Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Membuat Kue


Beberapa hari ini aku benar-benar giat belajar membuat kue, baik itu secara online maupun offline. Aku bahkan sudah mempraktekkan nya berkali-kali dirumah, walaupun berkali-kali pula aku gagal namun aku tidak akan pernah menyerah.


Nur pun tidak kalah antusias nya sama seperti diriku. Dia juga ikut membantu jika Fariz dan Farissa anteng, namun jika kedua bocil itu tidak bisa ditinggal dengan terpaksa Nur pun cuma bisa jadi penonton.


Hari inipun aku mempraktekkan apa yang baru saja aku pelajari. Dan karena kedua bocil ku sedang anteng, Nur pun turut membantu ku walaupun cuma yang ringan-ringan saja.


Tiba-tiba dari luar terdengar suara deru mobil Alessandro. Ternyata lelaki itu kembali berkunjung. Yang pasti dia mengunjungi kedua anaknya,


"Hai semuanya! Apa kabar?!"


Alessandro masuk dan segera menghampiri kedua anaknya yang sedang bermain di lantai yang dikasih karpet empuk.


Dia turut duduk di karpet itu sambil memperhatikan aku yang sedang membuat adonan kue dengan menggunakan mixer. Aku tersenyum ketika bertatap mata dengannya.


"Bikin apasih, kok wajahnya serius sekali?" tanya Alessandro sambil tersenyum manis


"Bikin kue lah, bikin apa lagi?!" sahut ku,


Aku terus mengaduk adonan itu dengan mixer berkecepatan tinggi. Agar adonan itu cepat mengembang. Sesekali tatapan ku beralih kepada lelaki yang tengah asik bermain bersama kedua anaknya.


Aku akui, Alessandro memang banyak berubah. Dia benar-benar menyayangi Fariz dan Farissa. Dia bahkan selalu mengunjungi mereka walaupun terkadang EL tidak mempedulikan kehadirannya.


"Ge, aku akan berangkat besok." ucapnya lirih,


Seketika aku menoleh kepadanya, dia masih menatap wajah Farissa ketika mengatakan hal itu padaku. Sejujurnya aku sangat terkejut ketika mendengar bahwa ia akan berangkat besok. Itu artinya esok adalah hari terakhir ku bertemu dengannya.


Ingin sekali aku mengantarkan kepergiannya, namun aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikan hal itu kepadanya.


Dan sebenarnya aku juga takut EL akan salah sangka. Aku tidak ingin EL mengira aku masih mengharapkan cinta seorang Alessandro dalam hidupku.


Aku menghela nafas panjang kemudian mengambil lap bersih dan membersihkan tanganku dengan kain lap itu. Kebetulan, adonan kue ku sudah selesai tinggal memasukkannya ke pemanggang.


"Berarti hari ini adalah hari terakhir mu menjenguk kami..."


Aku memasukan adonan kue ku ke pemanggang kemudian menghampiri Alessandro dan kedua Bocil ku.


Alessandro tersenyum ketika melihatku menghampirinya. Aku duduk disampingnya seraya mengajak Fariz bermain bersamaku.


"Jangan katakan ini yang terakhir donk, Ge. Kamu tau, orang yang pertama kali akan kutemui ketika kembali menjejakkan kakiku ke kembali negara ini adalah kalian, kau dan kedua bayi kembar ku." sahut Alessandro sambil tersenyum padaku.


Aku kembali tersenyum karena perkataan Alessandro yang baru saja ia ucapkan itu terdengar sangat manis sekali.


"Apakah besok kami boleh ikut mengantar mu ke bandara?"


Aku memberanikan diri menanyakannya, karena sejak tadi hatiku terus meronta ingin mengeluarkan kata-kata itu.


Alessandro kembali tersenyum, "Tentu saja, kenapa tidak?! Bahkan, aku akan sangat berterimakasih jika kamu mau ikut mengantarkan ku besok."


Tidak berselang lama, kue ku pun matang dan siap untuk disajikan.


"Nah, kue ku sudah matang. Dan kau harus mencobanya, Tuan Alessandro..."


