Baby Twins CEO

Baby Twins CEO
Orang Luar


°°°~Happy Reading~°°°


Ritual makan malam kali ini terasa sangat berbeda, kursi yang biasanya di biarkan kosong kini telah memiliki penghuni barunya, sedang penghuni yang sebelumnya menghilang ke entah berantah, kini akan kembali menempati kursi lamanya.


Mama Clara tak mampu lagi membendung rasa bahagianya, hidup yang sebelumnya terasa hampa, kini kembali berwarna, keberadaan Anelis dan kedua cucu kesayangannya di mansion itu benar-benar membuat mama Clara bahagia berjuta rasanya.


Anelis mulai menempati kursi makan sesuai yang di arahkan pelayan kepadanya, seperti biasa, ia duduk dengan di apit dua bocah menggemaskan Arsha dan Arshi, agar ia bisa leluasa memperhatikan keduanya.


Inilah kesulitan memiliki bayi kembar, apalagi dengan sifat mereka yang sangat bertolak belakang layaknya Arsha dan Arshi, Anelis harus ekstra berhati-hati agar tak sampai membedakan kasih sayang keduanya, tidak ada yang lebih tidak ada yang kurang, semuanya harus seimbang, tanpa membedakan.


Anelis mulai di dera rasa tak nyaman saat harus berada di tengah-tengah keluarga konglomerat itu, apalagi ia hanya orang luar, rasanya begitu sungkan, membuat nya senantiasa di liputi kegusaran dalam setiap gerak-geriknya.


Sekuat hati ia berusaha menekan segala ego dalam dirinya, bertahan lah, hanya untuk beberapa hari saja, ia akan menginap di mansion mewah itu untuk beberapa hari kedepan, sesuai dengan janji nya pada mama Clara.


Janji?


Ya, janji itu terucap saat Anelis tengah menemani mama Clara di rumah sakit tempo hari, tak tega ia melihat mama Clara yang terus saja mengiba ingin di temani cucu-cucu kesayangannya setelah kepulangan nya dari rumah sakit, tak muluk-muluk ingin mama Clara, bahkan wanita yang tak lagi muda itu hanya menginginkan satu malam saja untuk menuntaskan rasa rindunya pada cucu-cucu yang baru di temuinya.


Ingin Anelis menolak, namun pikirannya masih waras, ia masih memiliki hati nurani, tak mungkin ia bisa menolak permintaan sesederhana itu dari perempuan yang telah sangat baik kepadanya, apalagi dia adalah nenek dari anak-anaknya, beliau juga memiliki hak atas kedua anak itu.


Semua orang mulai berdatangan menempati kursi makan nya masing-masing, namun dimana si bos arogan itu berada?


Baru saja Anelis membatin, sosok jangkung itu sudah berjalan di depannya, memundurkan kursi makannya, ia duduk dengan tenang seolah tak merasa bersalah karena membuat seisi ruangan itu menunggu begitu lama.


Tapi, tunggu... Anelis mengerutkan dahinya, dari banyaknya kursi yang berjajar, kenapa laki-laki itu memilih duduk di sebelah Arsha, putranya?


Perasaan khawatir mulai menggelayuti hatinya, ia tahu betul, Arsha tak akan nyaman jika harus duduk di sebelah laki-laki itu, ingin sekali ia mengganti posisi duduknya, namun sikapnya itu tak akan sopan jika di pandang, apalagi ia hanya orang luar disana.


Ahhh... Apa yang harus di lakukan nya ya Allah...


Sampai akhirnya, fokusnya teralihkan pada si kecil Arshi yang berangsur turun dari kursinya, dan kini meringkuk di pelukan kakinya.


" Kenapa sayang... " Anelis menaikkan Arshi di pangkuannya, terlihat jelas wajah menggemaskan putri kecil nya itu berubah dengan raut ketakutan yang membuncah.


" Mommy... Ashi atut... " Arshi menenggelamkan wajahnya di dada Anelis yang terselimuti kerudung segi empat, membuat pandangan gadis kecil itu menjadi menghitam.


" Takut apa...hmmm... " Anelis menyingkirkan anak rambut putrinya yang berserakan menutupi wajah cantik Arshi.


" Itu myh... " Tunjuk Arshi ke arah meja makan tanpa menatap objek yang di tunjuk nya yang entah mengarah kemana.


" Apa sayang... Bilang sama mommy... "


" Ashi atut myh... Udan na beushal sheukali... Ashi atut... "


Anelis menelisik ke arah meja makan, mencari objek yang berhasil membuat putri kecilnya itu meringkuk ketakutan di rengkuhannya.


