
"Ada apa, Farissa?" tanya Ibra kepadaku,
Lelaki itu memegang pundak ku seraya menatapku lekat. Aku sempat membalas tatapan nya namun hanya sebentar, setelah itu aku kembali menundukkan kepalaku.
"Sebenarnya..." Aku begitu ragu menceritakan hal ini kepada Ibra. Aku sangat malu karena sudah menikahi sosok lelaki dua alam seperti Julian.
"Ceritakan lah..." sahut Ibra,
Aku menghembuskan nafas berat, seberat beban hatiku sekarang. Kini aku memberanikan diri menatap Ibra,
"Ibra, ternyata suamiku..." tenggorokan ku kembali tercekat, bibir ku pun kelu hingga tak mampu meneruskan ucapan ku.
Ibra masih menunggu, wajahnya nampak sangat penasaran.
"Suamiku seorang Waria, Ibra!" ucap ku, kemudian aku menangis histeris. Aku tidak mampu menahan tangis ku lagi. Rasa ini terlalu berat untuk ku tanggung sendiri.
"Apa?!"
Ibra terkejut bukan main ketika mendengar penuturan ku.
"Tidak, kamu pasti bercanda kan, Farissa?!"
Aku kembali menatap Ibra dengan deraian airmata, mungkinkah saat ini aku berbohong padanya.
Ibra terdiam kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Ia kembali menghampiri ku dan mengelus pundakku dengan lembut.
Akupun mulai bercerita kepada Ibra tentang pernikahan ku. Mulai dari perjodohan waktu itu hingga akhirnya aku memergoki Julian hari ini.
Sambil terisak aku menceritakan semuanya. Dan Ibra pun dengan sabar mendengarkan seluruh cerita ku. Sebenarnya saat pernikahan mendadak ku berlangsung, Ibra sedang tidak berada disini.
Kebetulan saat itu salah satu kerabatnya juga tengah melaksanakan acara pernikahan dinegara asal Ibra. Jadi Ibra benar-benar tidak mengetahui prihal pernikahan ku saat itu.
Ia pun sangat terkejut ketika mendapat kabar kalau aku akan segera melaksanakan pernikahan.
"Bolehkah aku melihat foto suami mu, siapa tahu aku kenal?" ucap Ibra,
Aku memang tidak memberitahu kepadanya soal siapa Julian. Ia hanya tahu namanya saja, Julian Alexander, tetapi ia tidak tahu kalau yang menjadi suamiku adalah Julian Alexander Desainer ternama itu.
Perlahan ku raih ponsel ku dan ku perlihatkan foto Julian yang masih tersimpan di galeri foto ku. Ibra memperhatikan foto Julian sebentar, namun setelah itu iapun membulatkan matanya.
"Bukankah dia Julian si Desainer terkenal itu?!" seru Ibra,
Ternyata Ibra pun mengenal sosok Julian. Ya, siapa sih yang tidak mengenal sosok Julian. Dia adalah Designer terkenal yang wajahnya bahkan sering berwara-wiri di stasiun televisi. Hanya aku yang kurang Update. Aku bahkan tidak mengenal sosok Julian.
Akupun mengangguk pelan kepada Ibra. Ibra menggelengkan kepalanya, seolah ia tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan.
Ibra meraih laptop nya diatas meja kemudian mulai membuka situs channel milik Mrs. Julia and Leo. Ibra memperlihatkan laptop nya kepadaku dan mulai mainkan satu Video diantara ratusan Video yang ada di channel itu.
"Apakah itu dia? Aku sudah sejak lama mencurigai sosok Mrs. Julia ini. Aku rasa dia adalah Tuan Julian Alexander, Designer terkenal hingga ke mancanegara itu." tanya Julian kepadaku.
Setelah menyadari kalau pemilik channel itu adalah Julian, tangis ku pun kembali pecah. Betapa bodohnya aku, bahkan mereka sudah punya channel pribadi untuk video mereka berdua dan itu sudah tercipta sejak beberapa tahun yang lalu.
Mungkin bagi sebagian orang, mungkin tidak akan mengenali sosok Julian didalam tubuh Mrs. Julia yang sering memberikan tutorial make up sempurna nya. Ya, dia memang cantik sempurna. Dan tidak akan ada yang menyadari kalau dia adalah seorang Julian Alexander, Designer terkenal itu.
"Bodohnya aku?!"
