
°°°~Happy Reading~°°°
Jantung Marvell berdetak hebat, air mata sudah jatuh menetes membasahi wajah nya, ia tak lagi bisa menahan perasaannya, hatinya terasa berdenyut hebat, sakit bukan main, percakapan itu benar-benar telah menampar dirinya, bagaimana dirinya yang dulu telah memberikan luka yang begitu dalam bagi buah hatinya, begitu juga pada wanita yang akhir-akhir ini sangat mengganggu pikirannya.
Di bukanya pintu kamar itu perlahan, air matanya semakin deras mengalir saat bola matanya menatap dua manusia yang saling merengkuh dalam isak tangis yang begitu pilu.
Betapa bodoh dirinya yang dulu telah mengolok buah hatinya sendiri dengan sebutan anak haram, menyia-nyiakan wanita sebaik dan setulus Anelis, sungguh hanya penyesalan yang kini tersisa dalam hatinya.
" Da...dy... " Tangis Arsha kian menjadi saat mendapati daddy nya kini ada dihadapannya, tak mampu ia menjabarkan bagaimana perasaannya saat ini, haru dan bahagia, semua bercampur menjadi satu.
" My son... "
" Boleh aku memeluknya? " Pintanya pada Anelis.
Anelis melepas rengkuhannya, menggeser tubuhnya, ia ingin memberikan waktu pada sepasang ayah dan anak itu untuk saling merengkuh melepas kerinduan.
Di rengkuh nya tubuh mungil itu, mendekapnya erat, ia tak lagi bisa berkata-kata, hanya isak tangis yang menggema di penjuru ruangan.
" Maafkan daddy... Maafkan daddy putraku... Jangan pernah tinggalkan daddy lagi... Tetaplah disini bersama daddy... "
Arsha menggeleng cepat.
" Tidak akan... Arsha tidak akan ninggalin daddy... Arsha akan tetap bersama daddy... Arsha sayang sama daddy... "
" Daddy juga sayang sama Arsha... Jadi... jangan pernah tinggalkan daddy lagi, janji? "
Arsha mengangguk dalam rengkuhan nya.
" Arsha janji... Arsha janji nggak akan ninggalin daddy... Arsha sayang sama daddy... "
Isak tangis memenuhi seisi ruangan, mereka larut dalam perasaannya masing-masing hingga melupakan fakta bahwa masih ada sosok kecil yang masih merengkuh indahnya sang mimpi.
Gadis mungil itu mulai mengerjap, tangan mungilnya mengucek kedua matanya yang silau dengan cahaya yang berpendar, tidurnya benar-benar terganggu dengan bising yang menusuk indra pendengaran nya.
" Mommy... " Belum juga membuka matanya, gadis mungil itu sudah mencari keberadaan sang mommy tercinta.
Anelis segera mendekati anak gadisnya yang masih terbaring, di singkirkan nya beberapa helai anak rambut yang berserakan menutupi wajah putrinya, lalu mengecup keningnya, sungguh ia di buat gemas sendiri dengan ekspresi imut yang tak sengaja tercipta dari wajah putrinya.
Cup...
" Arshi nggak bangun, hmmm... "
Perlahan, Arshi mulai membuka lebar kelopak matanya, pemandangan yang sangat asing itu langsung saja mengambil alih perhatian nya.
" Om danteng di shini? " Arshi memekik girang, tubuhnya kini refleks bangkit dari tidurnya.
" Morning girl... Putri cantik daddy sudah bangun... " Sapa Marvell masih merengkuh Arsha dalam dekapannya.
Bukannya bahagia, Arshi malah langsung terisak, membuat Marvell seketika berubah cemas, kenapa putri kecil nya itu malah menangis dengan sapaan hangat nya.
" Sayang... Arshi kenapa, hmmm... " Di usapnya air mata itu dari wajah putrinya.
" Ashi mau daddy... Ashi mau daddy puyang myh... Ashi mau daddy banunin Ashi shepeulti om danteng banunin Ashi tadi... "
Marvell langsung tersadar dengan perkataannya, saking tenggelamnya dalam buai kebahagiaan, ia sampai melupakan fakta bahwa putri kecilnya itu masih belum mengetahui perihal siapa daddy nya.
