
°°°~Happy Reading~°°°
Matahari mulai merangkak naik, hawa panas kian menguar di tengah terik matahari yang terasa membakar kulit.
Wajah dingin itu tampak semakin kelam, sorot matanya tajam, menghunus pada bola mata hitam yang terlihat begitu tenang tanpa sedikitpun raut ketakutan, membuat wajah kelam itu kian memanas, menahan amarah yang ingin segera di luapkan.
" Kau mengenalku? " Sinis nya.
" Tentu saja tuan Marvell De Enzo... "
" Apa yang kau lakukan disini? "
" Saya hanya tengah menghabiskan waktu liburan saya tuan... "
Marvell menghela nafas berat, ia tak mendapatkan jawaban seperti yang diinginkannya, membuatnya semakin kesal bukan main.
" Jangan membodohi ku, Raka Adiguna "
" Saya tidak akan bisa membodohi anda tuan, bukankah anda adalah seorang terpelajar " Raka berkelit.
" Kau lihat mereka? " Marvell melempar pandang ke arah bodyguard-bodyguard yang kini tengah mengawasi mereka, berdiri tegap di sisi mobil yang terletak tak jauh dari tempatnya berada. " Mereka siap mencincang habis mayat mu jika saja kau masih bertingkah kekanakan seperti ini, tuan Raka!!! " Sindirnya.
" Katakan!!! Tugas apa yang papa berikan kepadamu!!! " Sorot matanya kian kelam.
" Hanya tugas kecil untuk mengawasi sebuah keluarga yang tengah kesulitan tuan... " Raka tak gentar, sedikit pun ia tak merasa terintimidasi oleh ancaman kejam Marvell.
" Cih... Mengawasi? Kau bilang itu mengawasi? " Amarah Marvell mulai meninggi, ia tak lagi bisa membendungnya, di tariknya kerah baju Raka, lalu menyengkram nya kuat.
" Kau bahkan menyentuh anak-anakku bodoh... Seharusnya kau hanya menggunakan matamu, bukan dengan tangan kotor mu itu " Sorot matanya tajam menghunus.
" Awalnya saya berniat tetap dalam persembunyian saya tuan, namun saya terpaksa menampakkan diri karena saat itu situasi nona Anelis tengah dalam bahaya, nona Anelis hampir saja di copet oleh bandit kejam, haruskah saya membiarkan nya begitu saja? " tantang Raka.
" Breng*ek!!! " Marvell melepas cengkraman di leher Raka dengan kasar, ia mengusap wajahnya frustasi, tak pernah ia menyangka keadaan Anelis akan separah itu.
" Apa wanita itu terluka? " Sorot matanya yang tajam kini berubah sendu.
" Saya menyelamatkan nya tanpa meninggalkan sedikitpun luka goresan tuan... "
🍁🍁🍁
Mobil mewah itu mulai membelah jalanan perkampungan, menyusuri jalanan setapak yang hanya muat untuk di lalui mobil sport itu seorang diri.
Para warga yang tengah menikmati hari minggu nya sontak terprofokasi untuk bergosip tatkala mobil mewah itu melintasi jalanan depan rumah mereka. Mereka bingung bukan main, bagaimana bisa mobil semewah itu bisa mondar-mandir di jalanan kampung terpencil itu?
Marvell semakin menekuk wajah bekunya, ia mengurut pelipisnya yang terasa berdenyut, rasanya begitu memusingkan, ia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan agar wanita itu bersedia ikut bersamanya.
Ia dilema, tetap membiarkan mereka hidup di rumah sempit itu ia tak rela, meninggalkan nya ke kota pun apalagi, sudah cukup mereka menderita, sudah cukup mereka hidup dalam kekurangan, ia tak ingin lagi membuat mereka nelangsa dan hidup serba kekurangan.
Mobil itu mulai memasuki halaman rumah Anelis yang masih di jaga ketat oleh bodyguard-bodyguard nya, Willy juga turut tinggal di rumah Anelis saat ia harus pergi mengurus masalah Raka tadi.
Bukan Marvell posesif, ia hanya tak ingin meninggalkan mereka tanpa penjagaan, sudah cukup selama ini mereka hidup bebas di tengah kejamnya dunia, dan ini lah saatnya kedua anak dan wanita itu hidup bahagia tanpa ancaman.
Salah satu bodyguard itu membukakan pintu mobilnya, ia melangkah keluar, namun tanpa di duganya, ia langsung di sambut oleh suara tangisan yang menggelegar dari dalam rumah sederhana itu.
Suara Arshi, ya... jelas sekali itu suara putri kecilnya, bukankah gadis kecil itu tadi tengah meringkuk menikmati tidur siangnya, lalu kenapa putri kecilnya itu tiba-tiba saja menangis hingga membabi buta? Ataukah gadis imut itu menangisi susu stroberi nya lagi? Pikir nya.
Ia melangkah lebar mendekati Willy yang terlihat pusing, baru kali ini asistennya itu menekuk wajahnya pusing, seumur-umur, meski ia memberi tugas seberat apapun, asistennya itu pasti akan tetap menyelesaikan nya dengan baik.
" Ada apa Will? "
" Emmm... I-itu tuan, nona Arshi menangis... "
" Aku tahu kalau anak itu menangis bodoh, ahhh... Sudahlah semakin kesini sifat bodoh mu itu semakin terlihat... " Gerutu Marvell.
Marvell melangkah meninggalkan Willy di teras dengan wajah kesal, ia melangkah ke dalam rumah, suara tangisan Arshi kian menggema, suaranya terdengar serak, sepertinya putri kecilnya itu sudah menangis terlalu lama.
