Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
EL berkunjung


"Aku serius, Alessandro. Mana satu milik mu?"


"Aku juga serius, Kau lah satu milikku."


Alessandro kembali memasang senyuman konyol nya di depan kamera. Setelah itu ia segera bangkit dan berjalan menjauhi teman-teman wanitanya.


"Ge, Fania bilang kamu dan EL sudah bercerai. Apa itu benar?"


Ehm, akhirnya Alessandro mengetahuinya. Aku memang tidak ingin menceritakan masalah perceraian ini kepadanya. Dia hanya tau aku sedang memulai usaha ku ditempat ini, makanya aku jarang berada dirumah EL.


Aku takut dia mengkhawatirkan keadaan ku kemudian nekat kembali dengan memutuskan kontrak secara sepihak.


"Ya, itu benar."


Lelaki itu tertawa bahagia sambil berteriak, "Yeah!". Dasar Alessandro, dia bahagia diatas duka kami. Aku menekuk wajahku,


"Alessandro, tidak bisakah kamu berpura-pura bersedih? Ini berita buruk, bukan berita baik..." ucap ku


Aku kesal kemudian memutarkan kedua bola mataku. Dan lelaki menyebalkan itu malah terbahak ketika aku mengatakan hal itu.


"Aku tidak bisa menutupi kebahagiaan ku, Ge! Apa yang kutunggu-tunggu selama ini akhirnya terjadi. Akhirnya kau akan menjadi Janda dan itu artinya kita bisa bersatu lagi..." ucapnya sambil tertawa bahagia.


Aku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. Heran saja dengan pemikiran konyol nya, dengan begitu percaya dirinya ia bilang aku dan dia bisa bersatu lagi.


Jujur, aku masih trauma untuk kembali berumahtangga. Untuk saat ini aku hanya ingin fokus pada usaha dan juga kedua anakku.


"Alessandro... sudah dulu, ya! Pengunjungnya semakin banyak. Aku kasihan sama Nur, sepertinya ia sudah kewalahan." ucap ku sambil tersenyum hangat kepada lelaki itu.


"Jangan dimatikan! Biar aku VC sama kedua anakku, kau pergilah..." sahutnya.


Ku letakkan ponsel ku tepat didepan kedua bocil ku. Mereka seolah mengerti ketika diajak bicara oleh Ayahnya. Mereka terus tergelak ketika melihat wajah Alessandro di layar ponsel. Itulah yang membuat Alessandro betah berlama-lama menatap layar ponselnya, tertawa bersama anak-anaknya.


Aku menghampiri Nur yang sedang melayani pembeli. Nur tersenyum ketika aku mendekatinya,


"Hari ini pengunjungnya ramai ya, Kak!"


Kini Nur memanggil ku dengan sebutan Kakak karena aku sendiri yang memintanya. Aku merasa tidak nyaman saat dia memanggil ku dengan sebutan Nona. Lagipula aku sudah menganggapnya seperti adik sendiri.


"Iya, Nur!"


Diantara banyaknya pengunjung, ada seorang pengunjung yang mencuri perhatian ku. Pengunjung yang baru saja masuk kedalam toko kecilku.


Michael beserta keluarga kecilnya. Entah mengapa rasa hatiku terasa di sentil ketika melihat kebahagiaan keluarga kecil itu.


EL merengkuh pinggang Bella sambil mendorong kursi roda Arini. Mereka melihat kearah ku sambil tersenyum hangat.


Aku segera menghampiri mereka dan mempersilakan mereka untuk duduk disalah satu tempat duduk pelanggan.


"Mari silakan..."


Aku menarik sebuah kursi untuk Bella duduk. Setelah Bella duduk, EL segera mengatur tempat duduk untuk si kecil Arini.


"Ehm, Ge... Kamu punya kue ulang tahun, gak? Hari ini Arini sedang merayakan ulang tahunnya yang ke enam..." ucap Bella sambil tersenyum hangat padaku.


"Wah, benarkah! Selamat ya... Tentu saja Tante punya, tunggu sebentar biar Tante ambilkan kue nya."


Aku meninggalkan keluarga kecil mereka dan menghampiri Nur yang sedang berdiri didepan Cake Showcase. Nur menyenggol ku dengan sikutnya sambil menunjuk kearah keluarga kecil EL dengan cara memonyongkan bibirnya.


