, Sayang! Apa kabar?" ucapnya seraya berjongkok didepan toko.
Fariz dan Farissa pun segera berlari menuju Daddy mereka.
"Daddy!!!" seru mereka sambil memeluk tubuh sang Daddy.
Alessandro menghampiri ku sambil menggendong kedua anaknya, kiri dan kanan.
"Apa kau tidak bekerja, Alessandro?" ucap ku seraya mencoba meraih Farissa dari pelukan Alessandro. Namun ternyata Farissa menolak ku begitupula Fariz, mereka lengket ditubuh Daddy mereka.
Alessandro terkekeh ketika melihat si Kembar menolak ku,
"Aku cuti!" sahutnya
Tak berselang lama setelah kedatangan Alessandro, Mobil sport milik Fikri pun tiba didepan Toko ku namun kali ini dia tidak sendiri. Dia bersama Fania, adik perempuan Alessandro.
"Wah, ada apa ini? Apa kalian janjian mau kesini?!!" seru ku ketika Fania dan Fikri yang berbarengan memasuki toko ku.
Fania dan Fikri tidak menjawab, mereka hanya tersenyum kepadaku. Alessandro terdiam melihat kedekatan adiknya bersama Fikri.
"Tante Fania!" seru Fariz dan Farissa yang masih berada didalam pelukan Alessandro.
Fania pun segera menghampiri Alessandro kemudian meraih Farissa dan anehnya anak perempuan ku itu malah bersedia melepaskan pelukannya kepada Sang Daddy dan berpindah kepada Tantenya.
"Farissa!" ucap ku
Fania dan Alessandro sontak terkekeh, "Farissa maunya sama aku, Ge. Dia sudah bosan bersama mu!" goda Fania
Aku menekuk wajahku ketika mendengar Fania mengucapkan kata-kata menyebalkan itu.
"Kalian dari mana?" tanya Alessandro sambil memperhatikan Fania dan Fikri secara bergantian.
Fania dan Fikri saling tatap kemudian tersenyum,
"Kak, sebenarnya Fikri adalah lelaki yqng kuceritakan itu. Dia akan segera melamar ku dalam waktu dekat ini." sahut Fania sambil menatap wajah Alessandro.
Alessandro tersenyum lebar setelah mendengarnya. Dia begitu antusias setelah mengetahui bahwa Lelaki yang akhir-akhir ini selalu diucapkan oleh Fania dalam curhat nya tarnyata Fikri Prasetyo.
"Wah, aku turut bahagia mendengarnya. Padahal aku sempat menduga Fikri..."
"Kekasih Ge?!" sambung Fania,
Dan semua orang pun tergelak termasuk aku,
"Tenang saja, Tuan Alessandro! Ge masih sendiri, segera lamar atau seseorang akan mendahului mu!" sahut Fikri sambil menggoda aku dan Alessandro.
Alessandro menatap ku sambil tersenyum hangat dan aku membalasnya tapi hanya sebentar. Setelah itu aku segera mengalihkan pandangan ku kearah lain.
"Cieee... mereka salah tingkah!" goda Fania,
Aku mencubit pelan pinggulnya dan dia malah tergelak mendapati reaksi ku yang seperti itu.
"Apa kalian ingin ngobrol dalam posisi seperti ini terus?!" tanya ku, karena mereka hanya berdiri didepan pintu Toko sambil berbincang.
"Ah ya, benar! Sebaiknya kita duduk dulu." sahut Fania.
Mereka bertiga pun duduk bersama di meja yang sama pula. Aku meraih Fariz dan Farissa kemudian membiarkan mereka bermain ruangan bersantai, dibelakang meja kasir.
Sedangkan Nur masih sibuk menata kue-kue didalam Cake Showcase. Aku menghampirinya dan mengambil beberapa kue untuk ketiga tamu ku itu.
"Kak, Fania dan Fikri memang sangat cocok ya!" seru Nur sambil tersenyum hangat.
Akupun tersenyum, "Semoga kamu juga dapat jodoh seperti Fikri!" sahut ku,
Setelah itu aku juga membuatkan minuman untuk mereka kemudian membawanya ke meja bersama kue yang sudah ku siapkan sebelumnya.
Aku melangkah menghampiri mereka. Kulihat mereka serius sekali berbicara, apalagi Alessandro. Setibanya di meja itu, aku segera membagikan minuman itu dan meletakkan kue ditengah-tengah meja.
