
°°°~Happy Reading~°°°
" Iya iya... ngga sentuh... Tapi kamu bilang sama mas, kamu kenapa sayang, hmmm... "
Laki-laki itu masih saja menanyakan alasan mengapa sang istri sampai menangis hingga sesenggukan, entah pura-pura bodoh atau benar-benar bodoh, namun satu hal yang pasti, habis kau Marvell.
" Mas jahat... Hiks... " Rintih Anelis di tengah isak tangisnya yang tak berkesudahan, membuat Marvell pun kian khawatir.
" Jahat? Jahat kenapa sayang? Mas ada nyakitin kamu, hmmm... "
" Mas masih tanya kenapa? Mas ngga mikirin Ane pas mas di cium perempuan itu? Mas benar-benar tega sama Ane... " Tangisnya kian dalam dan menyayat, nafas nya pun mulai tersengal, sesak di dadanya kian menyiksa batin nya yang kini rapuh dan terluka.
" Apa!!! Kamu marah sama mas karena ini? " Marvell menepuk jidatnya, benar-benar istri nya itu polos nya luar biasa.
" Mas salahin Ane karena marah mas di cium perempuan lain? Mas benar-benar ngga punya hati, hiks... " Hancur sudah hati Anelis saat ini, kekecewaan itu semakin membuncah saat sang suami kini memihak perempuan lain.
" B-bukan begitu sayang, perempuan itu... "
" Mas tolong keluar, Ane mau sendiri... " Pangkas Anelis, wanita itu sudah kadung terluka, sakit hatinya menganga lebar, terasa begitu perih dan sakit secara bersamaan.
" Mas bisa jelasin sayang. Bukan begitu ceritanya... " Marvell bersikukuh, jangan sampai malam ini ia di tendang dari ranjangnya.
" Ya sudah kalau gitu Ane saja yang keluar... "
Yassalam...
Istrinya itu bersikukuh tak ingin mendengarkan penjelasan nya, membuat Marvell seketika itu kalang kabut tak tahu harus apa.
Anelis beranjak dari ranjangnya, semakin kalut saja pikiran bapak tiga anak itu, di cegat nya sang istri yang kini sudah berlalu hampir mencapai pintu keluar.
" Baiklah... Biar mas yang keluar... " Putus nya, memberikan waktu sang istri untuk menjernihkan pikirannya mungkin hal yang tepat saat ini. Biarlah dia yang tidur di luar, jangan Anelis. Jika sampai anak-anak tau kalau Anelis tidur di luar, apalagi si kecil Arsha, bisa habis ia oleh bocah es itu.
Brakkk...
Huffft...
Marvell menghela nafas dalam, lalu membalik badannya hendak beralih menuju sofa, namun sial bukan kepalang, saat di dapatinya sang buah hati kini tengah menatap tajam ke arahnya, kedua tangannya di silangkan di depan dada, bola matanya tajam menghunus ke arahnya, bocah laki-laki itu seperti ingin membuat perhitungan dengannya.
" Boy... Kau belum tidur? " Tanya Marvell dengan senyum kecut nya, berusaha tetap santai namun nyatanya wajahnya saja sudah terlihat gugup tak tenang.
" Daddy juga belum tidur. Kenapa di luar? "
Jadi di sini siapa yang ayah siapa yang anak sih, kenapa kesan nya Marvell seperti seorang anak yang ketahuan telah berbuat nakal?
" Emmm... Daddy... Daddy mau pipis boy... " Jawab Marvell asal, otak cerdas nya tiba-tiba buntu tak ingin di ajak bekerja.
" Di dalam kamar daddy kan ada kamar mandinya? " Sahut Arsha lagi, membuat Marvell benar-benar mati kutu.
" Ahhh... Iya ya... Daddy lupa boy, hahaha... " Tawa sumbang Marvell pun menggelegar.
" Daddy tidak masuk? " Tanya Arsha lagi saat daddy nya itu hanya sibuk tertawa tanpa berniat memasuki kamarnya.
" Ahhhh iya... Nanti saja boy. Kamu saja yang masuk ke kamar mu lebih dulu, ayo daddy antar... " Marvell hendak merangkul pundak sang putra, namun pergerakannya terhenti saat sang putra kini kembali membuka suara.
" Daddy apain mommy!!! "
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Nah loh... mau jawab apa tuh si daddy
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