"Nur! Jangan bicara seperti itu. Tidak baik..."


Ucap ku seraya melihat-lihat kue didalam Cake Showcase, yang cocok untuk si kecil Arini. Setelah menemukan satu Kue yang cocok untuk Arini, akupun segera meraihnya.


"Untuk siapa kue itu, Kak?!"


Nur kebingungan ketika aku meraih Kue itu dan mulai menuliskan ucapan selamat kepada Arini di kue tersebut.


"Untuk Arini, dia ulang tahun hari ini."


Nur manggut-manggut setelah ku katakan hal itu.


"Kak, Fariz dan Farissa sudah ku letakkan didalam kereta mereka dan ponsel Kakak, aku simpan didalam laci meja." sambung Nur,


"Oh ya?! Terimakasih ya, Nur."


Setelah selesai dengan kue milik Arini, akupun segera kembali menuju meja dimana EL dan keluarga kecilnya berada.


"Kue nya datang..."


Aku menghampiri keluarga itu kemudian meletakkan kue itu ditengah-tengah meja. Aku juga membawakan pisau, pemantik serta lilin untuk Arini.


"Wah, kue nya bagus!" seru Arini sambil tersenyum lebar,


"Benarkah! Itu khusus untuk Arini..." sahut ku.


"Ayo, kita mulai saja tiup lilin nya!" seru Bella sambil meletakkan lilin itu keatas kue kemudian menyalakan lilin itu.


Mereka pun memulai acara sederhana itu dengan menyanyikan lagu ulang tahun untuk Arini. Setelah lagu nya selesai, Arini pun segera meniup lilin nya dan kami pun bertepuk tangan bersama. Namun sebelum meniup lilin, Arini sempat mengucapkan doa dalam hati sambil menutup matanya.


"Kalau Tante boleh tau, doa apa yang Arini ucapkan?" ucapku sambil berjongkok disamping kursi Arini.


"Arini mengucapkan terimakasih kepada Tuhan karena akhirnya Ayah Arini sudah kembali bersama Arini dan sebentar lagi Arini akan punya adik. Semoga Adik Arini kembar sama seperti Fariz dan Farissa." ucap Arini


Aku sempat tertegun setelah mengetahui bahwa Bella tengah hamil. Pantas saja Bella nampak agak berisi daripada sebelumnya. Aku bangkit kemudian ku pandangi pasangan yang tengah berbahagia itu.


Bella tersenyum hangat padaku sedangkan EL membuang pandangannya. Ia sama sekali tidak ingin bertatap mata denganku.


"Selamat ya, Bella! Sudah berapa bulan usia kandungan mu?" tanyaku sambil memasang senyuman semanis mungkin.


Bella melebarkan senyumnya kemudian mengelus lembut perutnya yang sedang mengandung anak kedua dari EL.


"Sudah bulan ke lima dan memasuki bulan keenam, Ge. Saat di trisemester awal, aku benar-benar kewalahan. Aku mengalami Morning sickness yang parah. Sampai-sampai EL ikut kewalahan menemaniku." ucap Bella sumringah sambil mengelus lengan EL.


Aku terkejut bukan main mendengar penuturan Bella. Hatiku kembali sakit, bagaimana tidak, Aku dan EL baru berpisah 4 bulan sedangkan usia kandungan Bella sudah memasuki bulan kelima.


Aku tersenyum kecut mendengarnya. Tapi tidak ada gunanya aku kecewa, toh aku dan EL sudah bercerai juga. Biarlah mereka bahagia dengan keluarga kecil mereka. Dan akupun akan menggapai kebahagiaan ku sendiri, bersama anak-anakku.


Aku kembali kedalam dan menjemput kedua anakku untuk bergabung bersama mereka. Walaupun EL terlihat canggung kepadaku, namun dia tetap menyambut baik kedua anakku.


"Sini, ikut Ayah EL! Aku sangat merindukan mereka, Ge. Biar bagaimanapun mereka sudah kuanggap anakku sendiri." ucap EL sambil mengangkat tubuh Fariz dari kereta dorong nya.


Ya, Mungkin begitupula bagi Fariz dan Farissa, EL sudah seperti Ayah kandung mereka. Karena EL lah yang menyambut mereka ketika mereka hadir ke dunia ini.


***