Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Make Over


Setelah pulang dari Kantor Polisi, aku segera menuju kamarku dan menguncinya. Aku tidak ingin lelaki kemayu itu kembali kesurupan dan merajai tubuhku. Aku masih shock karena lelaki dua alam itu ternyata masih punya sisi kejantanan.


Aku melepaskan pakaian ku dan segera menuju kamar mandi. Aku ingin berendam di Bath Up sambil menenangkan diriku. Aku memejamkan mataku dan menikmati mandi ku kali ini.


Baru beberapa saat aku memejamkan mataku, tiba-tiba saja aku merasa ada seseorang yang tengah mengelus pipiku dengan lembut. Aku terkejut dan segera membuka mataku. Dan ternyata benar, lelaki kemayu itu berjongkok disamping Bath Up sambil membelai pipiku.


"Apa yang kamu lakukan?!" ucap ku histeris dengan nada setengah berteriak padanya.


Julian tersenyum tipis sambil memperhatikan tubuh polos ku. Aku menutupi tubuh polos ku dengan kedua tangan. Dan lelaki kemayu itu masih saja memperhatikan bagian-bagian tubuhku yang masih dapat ia lihat dengan mata nakal nya itu.


"Berhenti menatapku seperti itu, Julian!" ucap ku kesal karena mata nakal nya tidak berhenti menjelajahi tubuh polos ku.


"Aku cuma ingin meminta maaf, Farissa." sahutnya enteng.


Meminta maaf sih, meminta maaf. Tapi tidak seperti ini juga kali, Julian! Aku menghembuskan nafas dalam kemudian menatap tajam ke mata Julian yang rada sipit itu.


"Meminta Maaf tidak harus dikamar mandi juga, kan? Kamu bisa menunggu aku setelah aku keluar dari kamar mandi!" sahut ku makin kesal.


Julian terkekeh pelan. Kemudian lelaki itu memasukkan tangannya kedalam Bath Up dan mencipratkan air ke tubuhku dengan tangannya.


"Kamu cantik, Farissa!" ucapnya seraya bangkit dan menjauh dariku.


Aku terus menatap lelaki dua alam itu hingga ia keluar dari kamar mandi. Sebelum menutup pintu kamar mandi dia sempat mengedipkan sebelah matanya kepadaku.


"Dasar lelaki aneh!" gumam ku.


Jangan tanya bagaimana Julian bisa masuk kedalam kamar ku, padahal sebelumnya kamar ini sudah ku kunci dari dalam. Julian pemilik rumah ini, tentu saja ia punya kunci cadangan!


***


Malam pun tiba,


Aku dan Julian makan malam bersama seperti biasanya diruang makan. Makan malam kami hening, hanya terdengar suara garpu dan sendok yang saling beradu.


Tapi aku sudah beberapa kali memergoki Julian mencuri pandang padaku. Membuat aku berpikir, apakah lelaki kemayu ini sudah kembali menjadi lelaki normal dan mulai jatuh cinta padaku? Hah, semoga saja!


Hingga akhirnya makan malam kamipun selesai. Tak ada satupun kata yang keluar dari bibir ku maupun lelaki kemayu itu. Dan ketika aku ingin kembali ke kamarku, Julian memanggil namaku.


"Ehm, Farissa!"


Aku berbalik dan menatap lelaki kemayu yang tengah memperhatikan ku dengan seksama.


"Apa?!"


Julian menghampiri ku sambil tersenyum hangat. "Maukah kamu ikut bersamaku, sebentar saja?" pinta Julian


"Kemana?!"


Tanpa menjawab pertanyaan ku, Julian menarik tanganku dan menuntun ku menuju kamarnya. Ketika aku sadar Julian mengajakku ke kamarnya, aku sempat terkejut dan mencoba menahan langkah kakinya.


Aku tidak ingin Julian melakukan hal aneh lagi kepadaku. Bukannya apa-apa, aku cuma takut disalahkan sama seperti kejadian di malam pertama kami. Dia tidak terima karena dia menganggap aku menjebaknya padahal dia sendiri sangat menikmati permainan panas itu.


Julian tidak mempedulikan aku yang mencoba menahan langkah kakinya, dia terus saja menarik tanganku dan akhirnya akupun berada didalam kamarnya.


