
°°°~Happy Reading~°°°
Suasana di mansion mewah itu seketika berubah menegang, semua panik bukan main, apalagi Anelis, perasaannya hancur lebur, sakit tak terkira, kekhawatiran itu semakin menjadi saat melihat putranya kini tergolek lemah tak berdaya.
Berkali-kali ia mengusap air mata yang luruh dari bola matanya, namun entah mengapa, air matanya seakan tak mau surut, terus-menerus menetes hingga menciptakan semburat kemerahan pada manik matanya.
Marvell melangkah cepat memasuki mansion itu, sisa air yang masih menggenangi pakaiannya seketika saling menetes membasahi lantai, ia tak perduli, masa bodoh dengan semua kekacauan itu, yang terpenting saat ini adalah bagaimana cara menyelamatkan putranya yang kini tengah berada dalam jurang kematian.
" Tuan... " Willy menghampiri tuannya yang masih menggendong rapat tubuh mungil Arsha, tubuh kedua laki-laki itu basah kuyup, wajah sendu Marvell tercetak jelas disana, Willy tahu betul, pasti ada hal buruk yang telah terjadi tanpa sepengetahuan nya.
" Will, kau panggil dokter Richard, 5 menit, atau akan ku ratakan rumah sakit itu... " Gertak Marvell masih dengan langkahnya yang tergesa.
Willy mengangguk penuh, bagaimanapun, membantah perintah sang tuan arogan itu tak akan ada gunanya, ia tak ingin cari mati, ia masih ingin menikmati indahnya dunia yang masih belum banyak ia jelajahi.
Marvell membaringkan tubuh lemah Arsha di ranjang milik Anelis, tubuh yang awalnya basah kuyup itu, kini sudah kembali menghangat dengan pakaian ganti dan selimut tebal yang membalut sempurna tubuh mungil itu.
Tak berselang lama, akhirnya dokter Richard menunjukkan batang hidungnya juga, di belakangnya sudah berdiri dua perawat berparas cantik, dan beberapa bodyguard yang membantu membawakan alat-alat medis di tangannya.
Tak ingin membuang-buang waktu, dokter Richard segera memeriksa keadaan bocah mungil yang tergolek lemah di depannya, tangan dinginnya mulai bekerja, dengan cekatan ia mulai memeriksa beberapa bagian anggota tubuh Arsha hingga akhirnya ia memutuskan untuk menancapkan tajam nya jarum infus di tangan lemah Arsha.
" Apa semuanya baik-baik saja? " Sahut Marvell dengan wajah menegang, rupanya rasa takut itu masih belum juga sirna dari hatinya. Bahkan, ketakutan itu semakin menjadi saat Arsha harus di pasang alat bantu pernafasan dan tajamnya jarum infus.
" Tidak ada yang perlu di khawatirkan tuan, keadaan tuan muda sudah kembali stabil, hanya perlu istirahat beberapa hari saja. Tuan muda mungkin akan tertidur selama beberapa jam kedepan, jadi anda tak perlu khawatir jika tuan muda tidak kunjung membuka matanya " papar dokter Richard.
Klek...
Pintu kamar Anelis tiba-tiba saja terbuka, sontak membuat semua orang di ruangan itu menoleh ke arahnya. Perlahan pintu itu mulai melebar, hingga akhirnya menampilkan sosok mungil yang kini tengah terisak dengan lelehan air mata yang sudah membasahi wajah cantiknya.
Seketika itu Anelis terhenyak, ia menyadari kesalahan apa yang telah di perbuat nya kali ini, bagaimana bisa ia melupakan putri kecilnya itu, membuatnya menunggu begitu lama, hingga akhirnya kini terisak dengan begitu pilu.
Anelis bangkit dari duduknya, mendekati Arshi yang masih terisak di ambang pintu, ia langsung menggendong tubuh mungil itu dan merengkuhnya erat.
" Sayang... " Di usapnya lelehan air mata yang masih deras berjatuhan, sungguh tangis Arshi kali ini begitu menyayat hatinya yang memang tengah rapuh.
" Mom...my... " Nafasnya tersengal-sengal, gadis mungil itu malah semakin terisak, suara rintihannya kian menggema hingga membuat semua yang mendengarnya merasa teriris tak tega.
" Ssht...ssht...shttt... Sayang... Udah ya nangisnya... Maafin mommy ya nak... Arshi kan gadis cantik, nanti cantiknya hilang kalau Arshi nangis terus, hmmm... " Anelis berusaha menenangkan gadis kecilnya yang masih terisak, di tepuk-tepuk nya punggung kecil yang terasa bergetar itu, sungguh tangis Arshi kali ini begitu dalam hingga membuat hati Anelis terasa tersayat-sayat ribuan pedang.
" Mo...mmy... Asha na... eundak... apa-apa kan... " Lirih Arshi, tatapan sendu itu menatap wajah Anelis dengan penuh harap, raut khawatir terpancar jelas dari wajah Arshi yang kini sembab. Kabar buruk yang baru saja ia dapatkan itu, benar-benar telah mengoyak isi hatinya yang begitu lembut dan rapuh.
Arsha? Apa kali ini putri mungilnya tengah mengkhawatirkan kembaran nya? Bukan menangis karena kecewa pada dirinya yang tak kunjung kembali untuk menemaninya bermain dengan Jimmy? Apa seperti itu?
" Arsha ngga apa-apa sayang... Udah ya... putri cantik mommy nggak boleh nangis lagi... " Anelis masih berusaha menenangkan Arshi yang masih saja terisak, jujur saja, ia merasa tak enak hati dengan semua orang yang masih mendiami kamarnya itu, apalagi pada sang dokter yang telah bersusah payah menyelamatkan nyawa putranya itu.