" Kenapa dia menangis? Butuh susu lagi? " Sahut nya tanpa rasa bersalah, padahal dirinya lah yang kini menjadi penyebab putri kecil itu menangis sesenggukan.
Seketika itu Anelis membalik badannya menatap ke arah Marvell, Arshi yang mendapati Marvell di depannya sontak meronta ingin di turunkan dari gendongan sang mommy, terpaksa Anelis melepas gadis mungil itu dari gendongannya, atau kalau tidak Arshi akan semakin kencang dengan tangisnya.
" Ohhh... Putri kecil ku, kenapa kau menangis, hmmm... "
Marvell membalas dekapan itu, ia menepuk-nepuk punggung bergetar Arshi, sedang tangan lainnya mengelus surai rambut Arshi yang terlihat berantakan.
" Om...hiks... Keuh napa eundak... Billang kalo mau... Peul...gi... Ashi... Eundak mahu... Om... Peulgi... Ashi mau on dishini.... Huhuhu... " Sahut Arshi terbata-bata, gadis kecil itu menelusupkan wajah sembabnya di bahu kekar Marvell, tangan kecilnya melingkar di leher Marvell erat.
" Om tidak akan kemana-mana, tenang lah... Lihat ibumu, dia bersedih karena kau menangis seperti ini, berhentilah menangis girl, kau cantik jika tersenyum... "
Marvell melempar pandang pada Anelis yang kini berdiri menghadap ke arahnya, terlihat kesedihan di wajah wanita itu, bahkan beberapa kali terlihat mengusap air mata yang jatuh di pipinya, muncul rasa tak tega di hatinya, hatinya seolah tak rela air mata itu telah menyakiti manik indah mata itu.
Tangis Arshi akhirnya mulai mereda, Marvell bangkit dari posisinya, menggendong gadis kecil itu keluar rumah, mencari udara sejuk yang mungkin saja bisa membuat gadis kecil itu jauh lebih tenang.
" Will... " Marvell mengulur tangannya, meminta Willy memberikan sesuatu untuknya.
Willy yang paham akan titah itu, segera memberikan sebuah tablet kepada bos nya.
" Kau ingin menonton sesuatu? " Marvell menawari Arshi yang kini duduk di pangkuan nya, tangannya memegang pen mengukir sesuatu di atas tablet yang di genggamnya.
" Upin, hiks... " gadis itu masih saja sesenggukan meski tangisnya sudah berhenti, membuktikan bahwa tangisnya tadi begitu dalam dan lama.
" Oke girl... It's youre mine "
Arshi mulai menonton kartun kesukaannya, wajah sedih itu mulai sirna dari wajahnya, sesekali bibir tipis nya melengkung menertawai kartun yang tengah di tonton nya.
Anelis yang tengah duduk di sebrang Marvell sembari memangku si kecil Arsha, akhirnya kini bisa bernafas lega, setelah melihat putri kecilnya itu sudah berhenti dari tangisnya.
Sedari tadi ia diliputi rasa ketakutan, panik bukan main, kenapa putri kecilnya itu menangisi kepergian laki-laki itu, laki-laki yang bahkan tidak di ketahui putrinya bahwa dia adalah ayah kandungnya.
Lalu, bagaimana jika putri kecilnya itu tahu bahwa laki-laki itu adalah ayahnya? Seseorang yang begitu ingin di temui putri kecilnya itu sejak lama? Apakah nantinya, putri kecilnya itu lebih memilih Marvell di bandingkan dirinya? Tidak...tidak...
Anelis berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran buruk itu.
Tiba-tiba saja tablet itu bergetar, layar tablet itu pun berubah menjadi sebuah panggilan, Arshi sedih karena kartun kesukaannya kini menghilang begitu saja.
" Upin, hiks... " Arshi mendongak menatap Marvell dengan wajah sedihnya.
" Kenapa, hmmm... " Marvell ikut menatap ke arah pandang Arshi yang menatap sendu tablet yang di genggamnya.
Panggilan video dari sang mama, tiba-tiba saja muncul ide cemerlang dari otaknya, apakah ini kesempatan untuk mengambil simpati Anelis agar mau ikut bersamanya kembali ke Jakarta?
Tanpa ragu ia menerima panggilan video itu, padahal biasanya ia malas menerima nya hingga mama nya itu harus menggunakan Willy agar bisa menghubungi putra satu-satunya itu.
" Dasar bocah tengik, kemana saja kamu. Mama suruh mencari cucu mama, buka malah menghilang tanpa jejak... " Terlihat mama Clara yang sudah ngerocos tanpa henti, wajahnya terlihat sangat kesal menahan amarah.
" Itu capa om... Ashi atut... " Arshi mengembalikan tablet itu pada Marvell dengan layar yang kini menghadap ke arahnya, membuat seseorang di sebrang sana kini bisa melihat wajah menggemaskan yang sangat di rindukannya.
" Itu siapa Vell... Apa itu benar-benar cucuku? Marvell... " Teriak mama Clara kesal karena tak juga mendapat sahutan.
" Tenanglah mam, dia ketakutan mendengar suaramu... "
" Sayang Arshi... Kesayangannya granny... Ohhh... Granny sangat merindukanmu my sweety... " Mama Clara bersorak gembira, Arshi yang tadinya ketakutan kini berubah riang, bibirnya tersenyum lebar saat ia melihat sang granny kini ada di layar besar itu.
" Gleniiii... Ashi kanen shama glenii... "
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Maap nyangkut lagi di pohon jahe
Othor panjangin dikit nih, dikit-dikit ngga papa ya...
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