
°°°~Happy Reading~°°°
Anelis duduk di ranjang milik suami barunya itu dengan risau, bola matanya tak henti berkelana menyusuri setiap sudut ruangan sekedar menghilangkan rasa tak nyaman yang menyeruak, namun usahanya itu sia-sia, rasa gugupnya kian menjadi tatkala suara gemericik air kian mendengung dalam gendang telinganya.
Klek...
Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sosok sang tuan muda yang hanya dengan lilitan handuk putih di pinggang, alhasil barisan roti sobek itu kini terpampang nyata di sana. Anelis yang awalnya menatap ke arah suaminya itu seketika memalingkan wajahnya, pipinya merona, nafasnya kembang kempis, pemandangan langka itu benar-benar membuatnya malu bukan kepalang.
" Kau sendirian? Dimana anak-anak? " Sahut Marvell saat tak mendapati anak-anak di kamarnya, pasalnya sedari kemarin Arshi sudah merengek meminta tidur berempat.
" Anak-anak sudah tidur di kamar mama... " Sahut Anelis namun tak menatap pada lawan bicara nya.
Marvell hanya mengernyit, sebelah tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk putih kecil, sedang sorot matanya setia menatap pada istri barunya yang terlihat semakin gugup itu.
" Eum... Saya... saya sudah siapkan baju untuk anda... " Dari pada terus di tatap seperti itu, Anelis memilih bangkit, lalu menyerahkan pakaian yang sudah ia siapkan untuk suaminya.
" Hmmm... Terimakasih... "
Marvell menyaut pakaian itu dari tangan Anelis, lalu memakainya disana, di depan Anelis, membuat perempuan berhijab itu seketika kalang kabut.
" An...Anda kenapa memakainya disini... " Sentak Anelis langsung memutar badannya membelakangi suaminya yang tengah asyik memakai pakaian di dalam ruangan yang sama dengannya, tanpa rasa malu.
" Ohhh... Aku lupa kalau kamu juga disini... "
Hey tuan muda, bagaimana kau bicara sesantai itu setelah membuat wanita lugu itu begitu malu dengan perbuatan konyol mu itu, bahkan wanita itu hampir saja pingsan karena kehilangan pasokan udara dalam paru-paru nya. Ahhh... Anelis hanya menggigit bibirnya karena telah terjebak dalam situasi yang tak menyenangkan itu.
" Apa kamu hanya ingin berdiri di situ saja? Kau tak ingin tidur? " Sahut Marvell saat mendapati Anelis yang masih berdiri kaku membelakangi nya.
" Apa...apa... anda sudah selesai? " Keringat dingin membasahi keningnya, Anelis kian sesak, kenapa di kamar mewah itu seperti tak ada pasokan udara untuknya?
" Hmmm... "
Anelis membalik badannya dengan ragu, sedikit mengintip sejenak, huuh... Aman, ternyata suaminya benar-benar sudah berpakaian.
" Duduklah, kita bicara sebentar... " Marvell mendekati ranjang, lalu duduk dengan kaki di silangkan, kedua tangan nya pun saling membelit di depan dada, sungguh, aura sang tuan muda tetap menguar hebat meski jas mahal kini telah di tanggalkan.
Anelis duduk di sebelah Marvell dengan menyisakan jarak, bukan ia tak ingin berdekatan dengan mahramnya itu, hanya saja, ia belum terbiasa dengan status barunya itu.
" Apa yang ingin anda bicarakan? "
Marvell menoleh menatap wajah Anelis, hingga kedua manik mata itu kini saling bertemu, berpandangan sejenak, lalu terputus saat Anelis memalingkan muka dan memilih menunduk.
" Apa kau tak merasa kita seperti majikan dan bawahan? " Seloroh Marvell hingga berhasil membuat Anelis kembali mendongak menatap nya.
" Maksud anda? " Tanya Anelis dengan dahi berkerut, apa laki-laki itu akan menjadikan nya seorang pelayan dari pada istrinya?
