
°°°~Happy Reading~°°°
Marvell menatap lekat-lekat wajah sendu Anelis, berjuta kesediaan tampak menyembul meski wanita itu menundukkan wajahnya sedari tadi, bahkan beberapa kali wanita itu tampak mengalihkan pandangannya ketika ia tak beranjak dari tatapan menyelidik dari wajah cantik itu.
" Apa yang ingin anda bicarakan sebenarnya? Saya khawatir anak-anak akan bangun karena tak mendapati saya disana... " Sahut Anelis pada akhirnya, setelah hanya kebisuan yang mewarnai pertemuan mereka di tengah malam yang dingin itu.
" Kau... Maafkan aku... " Rangkaian kata yang telah di untai nya sedari tadi berujung tragis dengan permintaan maaf yang terdengar ambigu.
Anelis mengerut keningnya bingung, apa yang sebenarnya ingin di sampaikan laki-laki itu padanya?
" Kenapa kamu tak menjawab... " Marvell kembali bersuara saat Anelis tak kunjung membuka mulut dan hanya diam menatap ke arahnya.
" Saya harus menjawab bagaimana? " Ucapnya polos. Jujur, ia tak mampu menangkap setiap kata yang keluar dari mulut laki-laki di depannya Itu.
" Aku kan sudah meminta maaf padamu tadi... " Nada bicara nya yang tadinya halus, kini mulai sedikit meninggi.
" Oh... Tadi minta maaf? Apa dia tak pernah meminta maaf sebelumnya... Kenapa buruk sekali ucapannya... " Rutuk Anelis yang hanya bisa di telan nya bulat-bulat dalam hati.
" Bagaimana? "
" Insyaallah... Saya masih berproses untuk bisa menerima segalanya... "
Jadi dia sudah di maafkan apa belum? Atau wanita iu menolak permintaan maaf nya? Ahhh... Wanita ini selalu bermain dengan kata-kata, ia bukan penyair atau guru bahasa Indonesia, tentu ia tak tahu arti dari ucapan wanita itu yang memiliki sejuta makna.
Apa ia harus repot-repot menyewa pakar mikro ekspresi segala hanya untuk menilai bagaimana perasaan Anelis yang bahkan masih terlihat begitu tenang di tengah permasalahannya.
" Maaf karena aku telah melukai hatimu sedalam ini, aku sadar aku telah banyak melakukan kesalahan padamu, bahkan dosa yang ku buat mungkin sulit kau hapus dari hatimu yang telah retak. Tapi... Bisakah kau memberikan aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya... " Akhirnya kata-kata yang telah ia rangkai semalaman bersama dengan Willy, kini berhasil ia lantunkan dengan lancar dan khidmat.
Anelis menoleh seketika, menatap bola mata biru itu dalam-dalam, menyelaminya, seolah mencari ketulusan yang tersembunyi di dalamnya. Laki-laki itu benar-benar tulus dengan ucapannya.
" Tiada manusia tanpa dosa, saya pun sama, tak luput dadi dosa. Saya yakin Allah akan memberikan saya yang terbaik dari setiap takdir yang telah di gariskan-Nya. Dari kejadian itu, saya mendapatkan anak-anak yang lucu dan menggemaskan, saya sangat bersyukur... " Anelis mengulum senyum mengingat kedua buah hatinya.
" Insyaallah... Saya akan berusaha menata hati saya untuk memaafkan anda. Karena jujur, saya hanya manusia biasa yang butuh waktu untuk bisa memaafkan anda dengan ikhlas... "
" Aku tahu itu sulit untukmu, tapi di samping itu ada anak-anak yang harus kita pikirkan, aku tak ingin mereka kekurangan kasih sayang, baik itu darimu ataupun dariku... " Sejenak Marvell menghela nafasnya dalam, lalu kembali bersuara.
" Menikahlah dengan ku... "
Anelis membelalakkan matanya lebar, hatinya tersentak hebat, waktu seolah berhenti berdenting, jantung nya seolah berlari kencang tanpa berniat berhenti.
" Anelis... Menikahlah denganku... "
Dan untuk pertama kalinya, Marvell dengan lantangnya menyebut nama wanita yang telah berhasil mengobrak-abrik isi hatinya, ia pun tak tahu ada apa dengan hatinya, entah mengapa wajah cantik nan lembut itu selalu saja memenuhi isi hatinya.
Anelis terdiam di tempatnya, wajahnya menunduk, ia bimbang, tak tahu apa yang harus ia katakan pada laki-laki itu sebagai jawaban atas lamarannya.
