Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Jalan Bareng Julian


Beberapa hari kemudian Julian menghubungiku untuk pertama kalinya. Dia ingin bertemu denganku dan mengajakku jalan bersamanya.


Sebenarnya aku enggan menemuinya tapi sepertinya mau tidak mau, aku harus menemuinya.


Baru saja selesai mengenakan pakaianku, Fiona tiba-tiba muncul dari balik pintu. Dengan tergesa-gesa, adik bungsu ku itu menghampiriku.


"Kak, Kak Farissa! Tuan Julian sudah tiba. Dia sudah menunggu di ruang utama. Apa Kakak tau, dia terlihat tampan sekali..." seru Fiona.


Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan adikku itu. Setelah mengambil tas, dompet serta ponsel ku, akupun segera menuju ke ruang utama.


Ternyata benar, lelaki itu sudah duduk di sofa sambil berbincang bersama Mama. Dia terlihat sangat sopan ketika bicara sama Mama dan dia juga terlihat sangat manis.


"Nah, itu dia Farissa!" ucap Mama seraya tersenyum kepadaku.


Akupun membalas senyuman Mama kemudian kembali menatap Julian. Julian melihat kearah ku, dia juga melemparkan senyuman yang begitu manis padaku.


"Sebaiknya kita berangkat sekarang." ucap Julian seraya bangkit dari tempat duduknya.


"Maaf ya, Tante. Kami pamit dulu." sambung Julian seraya mengulurkan tangannya kepada Mama dan Mama pun menyambutnya.


"Aku pamit dulu ya, Ma!" ucap ku seraya menghampiri Mama kemudian memeluknya. Mama pun membalas pelukan ku dan melabuhkan sebuah kecupan hangat di puncak kepalaku.


"Hati-hati dijalan, ya!" ucap Mama.


Julian membukakan pintu mobilnya untukku sambil tersenyum hangat. Akupun membalas senyuman nya kemudian masuk dan duduk di kursi depan, disamping Julian yang akan mengemudikan mobilnya.


Setelah aku masuk, Julian segera menyusul ku dan duduk tepat didepan setir. Julian kembali melemparkan senyuman hangatnya kepadaku.


Ternyata Julian tidak seperti yang aku pikirkan. Sebelumnya aku sempat berpikir dia seorang lelaki yang menyebalkan tapi ternyata aku salah. Dia baik, sangat sopan dan juga ramah.


"Aku akan mengajak mu kesalah satu butik ku. Aku ingin memperkenalkan dirimu kepada karyawan-karyawan ku bahwa kamu adalah calon istri ku." ucap Julian seraya tersenyum padaku.


Akupun membalas senyuman nya. Aku tidak percaya, ternyata Julian sangat antusias dengan perjodohan kami. Padahal aku sendiri belum yakin dengan pernikahan ini.


Disepanjang perjalanan, Julian terus menceritakan tentang perjalanan kariernya mulai dari nol hingga ia menjadi sukses seperti sekarang.


Dan ternyata Julian adalah pemilik dari salah satu Brand kosmetik terkenal, bahkan akupun menjadi salah satu pecinta kosmetik dengan Brand tersebut.


"Namun sayang... Daddy ku tidak pernah mendukung usaha ku. Dulu Daddy ingin aku meneruskan bisnisnya tetapi aku terus menolaknya dan kekeh pada pendirian ku. Sejak saat itu, Daddy tidak pernah peduli dengan apa yang aku lakukan. Walaupun aku sudah sukses seperti sekarang. Daddy hanya membanggakan adikku, August. Karena dia bersedia menjadi penerusnya." tutur Julian sambil terus melajukan mobilnya.


Aku sempat tertegun mendengar penuturan Julian. Aku heran kenapa Tuan Joseph tidak mendukung karier Julian. Padahal Julian sudah sangat tersohor, dia dan brand miliknya sudah tidak asing lagi di negara ini bahkan hingga ke mancanegara.


Tak terasa mobil Julian sudah terparkir di halaman sebuah bangunan tingkat tiga yang sangat besar dan megah. Setelah keluar dsri mobilnya, aku sempat tertegun didepan Butik megah milik Julian.


Julian menghampiri ku sambil tersenyum kemudian mengajakku untuk segera memasuki bangunan megah itu.