Aku bangkit dan segera menghampiri kue yang sudah matang dan siap dikasih topping. Aku memberikan cream berwarna-warni sebagai toppingnya. Kemudian ku bawa kue itu ke hadapan Alessandro dan juga Nur yang sedang berkumpul menemani Fariz dan Farissa.


"Sebentar, Nona... Aku bikin teh hangat dulu, ya! Masa icip Kue tanpa minum? Ntar keselak gimana?!" ucap Nur,


"Kau benar, cepat bikin Nur! Aku sudah tidak sabar lagi..." ucap ku seraya duduk disamping Alessandro.


Tidak berselang lama, Nur datang membawa teh hangat untuk kami. Akupun segera memotong-motong kue itu dan membagikan nya kepada Nur dan Alessandro.


Alessandro pun mencicipi nya. Aku terus memperhatikan ekspresi wajahnya ketika memakan kue buatanku. Akupun turut mencobanya, siapa tahu rasanya aneh.


"Bagaimana Alessandro?!"


Aku menatap matanya lekat, aku benar-benar ingin tahu jawabannya. Alessandro nampak menikmati kue ku sambil berpikir. Jujur aku sangat takut. Takut kue itu terasa aneh di mulut seorang Alessandro.


"Kue nya enak!"


Huft... akhirnya aku bisa bernafas lega. Aku kira dia akan menyebut berbagai macam kekurangan pada kue buatanku. Begitupula Nur, dia sudah melahap beberapa potong kue.


"Eeh Nona, Ge! Kue nya enak!!!" sahut Nur dengan mulut penuh.


Disaat asik menikmati kue dan teh buatan Nur, tiba-tiba Alessandro jahil memoleskan cream kue itu ke wajah ku. Aku kaget bukan kepalang, sedangkan Nur terbahak menertawakan aku yang belepotan cream topping kue ku.


Kemudian aku balas memoleskan cream itu ke wajah Alessandro dan tepat mengenai janggut tipisnya. Alessandro tertawa disaat aku membalasnya dan akupun turut menertawakan dirinya yang nampak lucu dengan cream itu.


Tidak cukup sampai disitu, aksi poles-memoles cream. Bahkan Nur pun kena polesan cream itu dariku dan juga Alessandro.


Nur menekuk wajahnya, "Kalian itu nakal, akan ku balas perbuatan kalian!" seru Nur sambil menyeringai,


Ternyata Nur jahil, bukannya membalasnya ke aku atau Alessandro. Dia malah memoleskan cream itu ke hidung Fariz dan Farissa.


Dan lucunya si Bocil kembarku itu malah ikut tertawa ketika Nur memoleskan cream itu ke wajah mereka.


"Ehem... Ternyata aku datang disaat yang tidak tepat, ya! Aku hanya mengganggu kesenangan kalian!"


Ternyata EL sudah kembali dari butiknya. EL masih memperhatikan kebersamaan kami dengan wajah masam.


Aku memotong kue itu dan meletakkannya ke piring kecil kemudian membawanya kepada EL,


"EL, coba kamu cicipi kue ku, aku baru saja membuatnya..." aku menghampiri EL kemudian menyodorkan kue itu kepadanya sambil tersenyum hangat.


Aku kira EL akan senang hati menyambut kue ku, namun aku salah. Dia nampak marah dan dengan sengaja menabrak kan tubuhnya ke tubuhku.


Hingga kue yang ku sodorkan kepadanya pun jatuh berserak di lantai dan tubuhku melayang beberapa centi kebelakang. Aku sangat terkejut, ku pandangi punggung EL yang berjalan menjauhi ku dengan rasa sakit di hatiku.


Aku sangat tidak menyangka EL akan bersikap seperti itu padaku. Entah mengapa setelah kehadiran keluarga barunya, perlahan EL berubah padaku.


Walaupun ia masih sangat manis ketika bersamaku, namun sikap kasar itu yang membuat ku selalu bertanya-tanya. Sebelumnya ia tidak pernah kasar padaku, walau semarah apapun dia kepadaku.


Mungkinkah rasa cemburu telah membuat dia berubah. Tanpa ku sadari, perlahan airmata ku jatuh ketika melihat kue ku yang tergeletak di lantai.


***