
°°°~Happy Reading~°°°
Setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang dan penuh dengan drama, akhirnya kini mereka sampai juga di sebuah villa mewah di pusat kota Bali.
Marvell memilih langsung merebahkan tubuh nya di atas ranjang, kepalanya masih berdenyut, bahkan perutnya juga masih terasa mual, membuatnya hanya bisa berbaring dengan merengkuh erat istrinya.
Sudah dua jam berlalu, namun kondisi Marvell tak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan membaik, malah bisa di katakan semakin parah, sudah berkali-kali ia keluar-masuk kamar mandi hanya untuk sekedar memuntahkan cairan dari perut nya, membuat tubuh kekar itu lagi-lagi lemas tak berdaya di atas pangkuan sang istri.
" Kenapa mas masih saja muntah? Kita kan sudah tidak di pesawat, apa sekarang mas ganti mabuk darat? " Pertanyaan polos itu lolos begitu saja dari mulut Anelis, membuat Marvell seketika mengul*m senyum tipis.
" Mana ada mabuk darat... "
" Ini ada... Kaya mas... "
" Mas bukan mabuk darat sayang... mas mabuk kamu... " Sembari menduselkan wajahnya di perut sang istri.
Mendengar itu Anelis hanya memutar bola matanya malas, suaminya itu benar-benar pintar bermain kata.
" Kalau mas mual terus, terus kita bikin debay nya kapan dong sayang... " Marvell mengusap-usap kan wajahnya di perut Anelis.
" Makannya mas harus cepet sembuh... Kalau mas sakit gini, Ane jadi khawatir sama mas... " Tangannya setia mengusap-usap rambut suaminya yang kini tampak berantakan.
" Kalau mas udah sembuh, kamu ngga boleh nolak ya sayang, harus patuh sama suami, minta selama apapun kamu harus turutin, nggak boleh berhenti kalau mas belum puas... " Ucap Marvell dengan entengnya, membuat Anelis seketika meradang.
" Astaghfirullah mas... Mas lagi sakit aja masih mikir yang begituan... Mikirin sembuh dulu kenapa sih mas... Ane ini khawatir sama mas tau... " Sungut Anelis.
Dan tiba-tiba saja, Marvell kembali merasakan mual nya.
" Sayang... Perut mas mual lagi... "
Marvell segera beranjak dari ranjangnya, dengan segera Anelis menyusul sang suami yang sudah lebih dulu berlari memasuki kamar mandi, tangannya setia mengusap-usap punggung sang suami yang tengah berjuang memuntahkan isi perutnya itu.
" Sayang... Aku nggak kuat lagi... Lemes banget... " Sahut Marvell setelah menyelesaikan muntahan nya, tubuhnya kini bersandar pada sang istri yang kini tengah merengkuh sembari menopang tubuhnya yang sedikit limbung.
" Kita balik ke kamar dulu mas... "
Anelis menuntun sang suami menuju ranjangnya, merebahkan suaminya yang lemas itu lalu menyelimuti nya.
Anelis mengusap peluh yang membasahi kening suaminya itu, lalu mengambil segelas air di atas nakas.
" Minum dulu mas... "
Marvell pun menyanggupi perintah dari istrinya itu, lalu kembali berbaring dengan sisa tenaga yang tak seberapa.
" Mas... Ane khawatir sama mas... Besok kita periksa ke dokter aja ya mas... " Usul Anelis.
" Yah... Besok kita ke dokter aja... Mas nggak mau kamu jadi khawatir kaya gini... "
Anelis mengul*m senyum.
" Tapi sekarang kamu peluk mas dulu... Mas mau tidur... "
Pinta Marvell, membuat wanita itu akhirnya merebahkan diri di sebelah suaminya, mendekap erat dalam kehangatan, hingga akhirnya mereka merengkuh mimpinya bersama.
🍁🍁🍁
" Tuan Marvell hanya kelelahan, saya sarankan tuan Marvell bed rest dulu untuk beberapa hari ke depan, tolong di perhatikan waktu tidur dan juga pola makan nya. Saya sudah meresepkan obat anti mual untuk tuan, jika nanti mual nya masih parah, bisa di periksakan lagi... " Papar sang dokter dengan analisis nya.
" Apa maksudmu atur pola makan, haahhh... Kau mau mengatakan jika istriku ini tak pernah memberiku makan, begitu... " Bukan Marvell jika tidak membuat gara-gara, lihat saja, dokter yang tengah berusaha mengobati nya saja kena omel tanpa sebab.
" M-maaf tuan... Bu-bukan begitu maksud saya... Emmm... " Dokter itu menatap Anelis seolah meminta pertolongan.
" Mas... " Anelis menyenggol sikut suaminya agar suaminya itu segera menutup mulutnya.
" Tidak dok... Kami yang seharusnya meminta maaf... " Anelis menyunggingkan senyum nanar.
" Kalau begitu, karena pemeriksaan nya sudah selesai, kami permisi dulu dok, terimakasih... " Sambung Anelis.
Anelis segera menyaut tangan Marvell agar mengikuti nya, membuat Marvell seketika meraung karena merasa belum puas dengan amarahnya.
" Sayang... Kok malah keluar... Dokter itu udah keterlaluan ngatain kamu ngga pernah kasih aku makan loh... " Marvell mencak-mencak di depan ruang praktek dokter itu, membuat mereka seketika menjadi pusat perhatian oleh pasien-pasien yang tengah mengantre.
" Mas... Udah dong marah nya, mas nggak malu di lihatin gitu... " Gerutu Anelis, dan entah kenapa membuat Marvell kembali merasakan mual, segera ia berlari menuju kamar mandi.
Hueek... Hueekk...
Suara muntahan Marvell benar-benar membuat Anelis jadi tak tega sendiri.
" Mas... Mas udah dong muntah nya, Ane nggak tega... " Anelis menangisi nasib sang suami di tengah rengkuhan nya.
" Makannya kamu jangan marahin aku lagi sayang... Kalau kamu marah-marah aku jadi pengen muntah... "
Anelis membelalak dan seketika menguarkan perlukan nya.
" Mas pengen muntah kalo lihat Ane marah? "
Marvell mengangguk membuat Anelis seketika muram.
" Mas jahat... "
" Bukan begitu sayang... "
Huekkk...
Marvell kembali merasakan mual yang teramat, membuat Anelis kembali memekik.
" Mas... "
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Bagaimana pembalasan ku, seru nggak😂
Jahat banget nggak sih aku🤣
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