Baby Twins CEO

Baby Twins CEO
Maafin Ane


°°°~Happy Reading~°°°


" Hwa... Asha... "


Gadis kecil itu kembali menangis histeris, mulutnya yang masih berisi butiran bakso kini menganga lebar mengeluarkan suara tangisannya, membuat Anelis seketika tersentak dan segera mendatangi keberadaan sang putri tercinta.


" Sayang... Kenapa, hmmm... " Perempuan itu mengusap lelehan air mata yang membasahi wajah sang putri.


" Mommyh... Asha nakal... Asha ambil basho na Ashi tellush di buang ke shana, Asha dahat, hwa... " Adu Arshi pada sang mommy sembari menunjuk pada tong sampah.


" Tadi bakso nya jatuh ke lantai myh, jadi Arsha buang, jorok... "


" Eundak dollok... " Sentak Arshi.


" Itu jorok Arshi... Tadi baksonya jatuh ke lantai, jadi tidak bisa di makan lagi... "


" Bisha... Kata molla bisha kalau bellum lima munnit... Sheukallang Asha hallus ganti basho na Ashi shupulluh, hiks... "


" Iya iya... Udah cup dong sayang... Tadi Arsha nya ngga sengaja, udah ya nangisnya, nanti cantiknya Arshi hilang sayang... "


" Eundak mau... Ashi mau tantik shepeulti mommyh, srukk... " Sembari menyedot ingus yang hendak meluncur dari hidung mungilnya, sedang mulutnya masih asik mengunyah sisa bakso di tengah tangis yang tak kunjung mereda.


" Iya iya... Udah dong cantiknya mommy... "


Tangisan Arshi pun perlahan mulai surut. Namun tak lama kemudian, tangisan yang lain mulai menggema.


Baby Arshell yang tadi terlelap dalam tidur nyenyak nya, kini tak sengaja terbangun akibat ulah tangisan sang kakak yang tiba-tiba memekakkan telinga, membuat bayi mungil itu sontak menangis histeris saat tak mendapati siapapun di sekelilingnya.


" Oekkk... Oekkk... "


Tangisannya dalam dan menyayat, membuat Anelis kembali terkesiap, di satu sisi putrinya tengah merengek dan tak ingin lepas darinya, namun di sisi lain, putra kecilnya tengah menangis histeris. Membuat Anelis akhirnya ikut serta membawa sang putri untuk menjemput baby Arshell.


" Arsha, tunggu di sini ya sayang... "


" Iya myh... "


Anelis memasuki kamar rahasia Marvell, terlihat baby Arshell yang kini di apit oleh 2 guling itu tengah menangis histeris.


" Dedek udah bangun, hmmm... Lihat kaka Arshi mau main sama dedek Arshell... " Sahut Anelis seraya membawa baby Arshell dalam dekapan nya.


" Dedek bayi tup tup, eundak boleh nanit-nanit... Nanti di gigit jullapah... " Si kecil Arshi turut menenangkan adik kecilnya, namun usahanya itu seolah sia-sia, baby Arshell tetap menangis histeris.


Berkali-kali Anelis berusaha menenangkan sang putra, menimang-nimang nya, membawanya berjalan-jalan di ruangan Marvell, namun usahanya itu tetap tak mempan, malah kini tangisan bayi mungil itu semakin dalam dan menyayat.


" Oh... Sayangnya mommy... Kenapa sayang, hmmm... " Anelis mulai merasa khawatir, asi nya pun tak mampu membuat bayi mungil itu berhenti dari tangisannya.


" Nona... Apa yang terjadi, kenapa tuan muda menangis sedari tadi... " Sekretaris Marvell terlihat memasuki ruangan itu setelah sebelumnya mengetuk pintu.


" Sepertinya dia kesal karena tidurnya tadi terganggu... " Sahut Anelis seraya menimang-nimang sang buah hati.


" Apa yang terjadi? "


Semua orang seketika menoleh pada sumber suara, terlihat Marvell tengah mendekati keberadaan sang istri dengan langkah cepat.


" Mas... "


" Kenapa baby menangis sayang... "


" Sepertinya dedek kesal karena tidurnya tadi cuman sebentar mas... " Keluh Anelis.


" Putra daddy kenapa ini, hmmm... " Marvell pun mengambil alih gendongan baby Arshell, tangisan bayi laki-laki itu perlahan mulai mereda, dekapan hangat sang daddy seolah menjadi mantra ajaib untuk bayi yang belum genap berusia 2 bulan itu.


" Mas meeting nya sudah selesai? "


" Belum... "


Anelis mengerutkan dahinya.


" Belum? Tapi mas kok udah balik kesini? "


" Mas tadi lihat di cc tv kalau baby menangis dari tadi, mas ngga tenang jadi kesini... "


" Terus karyawan nya mas di tinggalin gitu aja? "


" Hmmm... "


" Harusnya mas selesaiin meeting nya dulu, dedek sama Ane aja ngga apa-apa... " Protes Anelis dengan suara bergetar.


" Ngga papa sayang... "


" Maafin Ane... " Lelehan air mata kini mulai menggenang di wajah Anelis " Ane ngga bisa jagain dedek, Ane selalu gangguin kerjaannya mas, maafin Ane..." Air mata itu akhirnya tumpah di wajah Anelis, membuat Marvell sontak terkejut atas tangisan sang istri.


" Sayang... kenapa, hmmm... "


Anelis tak menyahut, malah tangisannya semakin kencang seperti tangisan putrinya. Membuat Marvell pun tak tega, dengan sebelah tangannya, laki-laki itu pun merengkuh sang istri dalam dekapannya.


" Tidak apa-apa sayang, kenapa kamu malah menangis, hmmm... "


" Ane selalu mengacau kerjaannya mas, Ane ngga bisa ngurus dedek, hiks... " Rengek Anelis dalam pelukan suaminya itu.


" Tidak, siapa bilang... "


" Iya, mas jangan bohong... "


" Tidak sayang nya mas... Udah dong jangan nangis lagi. Kamu kalau nangis makin imut, jadi mas pengen cium... " Goda Marvell.


" Mas... "


" Iya iya, Kalau gitu nangisnya udah ya cantik... " Sahut Marvell sembari mengeratkan rengkuhannya, sesekali laki-laki itu terlihat mengec*pi pucuk kepala sang istri berusaha menenangkan.


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Hehehe, maap maap


Happy Reading


Saranghaja 💕💕💕