
Aku bergegas pulang dan ingin segera menemui Julian. Aku ingin menceritakan masalah kejadian tadi siang di Toko kue kepadanya. Aku tidak ingin Julian semakin jauh berhubungan dengan lelaki jahat itu.
Sesampainya dirumah, aku lihat Julian sedang duduk sendirian diruang utama sambil mengotak-atik laptop nya. Aku menghampirinya dan kini berdiri tepat di depannya.
"Julian, jauhi Leo! Atau aku yang akan menjauhi mu!" ucap ku
Julian sontak menatap kearah ku dengan mulut yang menganga. Dia terlihat kebingungan karena tiba-tiba saja aku datang sambil marah-marah kepadanya.
Kemudian Julian bangkit dan menghampiri ku, "Duduklah dulu dan jelaskan apa maksudmu, Farissa." ucapnya seraya mengajakku untuk duduk di sofa bersamanya.
Setelah aku dan Julian duduk bersama, Julian menatapku dan meminta penjelasan tentang perkataan ku barusan.
"Kamu tahu Julian, karena aku menentang hubungan mu dengan Leo, Leo marah besar kepadaku. Hari ini dia menyerang ku dan ingin melakukan hal tidak senonoh kepadaku! Ini sudah kedua kalinya Leo berbuat jahat kepadaku. Dulu saat aku memergokinya sedang bersantai bersama teman wanitanya di Kafe milik Om Fikri, dia juga ingin memukul ku beruntung Om Fikri menolong ku. Dan apa kamu tahu apa yang ia bicarakan saat itu bersama kekasihnya? Dia bilang akan meninggalkan dirimu dan menikahi kekasihnya setelah berhasil menguras harta mu. Sekarang apa kamu percaya padaku?!" tutur ku dengan emosi.
Julian nampak terkejut, dia mengerutkan keningnya sambil menatapku. "Benarkah Leo melakukan itu padamu? Tapi Leo itu lelaki yang baik?!" sahutnya dengan wajah kebingungan.
"Oh astaga, Julian! Perasaan mu padanya telah membutakan matamu! Apa kamu ingin lelaki itu mencelakai ku terlebih dahulu baru kamu sadar dan percaya padaku?!" ucap ku lagi.
"Baiklah, baiklah aku percaya padamu! Tapi jangan pernah katakan bahwa kamu akan meninggalkan aku, Farissa! Ku mohon..." sahut Julian seraya meraih tubuhku kedalam pelukannya.
"Kamu serius, Julian? Kamu percaya padaku?" sahut ku sambil mendongak ke wajahnya.
"Ya! Aku akan mengirimkan seseorang untuk memata-matainya. Tapi tetaplah bersamaku, Farissa. Aku tidak ingin kamu meninggalkan aku karena aku sudah tidak memiliki siapapun lagi."
Aku melepaskan pelukan Julian dan kini menatapnya, "Jawab yang sejujurnya, Julian! Apa kamu mencintai Leo?" tanyaku
Julian mengusap wajahnya dengan kasar kemudian menghembus nafas berat. "Sebenarnya aku tidak tahu bagaimana perasaan ku kepadanya. Jika rasa itu dikatakan sebagai Cinta, kurasa bukan. Aku hanya ingin membalas kebaikannya selama ini kepadaku. Dia adalah orang yang menyelamatkan aku dari keterpurukan, Farissa. Disaat aku jatuh dan hanpir saja mencoba bunuh diri, Leo datang dan menyelamatkan aku." tutur Julian dengan wajah tertunduk.
"Ya, dia memang seorang Malaikat Penolong bagimu. Tapi caranya salah, Julian! Dia ingin kamu berubah menjadi sosok yang dia inginkan dan bodohnya kamu pun menuruti semua keinginannya!" sahut ku dengan emosi menggebu-gebu.
"Maafkan aku, Farissa. Kamu benar! Aku memang sangat bodoh. Sejak kejadian itu aku berjanji padanya akan menjadikannya teman hidupku dan akan membiayai seluruh kebutuhannya."
Aku menepuk jidat ku karena saking kesalnya. "Sekarang aku yang meminta dirimu untuk berjanji kepadaku! Apa kamu mau?"
Julian pun mengangguk pelan.