Apakah yang di maksud putrinya itu adalah olahan lobster jumbo yang kini tersaji cantik di piring besar itu?


Sibuk dengan pemikirannya, mama Clara menyela lamunannya, ibu beranjak paruh baya itu terlihat ikut khawatir dengan cucunya yang sedari tadi ngumpet di balik kerudung Anelis.


" Ada apa nak... Apa ada yang salah? "


" Emmm... Maaf ma... Sepertinya Arshi takut sama lobster... " Jawabnya sungkan, berada di meja makan mewah itu saja sudah membuat nya merasa tak enak hati, apalagi jika sampai menimbulkan kegaduhan, ya Allah... Anelis benar-benar berada dalam kondisi yang sangat sulit saat ini.


" Lobster? " Mama Clara bermonolog sendiri. Lalu melempar pertanyaan nya pada Arshi.


Di tanya seperti itu Arshi langsung menggeleng.


" Eundak... Ashi eundak atut lotell... Ashi atut udan yang beushall sheukalli... " Arshi masih saja menyembunyikan wajahnya di helaian kerudung Anelis.


" Lihat granny... Arshi takut ini? " Mama Clara menyerongkan sepiring cantik berisi olahan lobster saus tiram agar terlihat oleh cucu cantiknya.


Arshi mengintip sedikit, lalu mengangguk yakin, buru-buru ia menyembunyikan wajahnya lagi, ia takut bukan main.


Tanpa banyak kata, mama Clara langsung saja memerintahkan pelayan untuk menyingkirkan makanan itu dari meja makan, tak perduli pada wajah menyedihkan tuan Edgard yang tak rela jika makanan kesukaannya itu di buang begitu saja.


" Sudah sudah... Udang besarnya sudah hilang... " Cemas mama Clara.


Arshi mengintip sedikit, benar, sesuatu yang tadi di takutkan nya sudah menghilang dari sana, segera ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah meja makan, perutnya sudah berbunyi sejak tadi akibat ulah makanan-makanan menggiurkan itu.


" Sayang, Arshi duduk sendiri di kursi ya... "


" Eundak mahu... Ashi mau di shini shama mommy aja... " Rasa takut itu masih terselip di hatinya, membuat Arshi enggan untuk jauh-jauh dari mommy nya.


Tatapan mengiba Arshi sukses membuat Anelis menjadi luluh, membuatnya dengan sukarela membiarkan gadis mungil itu tetap berada di pangkuannya.


" Arshi mau pasta? " Mama Clara menawarkan olahan pasta pada Arshi yang terlihat celingak-celinguk memilih menu makanannya.


" Pashta? " Arshi yang sebelumnya tak pernah tahu makanan itu pun merasa bingung.


Menatap kebingungan Arshi, mama Clara menyunggingkan senyumnya, di sodorkan nya olahan mie yang tersaji cantik di piring bulat.


" Itu eundak pashta, itu mi oyeng glenni... " Jiwa sok benar Arshi mulai menyeruak hebat, kini ia bertindak layaknya ibu guru yang tengah mengajari granny nya.


" Bukan mi oyeng Arshi, ini namanya pasta... "


" Eundak... Ini mi oyeng... Ashi peulnah di bikinin mommy di llumah, lasya na enak seukali, Ashi shuka... " Keukeh Arshi ingin menang sendiri.


Ya sudahlah, mama Clara tetap memberikan menu itu pada Arshi tanpa bantahan, terlihat sekali bahwa cucu kesayangannya itu sudah sangat kelaparan.


Arshi mulai meraup pasta itu dengan garpu mini, lalu menyuap nya ke mulut dengan gerakan tak stabil, membuat mulut nya kini penuh dengan saus pasta yang entah kenapa malah semakin membuatnya gemas.


Selesai dengan putri gaduh itu, Anelis beralih pada Arsha, Arsha bukan anak yang pilih-pilih makanan, saat Anelis menawari menu makanan paling sederhana di meja makan itu, Arsha pun langsung menyetujui tanpa membantah sedikitpun.


Akhirnya makan malam itu bisa di mulai dengan damai, tak ada lagi celotehan Arshi yang membuat gaduh seisi ruangan, gadis itu sudah khusyuk dengan olahan mie di depannya, semua orang mulai menikmati makanan nya, terkecuali manusia berwajah kelam itu, siapa lagi kalau bukan Marvell.


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Maap maap, othor nyangkut nya kelamaan


Lagi ambil cabe buat opor, ehhh... malah nyangkut gara-gara tangganya di ambil tetangga, hehehe...


Happy Reading


Saranghaja 💕💕💕