
°°°~Happy Reading~°°°
" Aku sudah memberimu cukup waktu, aku butuh jawaban... "
Seketika itu Anelis menoleh menatap wajah dingin Marvell, jantungnya berdegup kencang, hatinya bergejolak hebat, mau tak mau, suka atau tak suka, ia harus membuka mulutnya sebelum laki-laki itu kembali mencecarnya dengan puluhan pertanyaan.
" Emmm... Saya yakin, pernikahan ini dilakukan demi kebaikan semuanya. Namun, sebelum saya mengambil keputusan penting ini, saya ingin memantapkan hati saya, saya ingin... Anda menunjukkan keseriusan anda... Buktikan... bahwa anda benar-benar peduli dengan anak-anak... "
Sahut Anelis dengan suara selembut mungkin, karena ia tahu siapa yang ia hadapi saat ini, dialah Marvell, sang tuan muda penuh arogansi.
" Apa maksudmu aku tak perduli pada mereka? " Dan benar saja apa yang sedari tadi ia khawatirkan, Marvell tersulut emosi, rahangnya mengeras, wajahnya kian kelam dengan sorot mata yang menghunus tajam.
" Bukan... Bukan seperti itu. Kita tahu bahwa putri saya sangat menyukai anda, dan mungkin... akan sangat bahagia ketika mendengar kabar tentang pernikahan kita. Tapi... Tidak dengan Arsha. Saya khawatir, dia tak akan senang dengan pernikahan ini. Arsha sudah terlalu terluka dengan semua tindakan anda... "
" Tindakan yang mana... Hmmm... " Tantang Marvell, enak saja menyebut dirinya tak perduli pada anak-anaknya, lalu untuk apa ia menunggu selama dua hati hanya untuk menjemput mereka?
" Tindakan anda yang begitu kasar dan... tak mau mengakui nya sebagai anak anda... "
" Maksudnya... "
" Arsha sudah tahu bahwa anda adalah daddy nya, saat itu... di rumah sakit... Ia mendengar... Bahkan melihat... Semua pertengkaran kita... " Anelis menunduk, masih terasa perih di hati nya saat-saat dimana ia harus melihat kesedihan yang teramat dalam dari wajah dingin Arsha.
Deg...
Dunia Marvell seketika runtuh saat itu juga, bola matanya membelalak tak percaya, ia sadar ia telah menggoreskan luka yang begitu dalam di hati Anelis, namun... bagaimana bisa ia juga menyakiti hati putra nya sendiri, bahkan mungkin ia telah menciptakan akar kebencian di hati putra dinginnya itu...
Se brengs*ek inilah dirinya?
" Apa yang terjadi setelah dia mendengar pertengkaran itu? " Marvell khawatir, khawatir yang teramat sangat, melebihi khawatirnya saat di hadapkan pada kerugian perusahaan yang mencapai puluhan triliun rupiah.
" Setelah kejadian itu, Arsha menangis seharian, ia terus menyalahkan dirinya sendiri, sekeras apapun saya memberikannya pengertian bahwa ini bukan salahnya, tetap tak bisa, anak itu terlalu pandai untuk menilai segala situasi di sekelilingnya " Anelis menghela nafas, hatinya terasa sesak saat harus mengingat kembali momen paling kelam dalam hidupnya.
" Saya kira sikapnya hanya sementara, namun ternyata berlanjut sampai hari-hari selanjutnya, ia selalu murung, bahkan beberapa hari itu ia hanya memakan sedikit makanannya, itupun harus saya paksa... Setelah itu, saya memutuskan untuk pindah ke Bandung, dan Alhamdulillah... sedikit demi sedikit... Arsha bisa kembali tersenyum dan menikmati hidupnya... "
Marvell menundukkan kepalanya, matanya terpejam rapat, berusaha untuk menahan air mata yang tengah berperang ingin segera di bebaskan.
Ohh... Tuhan... Sebesar inikah dosa yang telah ku perbuat...
" Maafkan aku... " Lirihnya, wajahnya masih menunduk, ia merasa malu telah menjadi ayah yang paling buruk bagi anak-anak nya, bahkan di hari pertama pertemuan mereka, ia sudah menghina anak-anaknya dengan kata-kata buruk nan kejam.
" Bukan kepada saya anda harus meminta maaf, tapi... Pada putra anda sendiri... "
Marvell terdiam, pikirannya kalut, ia kacau, ia masih tak bisa menerima kenyataan yang baru saja di lontarkan wanita itu padanya.
