
°°°~Happy Reading~°°°
Anelis menunduk dengan wajah cemberutnya, ia kesal namun tak bisa meluapkan nya, ia sebal namun tak bisa memberontak, ia kalah dari sang suami, hingga akhirnya membuatnya terduduk tak berdaya di atas kursi roda dengan tangan yang setia menggenggam cairan infus milik sang suami.
Sedang Marvell? Laki-laki itu kini tengah mendorong kursi roda yang tengah di duduki oleh sang istri, padahal dirinyalah yang kini tengah sakit bahkan masih mengenakan pakaian rumah sakitnya, namun laki-laki bertubuh kekar itu memilih untuk mendorong kursi roda yang seharusnya di peruntukkan untuknya, membuat semua orang geleng-geleng kepala atas tingkah posesif sang CEO yang sangat over load itu.
" Mas... " Rengek Anelis, wajahnya masam, suasana hatinya buruk saat tatapan-tatapan aneh ia dapati dari orang-orang yang berlalu lalang.
" Hmmm... " Marvell hanya berdeham, namun wajahnya sungguh berseri indah, yah... keadaan nya sudah agak membaik, hanya terkadang masih merasakan mual di pagi hari atau pada bau-bau menyengat saja.
" Mas aja deh yang duduk di sini, biar Ane yang dorong. Mas kan yang sakit, masa mas yang dorong Ane... Ane kan sehat wal aafiyat mas... " Anelis masih berusaha mencoba membujuk sang suami.
" Kamu kan lagi hamil sayang... Kamu ngga denger kata dokter kemarin, tidak boleh banyak bergerak... " Ingat Marvell.
" Ini hanya berjalan mas... Apa nya yang banyak bergerak... " Rengek Anelis.
" Tetap saja kamu melangkahkan kakimu sayang, itu membuat semua anggota tubuhmu ikut bergerak kan, termasuk perut mu... "
" Iya sih... Tapi... " Ahhh... Anelis jadi bingung sendiri bagaimana harus menjelaskannya.
" Maka diamlah dan duduk manis saja... "
" Mas... " Anelis tetap merengek, membuat Marvell sontak menghentikan langkahnya.
" Ya sudah, berdirilah... "
Bola mata Anelis berbinar, angin segar bagai hinggap di hatinya.
" Beneran? "
" Hmmm... Berdirilah dan aku akan mencabut jarum infus sial*n ini dari tanganku... " Ancam Marvell dengan nada suara yang dingin menusuk hati.
" Mas... " Anelis merintih, suara dingin suaminya itu terasa sangat menusuk hati rapuhnya, bola matanya mulai menganak sungai, siap memuntahkan cairan bening nya.
Mendapati istrinya itu akan memuntahkan air matanya, sontak saja membuat Marvell merasa bersalah.
" M-Maafkan aku sayang... Apa aku terlalu keras... Sungguh aku tidak bermaksud, sudah jangan menangis okay... " Marvell mengusap lembut wajah Anelis.
" Mas sukanya maksa ih... Ane nggak suka... " Dan akhirnya satu bulir air mata itu lolos juga dari bola mata Anelis.
" Daddy shuttop... "
Suara tak asing itu sontak membuat keduanya menoleh dan menepi sejenak dari perdebatan.
Terlihat sosok kecil Arsha dan Arshi yang berangsur mendekat ke arah mereka, kenapa kedua bocah itu sudah ada di sini? Bukankah ia sudah berpesan pada sang papa untuk menahan kedua bocah itu beberapa jam, sedangkan ini baru berlalu setengah jam, dan mereka sudah kembali--sendirian? dimana papa dan mama nya itu?
Marvell mendengus kesal, papa nya itu memang tidak bisa di andalkan, gagal sudah rencana berduaan dengan sang istri tercinta.
" Pasti daddy usil lagi kan sama mommy? " Tebak Arsha.
" No my twins... Daddy tidak apai-apain mommy kok... "
" Daddy beulbohong... Ashi eundak peulcaya shama daddy... "
" My twins... " Pinta Marvell, tangannya mengulur ingin meraih si kembar, namun pergerakannya terhenti saat sang putri menyilangkan kedua tangannya membentuk huruf x.
" Shuttop... Daga dallak shatu metell... Daddy eundak boleh pedang-pedang Ashi shampe mommy mau maap-maap shama daddy... " Bocah kecil itu menunjukkan protes keras.
" Arsha tidak suka di peluk di tempat umum dad... " Peringat Arsha.
Marvell hanya bisa menghela nafas dalam, putri kecilnya itu memang sangat keras kepala, berbeda dengan Arsha yang sedikit bisa di ajak kompromi.
" My twins... Mommy sudah maafin daddy kok... Iya kan mommy sayang... " Marvell menatap sang istri penuh harap, namun istrinya itu tak kunjung menyahut dan malah mendiamkan nya.
" Kaka Arshi sama kaka Arsha... Sini peluk mommy... " Anelis merentangkan tangannya, membuat Arshi dan Arsha seketika masuk ke dalam pelukan sang mommy.
" Anak-anak mommy dari mana saja, hmmm... Kenapa lama sekali pergi nya? " Sahut Anelis setelah menguarkan pelukannya.
Tiba-tiba Marvell mengernyit, bukannya tadi putranya bilang tak mau di peluk di tempat umum? Tapi kenapa di peluk mommy nya ia mau-mau saja? Marvell mendengus kesal.
" Tadi glanny shama glandpa ajak Ashi main di tumpat beulmain... Peulmainan na badus-badus myh... " Sahut Arshi lalu beralih menatap ke perut Anelis.
" Dedek bayi oek oek apa kaball... Kok eundak ada shualla na, dedek bayi oek oek lagi tidull ya... " Seloroh Arshi seolah tengah berbincang dengan sang adik.
" Iya... Dedek bayi nya capek nunggu kaka Arshi sama kaka Arsha... "
" Tup tup tup... Maapin kaka Ashi ya dedek bayi oek oek... Nanti kallo dedek bayi oek oek beulhenti meunnangis nanti kaka Ashi kashih hadiah buat dedek bayi... " Sahut Arshi sembari mengusap-usap di perut Anelis.
" Boy... Dimana granny sama grandpa? " Tanya Marvell pada Arsha.
" Katanya mau mampir sebentar ke hotel sebelah dad... "
Ucapan putranya itu membuat Marvell seketika naik pitam.
" Dasar akik-akik... Anaknya lagi sakit malah dia enak-enakan main di hotel. Awas saja tuh akik-akik... " Pekik Marvell tak terima.
🍁🍁🍁
Annyeong chingu
Happy Reading guys
Saranghaja 💕💕💕