Akupun mengangguk seraya mengikuti langkah kakinya yang menuntun ku memasuki butik itu. Mataku membulat setelah berada didalam ruangan itu. Ruangannya benar-benar Wah, pantas saja jika butik ini hanya untuk kalangan atas.


Julian juga mengajakku berkeliling dan memperkenalkan ku kepada beberapa karyawannya. Seluruh karyawannya nampak sangat bahagia ketika mengetahui bahwa aku adalah calon istrinya.


Bahkan ada yang sempat mengucap syukur. Entah mengapa mereka semua terlihat lega ketika mengetahui Big Boss mereka itu akan segera melepaskan masa lajangnya.


"Ehm, Farissa. Sebaiknya kita ke ruang pribadi ku saja. Kita bisa bersantai sambil bercerita-cerita didalam sana." ajak Julian


Akupun kembali mengangguk dan mengikutinya hingga memasuki ruangan pribadinya. Ya Tuhan, ruangan itu sangat bersih dan rapi. Seluruh barang-barang yang ada diruangan itu tertata rapi di tempatnya. Bahkan kamar ku saja tidak serapih ini.


Sepertinya Julian adalah sosok laki-laki yang perfeksionis dan pencinta kebersihan. Aku sempat melihat dia mengambil beberapa lembar tissu kemudian mengelap kursinya sebelum ia duduk disana. Sedangkan aku, duduk ya duduk saja! Lagipula di kursi itu tidak nampak kotoran sedikitpun, bahkan debu pun sepertinya enggan menempel disana.


Sebenarnya aku sangat penasaran akan sosok Julian yang sebenarnya. Mengapa ia belum juga menikah di usianya yang sudah lebih dari kepala tiga. Padahal dari segi manapun, Julian nyaris menjadi lelaki yang sempurna. Wajahnya, bentuk tubuhnya, walaupun tubuhnya tidak seperti Fariz, kembaran ku yang memiliki tubuh bak atlet angkat besi, namun tubuhnya masih bisa dikatakan keren. Kekayaannya, kariernya dan segala-galanya nyaris sempurna.


"Maaf, Julian. Sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu kepadamu? Tapi ini tentang kehidupan pribadi mu, boleh?!" tanyaku,


Julian tersenyum simpul sambil menatap ku, "Tanyakan lah..." sahutnya.


"Ehm, kenapa sampai sekarang kau belum juga menikah? Padahal aku sangat yakin, banyak sekali wanita cantik yang rela mengantri menjadi istri mu, kan?!" tanyaku lagi.


Julian masih tersenyum sambil menaikan sebelah alisnya menatapku, "Mungkin saja memang belum jodoh ku. Dan sekarang aku sudah menemukan jodoh ku dan aku siap untuk menikah. Lalu apa yang membuat mu mengatakan Ya pada malam itu?!" tanya nya balik.


Aku mengerutkan kening ku. Aku bertanya dan dia malah balik bertanya padaku. Hah, pertanyaanya benar-benar menyudutkan ku. Haruskah aku berkata jujur bahwa aku tidak sengaja mengatakan Ya pada malam itu?! Itu semua kan gara-gara adik ku yang rese itu, tiba-tiba saja dia mencubit pinggang ku.


"Aku..."


Julian terkekeh karena aku tidak mampu menjawab pertanyaanya. "Apa kamu terpaksa menerima lamaran ku, Farissa?!" tanya Julian sambil tersenyum aneh padaku.


"Ehm..." aku kembali terdiam,


"Sudahlah, lupakan saja! Sebaiknya kita ganti topik dan bicarakan masalah pernikahan kita saja, kamu ingin konsep pernikahan kita seperti apa? Katakan saja..." sambung Julian dengan penuh semangat membahas tentang pernikahan kami.


***


Akhirnya Julian mengantarkan aku kembali kerumah, setelah kami puas berbincang-bincang mengenai acara pernikahan kami. Dia juga sempat mengajakku makan siang disebuah restoran favoritnya.


Julian benar-benar lelaki yang sopan. Dia bahkan tidak berani macam-macam padaku. Tidak seperti lelaki kebanyakan, baru kenal saja sudah berani pegang-pegang tangan. Tapi Julian tidak, ia bahkan tak berani menyentuh tanganku.


Akhirnya mobil Julian tiba didepan rumahku. Setelah aku keluar dari mobil, ia langsung pamit kepada Mama ku yang saat itu sedang bersantai di teras bersama adikku, Fiona.


***