" Sini peluk om... " Marvell merentangkan sebelah tangannya, sedang yang satunya masih merengkuh erat putranya, ia masih tak rela melepas rengkuhannya begitu saja, ia masih ingin berlama-lama mendekap tubuh mungil itu.
Arshi merangkak mendekati om danteng nya, menyusupkan wajahnya yang basah di dada bidang itu, ia benar-benar rindu akan sosok ayah dalam hidupnya.
" Ashi mau daddy Ashi di shini om danteng... Ashi eundak mahu daddy keulja tellus... Ashi mau daddy Ashi... "
" Iya iya .. Daddy di sini... Sudah, jangan nangis lagi... " Di tepuk-tepuk nya punggung Arshi yang terasa bergetar dengan isaknya.
" Eundak... Om danteng kan bukan daddy Ashi... Ashi mau na daddy Ashi... " Bukannya mereda, tangisnya malah semakin kencang, ia sedih dengan kenyataan bahwa daddy nya tak ada di sisinya.
Sejenak Marvell melirik ke arah Anelis, meminta persetujuan, wanita itu mengangguk pelan, bagaimanapun, cepat atau lambat, putrinya itu harus tahu siapa ayah kandungnya.
" Arshi mau nggak kalau om jadi daddy nya Arshi, hmmm... "
" Daddy na Ashi? Sruukk... " Arshi menarik kembali ingus yang hendak meloloskan diri dari lubang hidungnya.
Marvell mengangguk.
" Kalau om danteng jadi daddy na Ashi... nanti Ashi boleh tidull shama om danteng? "
Kembali Marvell mengangguk.
" Ashi boleh minta peyuk shama om danteng? "
" Ashi boleh minta gendong shama om danteng?
" Kalau om danteng jadi daddy na Ashi... Nanti om danteng yang antellin Ashi beulangkat ke sheukulah shepeulti temen-temen na Ashi? "
" Iya... Arshi mau kan? "
Seulas senyum seketika mengembang dari bibir piech Arshi, rasa bahagia seketika menelungkup dalam hatinya, bagaimana bisa ia menolak jika om danteng kesayangannya itu akan menjadi daddy nya?
" Ashi mau... Ashi mau om danteng jadi daddy na Ashi... "
Arshi memekik girang, ia melepas paksa rengkuhan daddy nya, berdiri bertumpu pada kaki mungilnya, ia sontak melompat-lompat kegirangan.
" Yeeay... Ashi puna daddy... Daddy na Ashi keullen sheukalli... Nanti Ashi kashih lihat shama temen-temen biall meleka eundak bisa ejek Ashi lagi... kalna... sheukalang Ashi udah puna daddy yang paalling Keullen... Yeay... " Bocah mungil itu meloncat-loncat kegirangan, hingga ranjang besar itu mulai bergoyang mengikuti lompatan lincahnya.
Cup...
Arshi mengecup pipi daddy baru nya, lalu merengkuh tubuhnya, bahagia tiada tara yang ia rasakan saat ini.
" Ashi sayang shama daddy... "
Cup...
Lagi-lagi bocah itu menghamburkan ciuman untuk daddy nya.
Cup...cup...
Dikecupnya kening kedua buah hatinya bergantian, lalu merengkuh keduanya dalam dekapan hangatnya.
" Daddy sayang kalian, my twins... "
Air mata kembali luruh dari bola mata Anelis, pemandangan itu benar-benar telah menyayat hatinya, mungkin memang ini adalah keputusan terbaik yang harus ia ambil, luka akan sembuh seiring berjalannya waktu, cinta pun akan hadir seiring ia mencoba membuka hati.
Tak apa... Memang awalnya terasa berat, Ia hanya harus menunggu sang waktu bekerja, membalikkan hatinya, dari benci menjadi cinta.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Maap, part ini kaya kurang feel deh 😭
Mohon maklum ya Chingu
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