" Saya, anda, tuan... Bukankah panggilan itu seperti panggilan bawahan untuk majikannya? Tidakkah kamu punya niat untuk mengganti panggilan mu untukku, suamimu? "
Makin berkerut saja dahinya, lalu harus ia panggil apa suami baru nya itu, sedikitpun ia tak memiliki pengalaman menjadi seorang istri.
" Eum... Anda ingin di panggil seperti apa? " Sahutnya dari pada harus bungkam.
" Panggil aku seperti kau memanggil laki-laki di desa itu! "
Laki-laki? Di desa?
Anelis berusaha memutar kembali ingatan nya.
" Mas Raka? " Pekik Anelis.
" Mas... Mas Marvell? " Sahut nya dengan hati-hati.
" Hmmm... Itu lebih baik "
" Kita lanjutkan esok hari, sekarang tidurlah... "
Marvell beranjak dari duduknya, acara bicara dari hati ke hati di batalkan, mood nya sudah memburuk setelah membicarakan si Raka sialan itu, bagaimana laki-laki rendah itu bisa mendapat panggilan istimewa dari suaminya? Mas? Cihhh... Bukannya itu terlalu romantis untuk hubungan teman semata? Ahhh... Ia kesal bukan main.
Anelis yang merasa ada aura mencekam pun merasa tak enak hati, sekalipun ia tak tahu alasan suaminya itu marah, tapi ia merasa itu adalah karena kesalahannya.
Di susul nya Marvell yang sudah berbaring dan menutup kelopak matanya, menaiki ranjang, lalu ia menutup tubuhnya dengan selimut tebal itu tanpa menciptakan gerakan yang berarti.
Baru ia menutup kelopak matanya, suaminya kembali bersuara.
" Kau tak merasa gerah dengan kerudung mu itu? "
Anelis yang tadinya memunggungi suaminya itu sontak membalik tubuhnya hingga kini tubuhnya saling berhadapan dengan Marvell.
" Hmmm... Gimana mas... "
" Apa kamu biasa memakai kerudung itu saat tidur seperti ini? "
Anelis menggeleng lemah.
" Buka saja jika merasa tak nyaman " Nasehatnya.
Anelis mengalihkan pandang pada kerudung yang masih membalut sempurna kepalanya, ya... biasanya ia akan melepasnya jika tidur, namun sekarang berbeda, ia merasa sangat malu jika harus melepaskan nya, sekalipun di depan laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya itu.
Namun, di samping itu, bukannya ia sudah bertindak lancang saat ia menolak nasehat dari suaminya itu? Apa tak apa jika sekarang ia membuka nya?
" Hmmm... I-iiya... "
Anelis beranjak duduk, di lepaskan nya peniti yang mengikat kerudung segi empat di bawah dagunya, lalu menanggalkan kerudung itu dari kepala nya, hingga kini terlihatlah rambut panjang sebahu yang diikat rapi.
Marvell tak hentinya berdecak kagum pada istri barunya itu, kecantikan wanita itu kian menguar hebat saat ia menanggalkan kerudungnya, jantungnya berdesir hebat, apa-apaan ini, kenapa rasa tak nyaman itu kembali hadir, sungguh jantungnya harus segera di periksa kan.
Nafasnya kian memburu, memori saat ia bisa menikmati tubuh indah itu kembali menerawang, di sautnya jemari lentik Anelis.
Srek...
Baru menyentuh beberapa detik, Anelis langsung merampas kembali tangannya, jantung nya berpacu hebat, memori menyesakkan itu mulai memenuhi pikirannya, perih dan sakit, hanya itu yang ia rasakan.
" M-maaf mas... " Suaranya bergetar, nafasnya kembang kempis, ia tahu ia salah, ia telah menolak suaminya.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Mas? emang mas itu panggilan romantis?😅
Maap kemarin absen 2 hari ✌️
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