"Karena itu, sebelum saya mengambil keputusan, saya ingin anda menjernihkan hubungan anda dengan putra anda lebih dulu... Jika Arsha mengizinkan anda untuk meminang saya, saya akan mempertimbangkan lagi pinangan anda... "
Marvell mendesah pasrah, hal itu terlalu sulit, ia tak begitu dekat dengan putra dinginnya itu, bukan karena ia enggan mendekatkan diri pada putra kandungnya itu, namun karena Arsha lah yang terlalu sulit untuk di dekati.
Bahkan sampai sekarang pun, tak pernah ia mengobrol panjang dengannya, atau bahkan bermain, tak sekalipun ia lakukan dengan laki-laki berwajah lebih beku darinya itu.
🍁🍁🍁
Ahhh... Sst...
Umpatnya, ia kesal bukan main, lalu dilemparkan nya tubuh kekar itu ke atas ranjang yang sudah lama sekali tak pernah ia tiduri.
Ya... Ia lebih memilih hidup terpisah di mansion pribadi miliknya, hidup dengan tenang tanpa harus mendengar segala omelan mama Clara yang selalu memekakkan telinga.
Tok tok tok
Willy berangsur memasuki kamar pribadi milik tuannya, nafasnya terdengar tak beraturan, buliran-buliran keringat membasahi kening dan dada bidangnya, hingga baju kemeja berwarna hitam pekat itu kini basah dan melekat di tubuh atletis itu.
Apa yang terjadi pada Willy?
Lima menit, hanya lima menit saja Marvell memberikan waktu pada Willy untuk sampai di kamarnya, sedang tadi ia tengah berada di halaman belakang yang jauh dari bangunan mansion, di tambah lagi tak ada akses lift di mansion ini, jadi, mau tak mau, ia harus menaiki tangga yang menjulang itu dengan setengah berlari agar tuan muda itu tak kembali memangsanya hidup-hidup.
" Will... " Marvell masih merebahkan tubuhnya di ranjang, tatapan nya kosong menatap pada langit-langit kamarnya.
" Iya tuan... " Nafasnya masih saja terdengar ngos-ngosan.
" Anak itu sudah tau kalau aku adalah daddy nya Will... "
Pernyataan itu sontak saja membuat Willy terperanjat kaget, bagaimana bisa? Bukannya Anelis tak pernah membuka tentang kebenaran itu? Bahkan gadis kecil Arshi saja masih memangil tuan muda itu dengan panggilan om-om.
" Anak itu terluka dengan ucapan ku Will... Atau mungkin saja dia kini telah membenciku... Apa yang harus kulakukan Will... " Suaranya terdengar lirih, jelas terlihat raut wajah penyesalan dalam matanya yang terlihat sayu dan sedikit memerah.
Willy menarik nafas panjang, ada rasa tak tega melihat tuan muda yang biasanya penuh dengan sifat arogan itu, kini terlihat sendu dengan sejuta penyesalan yang terlihat dari sorot matanya.
" Sedikit banyak, putra anda memiliki kepribadian yang sama dengan anda, meski di luar tampak dingin tak tersentuh, tapi hatinya begitu hangat dan lembut. Saya tidak memiliki jawaban atas pertanyaan anda tuan, tetapi yang memiliki jawaban itu hanya anda sendiri. Tanyakan pada hati anda, apa yang harus anda lakukan, hanya anda yang tahu segalanya... "
Marvell membisu, otaknya berusaha mencerna semua ucapan Willy yang ternyata ada benarnya juga.
Ahhh... Kepalanya malah semakin pusing memikirkan cara untuk mengambil hati putranya itu.
" Hmmm... Pergilah... " Sahut Marvell masih memejamkan matanya rapat-rapat, jemarinya memijit pelan kepalanya yang terasa pusing tujuh keliling.
Perjuangannya baru akan di mulai, ia tak boleh menyerah sebelum bendera perang di kibarkan. Ia harus tetap berjuang, ia tak ingin anak-anak itu lebih tersiksa dengan kehidupan yang serba kekurangan, apalagi jika kekurangan kasih sayang, tak akan pernah ia biarkan.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Mau lamarannya di terima?
Nggak semudah itu Fergusso🤣
Makasih buat kalian yang udah nebangin semua pohon-pohon, Alhamdulillah othor nggak nyangkut lagi😅
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