
°°°~Happy Reading~°°°
Marvell duduk di kursinya dengan sisa amarah yang masih menelungkup dalam relung hatinya, entah mengapa ia sangat emosional hari ini, ahhh... Ia kesal bukan main, rasanya ia ingin membanting semua yang ada dalam ruangannya pada saat itu juga.
" Tuan... " Sahut Willy, laki-laki itu menatap intens bos nya yang terlihat begitu frustasi itu.
" Hmmm... " Marvell hanya menggumam, sebelah tangannya sibuk mengendurkan dasi yang terasa begitu mencekik lehernya.
" Apa anda baik-baik saja? Atau perlu saya panggilkan... dokter... " Tanya Willy yang juga melihat gelagat tak beres dari bos nya itu.
Apa kau bodoh Will, bukan dokter yang di butuhkan bos mu itu, tetapi istrinya, wanita nya, sang pemilik hatinya, siapa lagi kalau Anelis.
" Tidak, keluar lah... Aku tak ingin di ganggu... " Marvell mengusap rambutnya frustasi.
Tak ada pilihan lain, Willy pun kini berlalu meninggalkan Marvell seorang diri dalam keheningan yang begitu menyiksa batin.
Namun, belum juga genap lima menit Willy meninggalkan ruangan itu, kini asisten itu telah kembali mengetuk pintu itu lagi, bahkan memasukinya tanpa izin, membuat Marvell yang sudah sangat frustasi itu kian geram dan naik pitam.
" Apa kau tak dengar apa yang ku ucapkan tadi Will... " Gertak nya, membuat Willy jadi serba salah di buatnya.
" Emmm... Maaf tuan, tapi... Itu... " Willy merutuk keras, kenapa juga mulutnya itu terasa kebas dan sulit untuk di gerakkan.
" Sudah ku bilang aku tak ingin di ganggu, apa kau sudah jadi tuli, hah... " Sentak nya pada asistennya itu dengan nada tinggi nan menggelegar, membuat seseorang di balik tubuh Willy itu seketika merasa bersalah karena telah membuat kegaduhan.
" Ahhh... Apa dia sibuk? Maaf saya tidak tahu, kalau begitu saya akan kembali saja... Maafkan saya Willy. Emmm... titip permintaan maaf saya buat mas Marvell juga ya... "
Sayup-sayup Marvell mendengar setiap kata yang berhasil menelisik ke dalam celah pintu yang belum tertutup rapat itu, membuat Marvell seketika tercengang, benarkah dia ada di sini?
Tanpa basa-basi, Marvell pun segera meninggalkan kursi kebesarannya, berlari menuju asal suara, dan seketika itu ia terlonjak kaget saat mendapati sang istri kini berada di depan ruangannya hendak berlalu pergi.
" Sayang... Kau di sini? " Marvell langsung menyaut tubuh Anelis dalam rengkuhan nya, tak perduli pada beberapa pasang mata yang kini berhasil melihat interaksi tak biasa itu.
Berbeda dengan Marvell yang dengan tak tahu malu nya telah merengkuhnya, kini Anelis tampak begitu malu, wajahnya sudah memerah padam, ia kelimpungan, ia jadi salah tingkah sendiri dengan kelakuan suaminya yang entah kenapa seperti tak punya malu.
" Mas... " Rengek Anelis sembari mendorong pelan dada suaminya itu agar segera mengurai pelukannya atau pipinya akan semakin merona karena merasa sangat di permalukan di depan asisten dan sekretaris itu.
Tak ada pilihan lain, Marvell pun mengurai pelukannya dengan sangat tidak rela.
" Kamu sejak kapan ada di sini? " Sahut Marvell sembari mengusap ujung kepala Anelis yang tersemat kerudung berwana biru langit.
" Baru saja mas... Mas sibuk ya, maaf Aku mengganggu ya... Aku kembali saja kalau begitu... "
" Tidak... Jangan pergi, kenapa kembali kalau sudah sampai sini... "
" Tadi mas seperti sangat terganggu... " Lirih Anelis, pandangannya menatap ke lantai yang di pijaknya, ia merasa tak enak hati karena telah mengganggu suaminya itu.
" Hah... Rentenir? Mas... Punya hutang sama rentenir... " Sentak Anelis tak percaya.
Marvell jadi bingung sendiri dengan alasan yang di buatnya itu, ia tidak punya hutang mengapa tadi di kepalanya hanya ada kata rentenir sih...
" Hehehe... Tidak sih... " Jawab Marvell sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sungguh, ia bagai orang bodoh yang telah jatuh sejatuh-jatuhnya pada pesona seorang Anelis.
" Emmm... Ya sudah, kita masuk... "
Marvell segera menggaet tangan istrinya itu untuk di ajak masuk ke ruangannya, sebelum menutup pintu, pandangannya terlebih dulu mengarah ke arah Willy yang masih mematung di depan ruangannya.
" Aku tidak ingin di ganggu, jangan berani-berani kau mengetuk pintuku atau kau akan ku habisi... " Ancamnya lalu menutup pintu itu dengan hentakan keras.
Pintu ruangan sudah di tutup rapat, tak lupa Marvell juga telah menguncinya dengan kunci ganda, apa yang akan di lakukan CEO itu? Entahlah, mungkin ia hanya tak ingin di ganggu, mungkin ia ingin menikmati waktu kebersamaan nya dengan istri kecilnya itu.
Marvell kembali merengkuh tubuh Anelis, erat seolah enggan melepaskan, membuat Anelis sesak hingga menggeliat ingin di lepaskan.
" Mas... " Rengek Anelis.
" Aku rindu kamu sayang... " Sahutnya, kedua matanya terpejam, meresapi hangat pelukan dari istrinya itu.
Tak lama, Marvell akhirnya mengurai rengkuhan itu, di tatapnya wajah cantik istrinya itu dalam-dalam, sungguh pesona Anelis benar-benar tak terelakkan lagi.
" Sayang... " Pinta Marvell dengan isyarat kedipan mata.
" Mas... " Anelis bergidik, apa itu yang benar-benar di inginkan suaminya saat ini?
" Sayang... Please... " Sahut Marvell dengan nada mengiba.
" Ta-tapi... Ini... Di kantor mas... " Rengek Anelis setelah tahu bahwa praduga nya tadi memang benar adanya, ingin ia menerima ajakan suaminya itu, namun sekarang mereka tidak pada waktu dan tempat yang tepat, situasi nya sangat tidak memungkinkan untuknya bisa menerima permintaan suaminya saat ini.
" Tidak apa-apa... Aku sudah menguncinya, tidak akan ada yang bisa mengganggu kita, hmmm... "
Anelis mengangguk ragu, membuat Marvell sontak berbinar bahagia.
Akhirnya, malam-malam panjang yang telah di lewati dengan begitu berat, kini di bayar lunas dengan suguhan buka puasa yang benar-benar berhasil menuntaskan dahaganya. Marvell begitu menikmati setiap hidangan yang di sajikan istrinya itu, begitu lezat dan nikmat.
🍁🍁🍁
Annnyeong Chingu
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