
°°°~Happy Reading~°°°
Pagar kokoh itu mulai membelah paksa, menyingkap segala kemewahan yang sebelumnya tertutup rapat.
Dua iring-iringan mobil milik tuan muda Marvell berangsur memasuki bangunan mewah itu, membelah pelataran mansion, hanya gemerlap kemewahan yang tergambar jelas dari bangunan berlantai dua itu.
Tepat di depan pintu utama nya, mereka sudah di sambut oleh jajaran pelayan dan bodyguard-bodyguard dengan pakaian serba hitam nya, mereka berjajar rapih, menunggu kedatangan sang tuan muda dengan sabar nya.
Anelis menatap bingung pada bangunan mewah itu, masih terekam jelas dalam ingatannya, di sinilah tempat dimana ia harus mengemis meminta pertolongan pada makhluk paling arogan itu.
" Bukankah kita seharusnya ke rumah sakit? Kenapa kita ke kediaman anda? " Anelis menatap tajam wajah Marvell.
" Kita istirahat sebentar " Sahutnya singkat.
" Kita langsung ke rumah sakit saja... " Pinta nya, masih terlihat jelas pada sorot mata Anelis yang menyimpan luka begitu dalam nya
" Kamu tidak lihat? Putri mu ini masih nyenyak dalam tidurnya... Tapi... "
Marvell tampak berpikir sejenak.
" Kenapa dia tidak bangun-bangun? Sebenarnya dia tidur atau malah pingsan sih... hmmm... " Sahut Marvell sembari menoel-noel pipi gembul Arshi, membuat gadis menggemaskan mengernyitkan wajahnya, ia terganggu, sentuhan halus jemari Marvell benar-benar telah mengganggu tidurnya.
" Jangan ganggu tidurnya, nanti dia rewel saat bangun... " Peringat Anelis berhasil membuat Marvell menghentikan kegiatan yang sebetulnya sangat menyenangkan itu.
Marvell segera turun dari mobilnya dengan Arshi yang masih berada di gendongan nya, putri tidur itu masih asik mendiami alam mimpinya, membuat Marvell harus berhati-hati jika tak ingin gadis cengeng itu bangun dan rewel nantinya.
Jajaran pelayan dan bodyguard-bodyguard itu seketika membungkukkan badannya hormat. Sedikitpun, mereka tak berani melirik atau bahkan menatap mata tajam tuan Marvell yang sudah terkenal dingin tak tersentuh, pekerjaan mereka akan menjadi taruhannya jika kesalahan kecil saja luput dari mata tajam tuan kejam itu.
Mereka mulai memasuki bangunan itu, suasana mewah kian menguar hebat, dulu Anelis tak begitu memperhatikan bangunan itu, melihat bagian dalam nya saja sudah menunjukkan seberapa kaya dan berkuasa nya manusia angkuh itu.
Tiba di lantai dua, mereka memasuki sebuah kamar bernuansa putih, ruangannya bersih, namun jelas terlihat ruangan itu tak pernah di tempati sebelumnya.
Marvell merebahkan tubuh gadis kecil itu ke atas ranjang, hati-hati sekali ia melakukan nya, ia tak ingin kembali di sandera oleh putrinya itu, ia ingin segera membersihkan tubuh setelah hampir 2 hari tak pernah merasakan guyuran air di tubuh atletis nya.
"Ehm.... " Arshi melenguh, gadis kecil itu menggerakkan tubuhnya, tidurnya terganggu, namun matanya kembali terpejam saat merasakan tepukan lembut di pantat nya, siapa lagi pelakunya kalau bukan Marvell, sang ayah dadakan.
" Hufff... Untung saja... " Marvell menghela nafas kasar.
" Kapan kita akan ke rumah sakit? " Tanya Anelis seolah tak sabar, ia ingin cepat-cepat kembali ke kediamannya di kampung.
" Tunggu putrimu itu bangun, istirahat lah dulu... " Marvell melangkahkan kakinya hendak meninggalkan ruangan itu.
" Kalau ada apa-apa tekan saja tombol itu " Marvell menunjuk tombol interkom di sebelah ranjang " Atau panggil pak Kim, kamarku ada di ruangan sebelah " Pesan Marvell sebelum benar-benar menghilang dari ruangan itu.
Anelis menghela nafas dalam, mau tak mau ia harus berurusan dengan laki-laki itu lagi. Entah kenapa ia merasa terkekang, ia sesak, ia merasa sulit bernafas, sampai kapan ia harus terjerat dalam luka lama yang sulit di sembuhkan itu?
🍁🍁🍁
" Euhhh... " Arshi meregangkan tubuhnya, tubuhnya terasa segar, sendi-sendi tulang nya yang pegal bagai habis di pijat, tempat tidurnya yang biasanya keras kini terasa begitu empuk dan nyaman.
" Mommy... " Suara serak Arshi mulai menggema, ia menelisik ke dalam ruangan yang begitu asing baginya, sangat luas, ruangan itu begitu mewah untuknya, dimana ia saat ini?
" Sayang... Arshi udah bangun... " Anelis menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah menggemaskan Arshi.
" Ashi penen mimik myh... " Sahut Arshi sembari mengucek matanya, cahaya gemerlap ruangan itu begitu menyilaukan mata.
" Mimik? Baiklah. Tunggu di sini ya sayang... "
Anelis bangkit dari ranjang itu, menghampiri Arsha yang sedari tadi sibuk membaca bukunya, tepat nya buku pemberian Raka tempo hari.
" Sayang... Tolong jaga Arshi sebentar ya, mommy cari minum sebentar... "
Bocah itu mengangguk, lalu fokus dengan bacaan nya lagi setelah Anelis keluar dari ruangan itu.
5 menit berlalu, Arshi sudah tak sabar dengan minuman nya, tenggorokan nya sudah terlalu kering karena tak ada cairan yang mengaliri tenggorokan nya.
" Asha... Mommy kok lama ceukali shihhh... kok eundak ballik-ballik lagih... Ashi udah penen mimik banet Asha... " Arshi mengaduh, wajah malas nya masih terlihat sedikit mengantuk meski sudah berjam-jam tertidur pulas.
" Bentar "
Terpaksa Arsha bangkit dari duduknya, ia tahu, jika ia menghiraukan Arshi, gadis kecil itu akan semakin merengek meminta di turuti.
Marvell berangsur melepasnya diri dari kamarnya, ia sudah rapi dengan penampilan nya, kemeja putih di balut jas abu-abu, penampilan nya semakin memukau dengan jam tangan yang melilit di pergelangan tangan nya.
Baru beberapa langkah, ia sudah melihat perawakan Arsha yang terlihat celingukan, putra kecilnya itu terlihat bingung, berkali-kali ia menolehkan kepalanya ke kiri kanan.
" Apa kau butuh sesuatu? Kenapa kamu keluar dari kamar mu? "
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Maap kemarin othor nyangkut di pohon Pete, hehehe...
Dari kemarin othor udah nyoba nulis, tapi ternyata otak othor tak bisa di ajak bekerja saat sedang sakit...
Well, banyakin vote, vote, vote
Insyaallah bakal double up
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