
°°°~Happy Reading~°°°
" Dia menolak ku, aku tahu aku tak pantas, tapi... Apa aku benar-benar tak memiliki kesempatan... untuk berada di sisi kalian... " Marvell menaikkan pandangannya, menatap dalam-dalam wajah Anelis penuh harap.
" Bukan... Bukan anda tak pantas, Allah telah menganugerahkan anak-anak untuk kita, itu sudah cukup membuktikan bahwa Allah percaya pada kita, dan kita pun pantas untuk menjadi orang tua mereka. Hanya saja, kita di pertemukan dengan sebuah kesalahpahaman, hingga tanpa sadar kita saling menyakiti satu sama lain... "
" Mungkin... saya tidak lebih memahami bagaimana perasaan anak-anak saya, namun, saya yakin... Rasa sayang Arsha pada anda jauh lebih besar dari rasa bencinya... "
Marvell terhenyak, air mata itu kembali luruh, kenapa ia menjadi serapuh ini? kenapa penuturan Anelis begitu menusuk hingga bagian terdalam hatinya?
" Maukah anda menunggu sebentar lagi... Berikan saya waktu... Berikan saya waktu untuk memikirkan nya... Setidaknya, saya tak ingin menyakiti siapapun, termasuk anda... dan kedua buah hati saya... "
🍁🍁🍁
Malam semakin larut, jarum jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari, Marvell masih terjaga di kursi nya, tangannya masih menggenggam erat tangan mungil Arsha, sesekali mengusap wajah Arsha yang sedikit memucat pasi.
Kedua putra-putrinya masih setia mendiami alam mimpinya, di samping mereka, terlihat Anelis yang juga tengah terlelap setelah tak tahan lagi menahan kantuk yang kian mendera.
Marvell mengurut pelipisnya, kepalanya terasa pusing, kantuk mulai mendera, namun rasa khawatir nya pada Arsha jauh lebih besar hingga membuat kantuk nya menguap begitu saja.
" Euhhh... "
Lenguhan Arsha berhasil membuat Marvell terhenyak, wajahnya berubah menegang, Apa yang harus ia lakukan kali ini?
Di tepuk-tepuk nya punggung tangan Arsha dengan gerakan lembut, bola matanya pun intens meneliti setiap sisi wajah Arsha yang mulai berkerut dan bergerak ringan.
" Euhhh... Euhmm... "
Suaranya begitu lirih, nafasnya mulai memburu, kelopak matanya berkedut hebat seolah ingin terbuka namun tak bisa, Arsha gelisah dalam tidurnya, keringat dingin mulai membasahi sebagian wajahnya.
" Hei... Boy... Are you ok... Tenanglah, daddy bersamamu... " Marvell mengusap-usap wajah Arsha, berusaha memberikan sentuhan hangatnya agar Arsha kembali terlelap.
Namun, sentuhan itu seolah tak berefek apa-apa, Arsha semakin gelisah dalam tidurnya, nafasnya kian kembang kempis, membuat Marvell seketika panik, namun... apa yang harus ia lakukan. Ahhh... Sial... Ia harus bagaimana saat ini?
" Euhhh... Dadh... "
" Ya... Daddy di sini boy... Tenanglah... " Marvell masih berusaha menenangkan putranya yang terlihat semakin gelisah itu.
Hingga akhirnya bola mata Arsha membelalak seketika, nafasnya terengah-engah, air mata itu jatuh membasahi pelipisnya, ia ketakutan, mimpi buruk yang tadi menyergap nya sungguh mengerikan.
" I'ts Ok... Tidak apa-apa... Kenapa kamu menangis... Hmmm... " Diusapnya lelehan air mata yang menggantung di wajah putranya itu, ia bahagia saat melihat putranya itu telah sadar, namun ia juga khawatir saat mendapati Arsha yang tadi menangis dalam tidurnya.
" Da... Dyhh... " Lirih Arsha, suaranya bergetar, ia kembali terisak, ketakutan itu kembali menyergapnya, bagaimana jika mimpi itu benar-benar terjadi, bagaimana jika ia benar-benar harus berpisah dengan daddy nya? Tidak... Tidak... Ia tidak rela, ia belum siap, ia tak akan sanggup jika harus berpisah dengan daddy yang sangat di sayangi nya itu.
" It's ok... Daddy di sini... " Di tepuk-tepuk nya dada kecil itu berusaha memberikan ketenangan untuk putranya yang mungkin saja masih terkejut dengan kejadian yang di alaminya kemarin.
" Daddy ambilkan minum ya... " Tawar Marvell yang langsung di angguki Arsha.
