
°°°~Happy Reading~°°°
Dengan di antar sang sopir, akhirnya Anelis sampai juga di Royal School, tempat dimana kedua buah hatinya itu mengenyam bangku preschool, rencananya ia akan menjemput kedua buah hatinya yang sudah seminggu ini bersedia hanya di antar jemput.
Anelis melangkah menyusuri koridor sekolah, lorong demi lorong ia lewati dengan pasti. Namun, belum juga sampai di kelas sang anak, bola mata Anelis seketika melebar penuh, perasaannya berdenyut sakit, bagaimana ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kedua anaknya itu tengah di jewer dengan kasar oleh seseorang yang tak ia kenal?
Tanpa pikir panjang ia segera mempercepat langkahnya, beraninya wanita itu melakukan hal sekasar itu pada kedua buah hati kesayangannya, bahkan sekesal-kesalnya ia pada tingkah baby twins yang terkadang nakal, ia tak akan sampai hati berlaku kasar pada keduanya.
" Apa yang anda lakukan nyonya, tolong lepaskan tangan anda dari anak-anak saya... " Anelis langsung merampas kedua buah hatinya, membawanya dalam pelukannya, sungguh hatinya terasa teriris saat mendengar tangisan si kecil Arshi yang sudah meraung-raung ketakutan.
" Mo...myh... Hwa... " Tangis si kecil Arshi, nafasnya terdengar tak beraturan dengan tangis yang begitu dalam.
" Apa yang anda lakukan pada anak-anak saya nyonya, tidakkah anda melihat mereka ketakutan? Tidak bisakah anda berlaku sedikit halus pada anak kecil? " Sahut Anelis sembari merengkuh kedua buah hatinya berusaha memberikan ketenangan dan perlindungan.
" Ohhh... Jadi anda orang tua mereka... Pantas saja anaknya kaya preman pasar, ibunya aja modelan kaya gini, pasti itu anaknya ngga pernah di didik sopan santun... " Sahut wanita itu dengan nada ketus, wajahnya pun tampak begitu sinis menatap pada Anelis dan kedua anaknya.
" Maaf... jaga ucapan anda nyonya, bagaimana anda bisa menuduh anak-anak saya dengan sebutan demikian? Susah payah saya mendidik mereka dengan cinta kasih... " Belum selesai ia dengan kalimatnya, wanita itu sudah memotongnya begitu saja.
" Cih... Omong kosong. Jika kamu benar mendidik mereka, bagaimana mereka bisa melukai anak saya? Lihat keadaan putri saya, gara-gara anak-anak kamu itu, kepalanya berdarah dan harus di perban, lalu salah saya dimana jika bilang anak-anak kamu itu preman pasar? "
Anelis mengalihkan pandang pada bocah perempuan yang kini tengah terisak di gendongan pengasuh nya, benar, kepala bocah kecil itu benar-benar di balut perban, tapi, bagaimana bisa anak-anaknya itu melakukannya, tidak, ia tidak percaya, ia cukup mengenal kedua buah hatinya, mereka tak akan tega melakukan perbuatan itu. Di tatapnya wajah dingin Arsha.
" Sayang... Arsha... Benar yang di katakan tante itu barusan? " Lirihnya, ia harus tetap menjaga hati dan perasaan buah hatinya itu, meski hanya wajah dingin yang di tampilkan Arsha, namun ia tahu, ada ketakutan di dalamnya.
Sejenak Arsha terdiam, bola matanya mulai berkaca saat di tanya sang mommy seperti ini, namun ia harus kuat, ia laki-laki, ia tak boleh cemen seperti barbie. Hingga akhirnya ia mengangguk pelan.
" Maafkan Arsha myh... Ini salah Arsha... " Lirihnya dengan kepala menunduk dalam tak berani menatap pada manik cantik milik mommy nya, ia terlalu malu pada mommy kesayangannya itu, ia amat merasa bersalah.
" Shht... Tidak apa sayang... " Anelis menepuk-nepuk bahu kecil itu seolah menegaskan bahwa semua akan baik-baik saja.
Anelis menghembuskan nafas kasar, ia harus tetap tenang di tengah kekalutan nya.
" Saya tidak tahu masalah apa yang ada di antara mereka, tapi... Jika anak-anak saya telah melakukan perbuatan demikian, saya mewakili anak-anak saya memohon maaf pada nyonya... " Sahutnya pada akhirnya.