"Aku ingin kamu berjanji padaku untuk segera melupakan Leo dan menjauhi dirinya!"
Julian nampak berpikir keras kemudian mengangguk pelan. "Tapi untuk sementara ini biarkan aku menyelidiki kebenaran tentang dirinya. Dan jika apa yang kamu katakan tentangnya adalah benar maka aku akan segera menjauhinya dan menyingkirkannya dari kehidupan ku." ucap Julian.
"Baiklah!" sahut ku.
Tiba-tiba saja di otakku terlintas sebuah ide. "Julian, besok ikutlah denganku. Aku ingin memberi mu sebuah kejutan."
Julian kembali mengerutkan keningnya, "Kemana?!" tanyanya penuh selidik.
"Ikut saja!"
Aku bangkit dan meninggalkan Julian yang masih nampak bodoh memandangiku. Aku kembali ke kamarku dan membersihkan diriku. Aku mandi dengan waktu yang cukup lama sambil merendam tubuhku di Bath Up yang ku berikan sabun yang banyak.
Setelah puas merendam tubuhku dan ku rasa tubuhku sudah bersih, aku bangkit dan membilas tubuhku dibawah pancuran air Shower.
Akhirnya acara mandi panjang ku pun selesai. Aku meraih piyama ku dan mengenakannya. Setelah itu aku melangkah menuju tempat tidur ku dan melempar tubuhku keatas tempat tidur.
Aku mencoba beristirahat sambil memejamkan mataku namun kejadian tadi siang benar-benar membekas di ingatan ku. Setiap kali aku mencoba melupakannya, ingatan itu malah semakin jelas.
Hingga akhirnya rasa kantuk pun menyerang setelah beberapa lama aku berjuang memejamkan mataku.
***
"Tolong! Tolong! Tolong! Seseorang ku mohon tolong aku... Dasar Leo brengsek, menjauh dariku!!!"
"Farissa! Farissa!"
Tiba-tiba Julian sudah berada disampingku sambil menggoyang-goyangkan tubuhku. Aku terperanjat ketika melihat Julian berada disamping ku. Wajahnya terlihat sangat cemas.
"Julian..."
Aku bangkit dan dengan dibantu Julian, aku duduk bersandar di sandaran tempat tidur sambil mencoba menenangkan diriku. Ternyata aku baru saja mimpi buruk dan kejadian tadi siang seolah terjadi lagi didalam mimpiku.
"Minumlah..."
Julian menyerahkan segelas air putih yang terletak diatas meja kepadaku. Aku segera meraihnya dari tangan Julian kemudian meminumnya.
"Aku takut Julian, aku takut Leo melaukan hal itu lagi padaku..." ucap ku lagi sambil terisak.
Julian meraih tubuhku dan memeluk ku dengan erat. "Tidak apa-apa, Farissa. Aku tidak akan membiarkan Leo menyakiti mu lagi. Aku berjanji!" sahut Julian seraya mengelus rambut ku dengan lembut.
"Sekarang kamu percaya kan, Julian. Aku tidak pernah membohongi mu!" ucap ku disela isak tangis ku.
Julian mengangguk pelan sambil mempererat pelukannya kepadaku. "Ya, Farissa! Sekarang aku percaya padamu. Dan sejak saat ini aku berjanji, aku tidak akan membiarkan dirinya menyakiti mu lagi." sahut Julian.
"Sekarang kembalilah tidur..." sambung Julian.
Julian merebahkan tubuhku tapi aku masih enggan untuk kembali tidur. Aku takut mimpi itu kembali lagi dan menghantui tidurku.
"Tapi aku takut!"
Julian tersenyum hangat padaku kemudian turut berbaring disampingku. "Aku akan menemani mu malam ini. Tidurlah lagi..." ucapnya
Julian meraih tubuhku kedalam pelukannya dan mengajakku untuk segera tidur. Akupun membalas pelukannya dan entah mengapa aku merasa nyaman ketika berada didalam pelukannya.
Julian mengelus kepalaku dengan lembut sambil melabuhkan ciuman hangat di kening ku. Perlahan, ku tutup mataku dan mencoba untuk kembali tidur. Hingga akhirnya akupun benar-benar tertidur di pelukan Julian.
...***...