"Julian, kamu mau apa?" tanyaku


"Aku ingin me'make over dirimu, Farissa." sahutnya


Belum sempat aku berkata Ya atau Tidak, Julian langsung meraih peralatan Make Up nya dan mulai bermain di wajahku. Tangan gemulainya begitu terampil memainkan berbagai macam kuas ke wajahku.


Aku terus memperhatikan Julian yang begitu serius merias wajahku, bahkan aku tidak memperhatikan bagaimana hasil riasanya. Mataku hanya fokus kepada lelaki gemulai yang tengah bermain diwajah ku malam ini.


Setelah puas bermain di wajahku, Julian meninggalkan aku dan memasuki ruangan koleksi pakaiannya. Mungkin pakaian yang tidak senonoh pun banyak tersimpan diruangan itu. Ya, seperti Lingerie miliknya saat itu!


Sepeninggal Julian, aku memperhatikan bayangan ku di cermin. Aku membulatkan mataku, aku tidak menyangka Julian benar-benar hebat soal merias wajah. Bahkan aku saja sebagai seorang perempuan merasa kalah dengan kemampuannya.


Tak berselang lama, Julian kembali dengan menenteng selembar dress seksi sambil tersenyum kepadaku.


"Aku rasa ini sangat cocok untukmu, Farissa. Coba kamu lihat, Dress nya sangat cantik bukan?! Aku sudah lama merancangnya khusus untukmu." ucap Julian sambil memperlihatkan Dress itu kepadaku.


Aku memperhatikan Dress itu sambil mengangkat sebelah alis ku. Aku bingung saja ketika Julian bilang Dress itu ia rancang khusus untukku. Cantik memang, tapi Dress itu terlalu seksi menurutku.


"Ayo, kenakan!"


Tanpa aba-aba, Julian meraih tubuhku dan melepaskan Piyama yang sedang ku kenakan. Perlahan namun pasti, akhirnya tubuhku hanya terbalut pakaian dal*m untuk menutupi beberapa area sensitif ku.


Julian terdiam sambil memperhatikan tubuh ku dibalik di cermin. Akupun terdiam untuk beberapa saat hingga akhirnya aku dan Julian tersadar.


Julian kembali melanjutkan aktivitasnya, membantu ku mengenakan Dress seksi yang baru saja ia bawakan untukku. Dan setelah aku selesai mengenakan Dress itu, Julian kembali memperhatikan ku sambil tersenyum puas.


"Benarkan kataku, kamu sempurna, Farissa!" ucap Julian.


Julian kembali menghampiri ku dan merapikan rambutku yang masih tergerai. Dan setelah selesai merapikan rambutku, Lelaki gemulai itu malah membawaku duduk di tepi tempat tidurnya.


"Farissa, kamu sangat cantik." ucapnya seraya menatap mataku lekat.


"Benarkah? Cantik mana aku sama Leo?!" tanyaku


Julian menghela nafas panjang, "Bisakah lupakan Leo untuk saat ini, Farissa! Dan tidak seharusnya juga kamu membandingkan dirimu dengannya." sahut Julian.


"Ya, karena Leo lebih baik dari ku, kan?!" ucap ku lagi.


"Oh Ayolah, Farissa!"


Aku segera bangkit dari posisi duduk ku, ketika teringat akan kata-kata Julian saat itu. Mood ku seketika menjadi sangat buruk. Sebaiknya aku kembali ke kamarku dan pergi tidur.


Namun baru beberapa langkah aku menjauhinya Julian kembali menangkap tanganku dan menarik ku kedalam pelukannya.


"Sekarang aku sudah siap dan akan melakukannya dengan mu, Farissa!"


Julian menatap tajam kedua bola mataku sambil menuntun ku ketempat tidurnya. Dan anehnya, tubuh ini sama sekali tidak ingin memberontak.


Aku membiarkan ia merebahkan tubuhku keatas tempat tidurnya dengan perlahan. Kemudian lelaki itu mulai mencumbui ku sama seperti yang ia lakukan tadi siang.


Aku harap kali ini ia serius dengan ucapannya. Ia tidak akan menyalahkan aku setelah ini. Hingga akhirnya Julian benar-benar melakukannya...


...***...