" Segampang itu kamu mengucapkan kata maaf? Bahkan luka di dahi putri saya ini mungkin saja akan berbekas... "
" Saya akan menanggung biaya pengobatan nya nyonya... "
" Cih... Tidak salah dengar aku? Lihat penampilan mu saja sudah jelas bahwa kalian hanya kaum rendahan, bahkan mungkin hanya gelandangan yang tak punya tempat tinggal, atau jangan-jangan anak-anak mu itu saja anak haram dari hasil kamu menjual diri? " Sinisnya, padahal ia tak tahu saja berapa harga benda-benda yang kini menempel di tubuh Anelis, semua ekslusif, benda-benda berharga selangit itu di pesankan sendiri oleh sang suami pada desainer terkenal langganannya.
" Jaga ucapan anda nyonya!!! " Bentak Anelis, amarahnya berkobar hebat, ia tak rela anak-anaknya mendapatkan hinaan semacam itu, lagi.
Plakkk...
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Anelis, meninggalkan rasa panas dan perih, bahkan membekas merah di sana, sedang di sudut bibirnya kini tampak sepercik darah keluar di tengah luka robek di bibirnya.
" Dengan baik-baik, saya tidak akan tinggal diam, saya akan buat perhitungan sama kamu dan anak-anak preman kamu itu, saya akan bawa kasus ini ke jalur hukum, manusia seperti kalian ini benar-benar hanya sampah masyarakat yang harus di basmi secepatnya dari muka bumi ini... " Wanita itu berlalu melewati Anelis, namun sebelum itu, dengan sengaja ia benturkan pundaknya pada pundak Anelis dengan begitu keras hingga membuat Anelis sedikit terhuyung ke belakang hampir saja terjatuh bersama anak-anak yang masih merengkuh nya.
" Mo...myh... " Terdengar si kecil Arshi yang semakin sesenggukan, bahkan kini wajahnya sudah memerah dengan tangis yang kian deras, ia semakin ketakutan setelah melihat mommy nya mendapat tamparan dari perempuan itu.
" Cup cup sayang... Udah ya nangisnya, nanti cantiknya hilang sayang... " Anelis mencoba menenangkan gadis mungilnya itu, ia berjongkok mengusap-usap wajah sembab Arshi.
" Mo...myh... Ashi atut... Tan..te tadi dahat shama Ashi shama mommy... Hwaaa... "
" Udah udah... Tante nya tadi ngga sengaja sayang... Kamu udah jangan nangis lagi ya putri cantik mommy... "
" Eundak... Tante na seungaja myh... Tadi Ashi juda di mallahin... Di beuntak-beuntak... Ashi atut myh... " Rengek Arshi.
" Ngga apa-apa, ini udah ada mommy sayang... Sini gendong sama mommy... " Sahut Anelis akhirnya ketika mendapati gadis kecilnya itu terlihat semakin ketakutan.
" Arsha... Sayang... Kamu nggak apa-apa kan... Ada yang sakit sayang? Telinganya sakit? " Khawatir nya, di tangkapnya wajah putranya yang terlihat sedikit kelam itu dengan jemarinya.
Arsha menggeleng.
" Arsha... Arsha... minta maaf myh, gara-gara Arsha... "
" Sudah, tidak apa-apa sayang. Kita pulang saja yuk... "
Mereka memutuskan untuk menghampiri pak supir yang sudah menunggu mereka di luar pagar, di dalam mobil, si kecil Arshi masih saja menangis tanpa henti, ia menangis kencang, terlihat gadis kecil itu benar-benar ketakutan, bahkan kini wajahnya pun sudah memerah padam dengan tangis yang kian menderas, Anelis kian khawatir dengan keadaan putrinya.
" Shht... Shtt... Udah dong sayang... Kan ini Arshi udah sama mommy... " Anelis masih berusaha menenangkan si kecil Arshi.
" Ashi atuy myh... Ashi mau shama daddy... Ashi mau tante tadi di mallahin daddy myh... " Aduh Arshi.
" Iya, nanti daddy pulang... Sekarang Arshi berhenti nangisnya ya nak, nanti Arshi susah nafasnya... "
" Eun...dhak mahu, Ashi... ma...u shama daddy... "
Entah apa yang sudah terjadi hingga membuat putrinya itu begitu ketakutan, namun untuk sekarang ini ia tak berniat menanyakan perihal masalah apa yang sebenarnya terjadi, ia cukup berusaha menenangkan putrinya itu, ia tak ingin putrinya itu semakin sesak jika harus di tanya lebih jauh.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Maap, update nya molor dikit, hihihi
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