"Ayo, diminum dulu!" ucap ku seraya bergabung bersama mereka.
"Owh, ya! Kurasa ini adalah waktu yang tepat!" ucap Alessandro seraya bangkit dari duduknya dan mengajakku ikut bersamanya.
Fania dan Fikri pun nampak kebingungan melihat Alessandro, apalagi aku. Akupun menurut saja dan dia mengajakku berdiri ditengah-tengah ruangan toko.
Mau apa sebenarnya lelaki ini, dia bahkan terus tersenyum sambil memegang tanganku. Tiba-tiba saja hal tak terduga dilakukan olehnya.
Alessandro berlutut dengan sebelah kakinya dihadapan ku dan mengeluarkan sesuatu dari balik jacketnya. Sebuah kotak kecil berwarna merah.
Alessandro membukanya dan tampaklah sebuah cincin yang sangat cantik dengan sebuah permata di tengahnya.
"Will you marry me, Ge?" ucap Alessandro,
Sontak semua orang yang berada didalam toko ku bersorak dan bertepuk tangan. Kebetulan saat itu masih ada beberapa pelanggan didalam toko. Merekapun sangat antusias melihat adegan yang diciptakan oleh Alessandro.
Aku hanya bisa membulatkan mataku. Aku tidak percaya, Alessandro akan melakukan ini. Aku bahkan masih belum yakin akan perasaan ku padanya.
Aku melihat sekeliling ku, Fania, Fikri, Nur dan beberapa pelanggan ku pun mulai mendekat dan mengelilingi kami.
"Say Yes!!!" ucap Fikri dengan keras,
Dan akhirnya semua orang diruangan itu ikut meneriakkan hal yang sama.
"Say Yes, Say Yes, Say Yes!!!" seru mereka semua.
Bahkan kedua anakku pun tidak mau ketinggalan. Mereka berlari menghampiri Fania dan Fikri kemudian ikut meneriakkan kata yang sama setelah mendengar semua orang meneriakkan kata-kata itu. Walaupun sebenarnya mereka tidak mengerti apa artinya, yang penting mereka nimbrung saja.
Aku bingung mau jawab apa. Yes, aku belum yakin akan perasaan ku padanya. No, aku takut Alessandro akan kecewa dan mempermalukan nya didepan orang banyak.
Setelah perdebatan singkat di kepalaku, akhirnya aku memutuskan untuk menerimanya. Walaupun aku tidak tahu apa aku sudah mengambil keputusan yang tepat atau malah sebaliknya.
"Yes, I Will."
"Akkhhhh!!!!" teriak Fania dan Nur histeris.
Dan semua orang pun bertepuk tangan dengan sangat antusias diruangan itu. Mendadak toko ku menjadi pusat perhatian karena kegaduhan yang mereka ciptakan.
Bahkan banyak orang yang sengaja berhenti didepan toko dan memperhatikan keseruan kami.
Alessandro bahagia bukan main. Dia segera meraih tanganku dan memasangkan cincin cantik itu di jari manisku sambil tersenyum hangat. Kemudian ia mengecup punggung tangan ku dengan sangat romantis.
Aku sempat memperhatikan cincin cantik yang telah melingkar di jari manisku. Ternyata di cincin itu tertulis nama ku dan Alessandro.
"Terimakasih, Ge. Terimakasih sudah memberikan aku kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan ku." ucapnya seraya memeluk tubuhku.
Serempak, semua orang didalam maupun diluar ruangan, kembali bersorak sambil bertepuk tangan. Bahkan mereka merekam kejadian langka itu dengan kamera ponsel mereka.
Aku sangat malu. Rasanya aku ingin bersembunyi saja dibawah kolong meja kasir. Tetapi tidak Alessandro, dia terlihat sangat bahagia. Begitupula Fania dan Fikri juga Nur. Bahkan kedua anakku yang masih belum mengerti itupun turut bahagia melihat aku dan Alessandro bersama.
"Karena aku sedang bahagia hari ini, semua kue di toko ini aku borong. Dan silakan nikmati sepuasnya!" teriak Alessandro.
"Alessandro!" aku mengerutkan kening ku sambil menatapnya dan dia malah tergelak.
"Sekali-sekali, Sayang!" sahutnya.
Semua orang pun berbondong-bondong mengambil kue-kue didalam etalase juga didalam Cake Showcase. Nur kelimpungan melayani mereka dan dalam hitungan menit, kue-kue ku benar-benar ludes.
***