Di ambilnya gelas yang sudah tersedia di atas nakas, lalu beralih pada Arsha, Marvell membantu Arsha untuk bangun dari berbaring nya, ia menyangga tubuh lemah itu dengan tubuh kekarnya, tangannya setengah merengkuh agar tubuh lemah Arsha tak sampai terhuyun ke ranjang.
" Sudah? " Tanya Marvell saat gelas sudah setengah kosong.
Arsha kembali mengangguk, tatapannya hanya tertuju pada wajah lesu Marvell yang terlihat amat kelelahan, apa daddy nya itu yang sudah menungguinya semalaman? Apa sebesar ini kasih sayang yang daddy nya berikan untuk nya?
" Daddy... Maafin Arsha... " Sahut Arsha, wajahnya dipenuhi gurat penyesalan, air mata sudah menggenang di sana, ia tak kuat dengan semua siksaan ini.
" Tidak... Ini bukan salahmu, ini salah daddy karena tidak bisa menjaga kamu. Maafkan daddy... Sekarang tidurlah... "
🍁🍁🍁
Pagi mulai menyingsing, pelan-pelan Anelis mengerjabkan matanya yang terasa lengket saja untuk di buka.
Huhhh... matahari sudah tinggi, untung semalam ia mendapat tamu bulanan hingga tak ada kewajiban yang ia tinggalkan.
Di liriknya ke arah kursi samping tempat tidur Arsha, rupanya laki-laki itu sudah menghilang dari tempatnya, mungkin ia telah kembali ke kamarnya, pikir nya.
Anelis bangkit dari duduknya, ia ingin membersihkan tubuhnya yang terasa kumel dan lengket, kerudung yang semalaman harus di pakai nya juga membuat kepala nya terasa tak nyaman, kalau saja tidak ada laki-laki itu, mungkin sudah ia tanggalkan kerudung itu dan tidur dengan nyenyak.
Selesai membersihkan diri, terlihat Arsha yang sudah membuka matanya, Anelis girang bukan main, rasa bahagia itu seketika menyelusup dalam hatinya, kekhawatiran yang semalaman mengganggu tidur nyenyak nya kini seketika sirna, menguap tak tersisa.
" Sayang... Arsha... " Di hampirinya Arsha yang masih terbaring di ranjangnya.
" Alhamdulillah... Mommy senang Arsha sudah bangun nak... " Di usapnya wajah dingin itu lalu mencium kening putranya.
" Arsha sudah tidak apa-apa kan sayang? Apa kepalanya masih pusing, atau ada yang tidak nyaman? Hmmm... "
Arsha menggeleng, wajahnya sendu, masih teringat jelas saat tadi ia pura-pura tertidur dan mendapati Marvell menciumi punggung tangan dan wajahnya, setia menunggu nya tanpa lelah, sungguh... Kini ia merasa amat bersalah pada daddy nya.
" Ada apa sayang... Hmmm... Katakan sama mommy... " Anelis tahu, pasti ada yang tak beres pada putranya itu.
" Daddy... " Arsha mulai terisak, nafasnya tersengal, ia tak tahan lagi dengan jerat rasa sakit yang kini begitu menghimpit dada nya.
" Daddy? Daddy kenapa sayang? "
" Daddy jagain Arsha semalaman, daddy... sangat baik pada Arsha my... tapi... Arsha sangat jahat sama daddy... " Bulir air mata itu sudah mengalir deras, isakan lirih kini menggema di dalam kamar itu.
" Tidak... Arsha tidak jahat sayang... Kenapa Arsha berkata seperti itu? "
" Tidak... Arsha benar-benar jahat my... " Arsha menggeleng-geleng kan kepalanya. " Kemarin... Arsha menolak permintaan daddy untuk tinggal bersama... Arsha telah menyakiti daddy my... Arsha sangat jahat... " Tak terbendung lagi bagaimana perasaan nya kali ini, Arsha tak lagi bisa memendam semua kesakitan nya, hatinya terlalu perih saat mengingat semua penolakan yang di lontarkan pada daddy nya itu.
Anelis terhenyak, seperih inikah rasa yang telah di pendam putranya kini, seorang diri? Bahkan usianya masih terlalu belia, tak sepantasnya luka goresan di hatinya terus menganga lebar, berdenyut sakit setiap saat. Ia tak boleh berdiam diri, mau tak mau, ia harus secepatnya mengambil sikap.
" Apa Arsha ingin tinggal dengan daddy... Hidup sama daddy? "
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Maap kemarin absen
Jangan lupa like nya, nanti di lanjut lagi sama othor, mau ngga?😅
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