Arshi mengedarkan pandang pada seseorang yang tengah terbaring lemah di ranjang, kelopak matanya terpejam rapat, selang infus itu menempel kuat di punggung tangan kembarannya, ia tak tega, perasaannya terkoyak hebat, kesakitan yang dialami Arsha, kini juga menyergap tubuh mungilnya.
" Keunapa Asha na tidul tellus myh... Ashi mau na Asha banun sheukalang... Ashi mau shama Asha myh... " Arshi mengoyak tubuhnya, seolah meminta sang mommy untuk segera membangunkan kembarannya yang masih saja tertidur pulas.
Marvell mulai khawatir dengan tangis Arshi yang terdengar begitu menyiksa, terdengar jelas nafas putrinya terputus-putus tak beraturan, ia melempar pandang pada Anelis, seolah menawarkan bantuan, wanita itu tetap sama, tetap menebar senyum meski keadaan menghimpit kian menyiksa, sejurus kemudian wanita itu menggelengkan kepalanya pelan, ia menyimpulkan mungkin wanita itu bisa mengatasi sendiri putri kecilnya yang tengah terisak.
" Iya sayang... Nanti Arsha nya bangun kok... Tapi, sekarang Arsha lagi capek jadi harus tidur dulu ya... " Di usapnya anak rambut Arshi yang berserakan menempel di wajah putrinya yang basah bekas isaknya.
" Eundak... Mommy boong... Kata tante dapull... Hiks... Asha tadi kecebul aill... Tellus Asha jadi pisang... Keunapa Asha na eundak banun-banun myh... Ashi mau shama Asha aja... "
Tangis Arshi kian dalam, ia masih ingat dengan jelas, saat pertama kali ia mendapatkan kabar buruk itu.
Flashback On
Setelah menimang nya beberapa menit, akhirnya Arshi meletakkan Jimmy di bantal sofa setelah merasa Jimmy sudah tertidur pulas, entah apa yang membuat Arshi berpendapat bonekanya Jimmy sudah tertidur meski bola matanya saja setia terbuka, entahlah, mungkin itu hanya persepsi dan imajinasi seorang anak kecil belaka.
Ia meninggalkan bonekanya Jimmy begitu saja, ia sudah merasa bosan, sudah berpuluh menit Anelis izin memanggil Arsha agar ikut minum susu bersama mereka, namun mommy nya seolah menghilang dan tak kunjung kembali.
Kaki mungilnya melangkah ke halaman belakang, mencari keberadaan Anelis yang mungkin ada disana. Ternyata nihil, tak ada mommy nya di sana.
Ia melangkah ke arah dapur, mungkin mommy nya masih sibuk membuatkan susu untuk nya, pikirnya.
Sesampainya di dapur pun Anelis tak bisa di temukan, huuuh... Kakinya sudah lelah mondar-mandir ke sana ke mari, di putuskan nya untuk menanyakan saja pada seseorang yang masih sibuk berkutat di dapur.
" Tante dapull... "
Wanita itu menoleh seketika, siapa sebenarnya yang di panggil tante dapur itu? Apa benar dirinya? Karena hanya dirinya lah yang kini ada di dapur.
" Tante dapull lihat mommy Ashi eundak? Ashi udah calli-calli tapi tetep eundak keutemu... " Arshi mengerucutkan bibirnya kesal, gadis mungil itu terlihat semakin imut dengan pipi chubby nya.
" Mommy nona mungkin ada di kamarnya bersama tuan Marvell dan tuan Arsha, nona... " Sahut pelayan itu dengan ramah.
" Di kamal? shama om danteng juga? Kok bisha? Tadi mommy billang mau panggil Asha di beulakang kata na... " Arshi sudah uring-uringan karena tidak di ajak berkumpul bersama om danteng kesayangannya.
" Tuan Arsha tadi tercebur ke kolam renang, sekarang sedang menunggu dokternya datang nona... "
Ahhh... Sial, kenapa kamu memberikan kabar buruk itu pada anak kecilnya wahai pelayan dapur...
" Kecebull... Asha keceubull... Asha eundak bisha berulenang tante dapulll... Tellus... Asha gimana? Asha eundak apa-apa kan... " Gadis itu mulai terisak, buliran air mata itu mulai berjatuhan dari pelupuk matanya.
Flashback Off
" Arshi sayang kan sama Arsha? " Anelis menatap dalam-dalam wajah sembab putrinya, hingga akhirnya putrinya yang polos itu mengangguk meski dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
" Kalau Arshi sayang sama Arsha, Arshi ngga boleh nangis lagi yah... Arshi mau bobo sama Arsha? " Tawarnya hingga kini tangis Arshi perlahan mulai surut.
Arshi mengangguk lemah.
" Huum... Ashi mau bobo shama Asha... Ashi mau peyuk Asha shupaya Asha na ceupet banun... "
Dokter Richard dan perawat itu sudah pamit undur diri, Anelis langsung menidurkan Arshi yang baru saja berhenti dari tangis panjangnya, di tepuk-tepuk nya pantat putri nya yang kini setia memeluk Arsha yang masih tertidur lelap, gadis mungil nya masih tetap sama, tak akan bisa tidur tanpa tepukan halus di area pantatnya.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Maap baru dongol, hihihi
Yang tanya kenapa? nggak ada feel ya kak?
Betul sekali kawan, meski ide udah mengucur deras tapi entah kenapa kaya ngga ada feel gitu, jadi aku nulis ulang
huuuf, maap ya, karena memang saya masih anak bawang, hehehe...
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