Ibra hanya bisa mengelus pundak ku dengan lembut. "Yang sabar ya, Farissa. Dan sekarang apa rencana mu selanjutnya?" tanya Ibra.
"Aku ingin menuntut cerai darinya. Aku tidak ingin dimanfaatkan olehnya untuk menutupi ke busukannya." sahut ku,
Setelah beberapa saat, akupun pamit kepada lelaki itu. Aku ingin menemui Mama ku dan menceritakan kisah ini kepadanya.
Sekarang aku sudah tiba di halaman depan rumah Daddy. Aku segera masuk setelah memarkirkan mobil ku. Dengan tergesa-gesa aku menemui Mama dan ternyata Wanita terhebat ku itu sedang duduk santai diruang tengah sambil menonton televisi.
Perlahan aku menghampirinya, "Mah..." ucap ku lirih seraya mencium pipinya.
"Farissa?! Sini, Sayang. Sama siapa kamu kemari, apa sama Julian?" tanya Mama dengan sangat antusias sambil menengok kebelakang, mencoba mencari sosok lelaki jadi-jadian itu.
Akupun menggelengkan kepalaku, "Tidak, Mah. Farissa sendiri saja." sahut ku.
Kini Mama memperhatikan wajahku yang murung. Mama pasti tahu kalau aku sedang ada masalah sekarang.
"Ada apa, Farissa? Apa kamu bertengkar sama Julian?" tanya Mama,
Aku tidak sanggup menjawab. Aku hanya bisa menangis sesenggukan kemudian memeluknya.
"Farissa, seandainya kamu punya masalah sama Julian. Bicarakan sama dia baik-baik dan jangan gegabah. Mama tidak ingin kamu mengambil keputusan yang salah." sambung Mama,
Ah, aku tidak sanggup menceritakan yang sebenarnya kepada Mama. Aku tidak ingin Mama dan Daddy ku ikut pusing dengan permasalahan ku sekarang.
Aku menghela nafas dalam dan memutuskan untuk menunda bercerita kepada Mama. Sebaiknya aku pergi menemui Tuan Joseph, mungkin itu lebih baik dan semoga saja mertua ku bisa memberikan ku solusi yang tepat untuk hubunganku dan Julian.
"Ma, sebaiknya aku pulang saja, mungkin Julian sudah menunggu ku." ucap ku,
Mama mengerutkan keningnya kemudian kembali menatapku tajam, "Kamu tidak apa-apa kan, Farissa?!" tanya Mama lagi,
"Tidak apa-apa, Mah. Aku baik-baik saja." sahut ku.
Akupun kembali pamit kemudian kembali melajukan mobil ku ke kediaman Tuan Joseph, Ayah Julian. Setibanya di rumah mewah itu, aku disambut seperti putri pemilik rumah. Para pelayan melayaniku dengan sangat baik.
Begitupula Tuan Joseph, dia sangat bahagia ketika aku berkunjung kerumah itu. Tuan Joseph membawaku ke ruang utama dan mengajakku bicara disana.
"Ada apa, Farissa Sayang? Apa ada masalah dengan Julian?" tanya Tuan Joseph sambil tersenyum hangat kepadaku.
"Daddy, sebenarnya..."
Ah, tenggorokan ku kembali tercekat. Aku takut lelaki tua dihadapan ku akan terkejut dan terjadi apa-apa padanya.
"Apa ini tentang Julian?" tanya Tuan Joseph lagi, ekspresi wajahnya seketika berubah ketika memperhatikan wajah murung ku.
Aku mengangguk pelan sambil terus memperhatikan Tuan Joseph yang terlihat sangat cemas sekarang.
"Apa kamu sudah mengetahui siapa Julian?!" tanya Tuan Joseph lagi,
Aku membelalakan mataku, aku tidak percaya ternyata Tuan Joseph sudah mengetahui semuanya.
"Daddy sudah tahu siapa Julian yang sebenarnya?!" tanyaku balik,
Aku tidak percaya Tuan Joseph tega menikahkan aku dengan anaknya padahal ia tahu bagaimana kelakuan Julian yang sebenarnya.
Perlahan ekspresi wajah Tuan Joseph berubah. Kini wajahnya terlihat sangat murung. Ia sempat menatapku dengan wajah memelas sebelum akhirnya ia menundukkan kepalanya.
"Maafkan Daddy, Farissa. Daddy sebenarnya sengaja menikahkan kalian saat itu..." ucap Tuan Joseph dengan kepala tertunduk,
***