Ingin ia menolak, namun... Benar kata laki-laki itu, bagaimana dengan anak-anaknya, bagaimana jika mereka kekurangan kasih sayang, apalagi putrinya yang selalu saja menanyakan dimana keberadaan sang ayah.
Harus bagaimana ia, ia bimbang. Pikiran nya masih menimbang, antara hati atau kebahagiaan sang buah hati. Antara egois atau merelakan kesakitan hati, ia tak tahu.
" Pikirkan baik-baik, aku memberimu waktu sampai esok hari... Sekarang istirahat lah... "
Apa... Hanya sampai besok pagi? Keputusan besar itu harus ia pikirkan matang-matang, ia butuh waktu lebih lama, bahkan sangat lama agar tak menyesal di kemudian hari.
Namun, belum sempat ia membuka suara, laki-laki itu sudah menghilang dari pandangannya di buntuti asisten dan bodyguard-bodyguard setia nya.
🍁🍁🍁
Di sebuah halaman yang luas penuh dengan rumput-rumput yang menjulang tinggi, seorang wanita tengah menghabiskan waktunya dengan kedua buah hatinya, si kembar itu tampak riang bermain, sesekali saling berkejaran satu sama lain dengan tawa yang tak pernah sirna dari bibirnya.
Wanita muda itu memandang kedua buah hatinya dengan mata berbinar bahagia, namun diantara ribuan kebahagiaan itu, terselip luka yang dalam menembus sampai ke titik terdalam hatinya.
Sibuk melamun ia tak menyadari sosok laki-laki itu kini tengah memandanginya, bahkan laki-laki itu mulai mendekatinya hingga kini tepat di hadapannya.
Wanita muda itu mendongak menatap wajah laki-laki itu, seketika air matanya jatuh merembes membasahi kedua pipinya, wajah tak asing itu, luka lama yang masih mengendap dalam hati itu, kini menyeruak seketika.
Laki-laki itu mengulurkan tangannya, berniat membantu wanita itu berdiri dari duduknya, namun wanita itu menolak nya mentah-mentah, bahkan kini memalingkan wajahnya, tak ingin bersitatap dengan wajah laki-laki yang sangat di bencinya itu.
Laki-laki itu tak patah arang, ia tetap berdiri di hadapan wanita muda yang telah mengacuhkan nya, menunggu dengan sabar, berharap wanita itu akan menerima uluran tangannya suatu saat nanti.
Lama laki-laki itu menunggu, namun wanita itu tetap kekeuh dengan pendirian nya dan tetap mengacuhkannya. sampai saatnya, kedua anak itu kembali dari kejar-kejaran nya.
Kedua anak menggemaskan itu menatap lekat-lekat wajah laki-laki yang ada di hadapan ibunya, seketika itu mereka memekik girang, senang bukan main.
Kedua anak itu mempercepat langkahnya mendekati laki-laki itu, langsung merengkuh laki-laki itu bersamaan, wajah kedua anak itu berseri-seri, kebahagiaan tengah menyelimuti keduanya, mereka bahagia seseorang yang selama ini mereka tunggu akhirnya datang juga.
Wanita muda itu tak terima, di usir nya laki-laki itu dari hadapannya, ia bahkan berusaha memisahkan nya dari kedua anaknya yang masih merengkuh erat tubuh kekar laki-laki itu.
Ia tak rela anak-anaknya ada di rengkuhan laki-laki yang telah menorehkan luka yang begitu dalam di hatinya.
Namun, tanpa di duga, kedua anaknya kini menangis kencang, bahkan gadis kecil itu menangis hingga sesenggukan, hingga akhirnya gadis kecil itu memejamkan matanya tak sadarkan diri, ia pingsan, tubuhnya terkulai lemas dengan derai air mata yang masih menggenang di wajahnya.
Wanita itu panik, ia merasa bersalah, ia merutuki keras keegoisannya, seharusnya ia tak boleh egois hanya dengan perasaannya.
🍁🍁🍁
Seketika itu Anelis membuka matanya lebar-lebar, ia terperanjat kaget tak percaya, mimpi itu, mimpi itu kenapa terasa begitu nyata, bahkan tak terasa kini pipinya luruh oleh air mata.
Apakah ini jawaban dari yang Maha Kuasa atas setiap permasalahan nya?
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Othor nggak nyankut lagi nih...
Untuk yang tanya cover nya kenapa gitu, aku pun tak tahu
Cover itu dari pihak noveltoon, dan akupun tak suka karena covernya nyeleneh dari ceritaku
Niat ngubah tapi tak bisa, jadi sedih aku
Ya udah lah, terima aja lah ya...
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