
°°°~Happy Reading~°°°
" M-maaf mas... " Suaranya bergetar, nafasnya kembang kempis, ia tahu ia salah, ia telah menolak sentuhan dari suaminya itu.
Marvell menatap tajam pada Anelis yang kini menunduk, terlihat tubuh wanita itu bergetar hebat, bahkan gumpalan keringat kini memenuhi dahi nya, apa kejadian malam itu telah menyisakan trauma yang cukup dalam di hati istrinya itu.
" Apa kau tak mau di sentuh olehku? "
" T-tidak mas... Tidak... Hanya saja... " Anelis tak mampu melanjutkan ucapannya, nafasnya tersengal, tubuhnya masih bergetar hebat, mulutnya kelu tak mampu berucap.
" Hanya saja malam itu aku telah menyakitimu dan kau tak ingin aku menyentuh mu sekarang? " Sahutnya dengan tatapan nanar, antara marah dan kecewa, itulah gambaran hatinya saat ini.
Tidak...tidak seperti itu, ia tak berniat melakukannya, hanya saja... tubuhnya menunjukkan reaksi spontanitas yang tak pernah ia duga sebelumnya.
" Bu-bukan begitu...mas... " Anelis menatap suaminya itu penuh rasa bersalah.
Marvell jengkel, ingin ia marah, namun itupun tak berguna, pikirannya masih waras, ia tahu betul, mungkin wanita itu masih trauma dengan kejadian malam itu, dan ia sadar, ia tak boleh memaksa, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan mendekati wanita itu secara perlahan, tanpa paksaan.
" Sudah, sekarang tidurlah... " Marvell menyerah, ia memilih beranjak dari ranjangnya, dari pada nanti kehilangan kendali atas tubuhnya, lebih baik ia menenangkan diri lebih dulu.
Anelis yang merasa sangat bersalah itu segera bangkit dari ranjangnya, berlari mengejar sang suami, ia menyaut tangan kekar itu dalam genggaman tangan nya.
" M-maaf mas... Bukan seperti itu... Ane... Ane tak bermaksud menolak mas... " Anelis menunduk, air matanya sudah menggenang disana, ia takut jika di hari pertama pernikahan nya ia sudah di laknat Tuhan nya karena penolakan tak sengaja nya pada sang suami.
" Mas berhak atas tubuh Ane, mas bebas menyentuh Ane, Ane... Ane... Tak apa jika mas Marvell meminta hak mas sekarang... " Meski berusaha sekuat karang, tetap saja rasa takut dalam dirinya masih tak bisa dihilangkan begitu saja, air matanya jatuh merembes begitu saja, tubuhnya kian bergetar hebat, jujur, ia belum siap, ia masih trauma, tapi rasa bersalah itu lebih besar dari rasa takut akan kesakitan nya.
Marvell membuang nafas kasar, gugur sudah semua rasa kesal di hati nya, hatinya seketika luluh saat melihat air mata Anelis menyeruak, ia merasa tak tega, hatinya berdenyut sakit saat menatap wajah sendu istrinya itu.
Di usapnya lelehan air mata itu, ia tak akan lagi menambah luka gores yang dulu pernah ia torehkan di hati wanita nya itu.
" Kenapa kau malah menangis, hmmm... "
" Maafkan Ane, mas... " Lirih Anelis, sungguh ia merasa bersalah pada suaminya itu.
" Sudah, tidak apa-apa... Berhentilah menangis... "
Pasangan suami istri itu akhirnya menikmati malam pertamanya tanpa berpeluh keringat, saling mengerti dan saling memahami, itulah yang harus mereka lewati saat ini, sebelum akhirnya mereka saling membuka diri dan hati mereka, untuk menyambut cinta yang baru.
🍁🍁🍁
Matahari sudah jauh melesat ke peraduannya, hari ini Marvell dan keluarga kecilnya itu berencana untuk meninggalkan rumah tuan Edgard dan memulai kehidupan mereka yang sebenarnya.
Di atas karpet berbulu di ruang santai itu, Anelis tengah memakaikan baju untuk si kecil Arshi yang baru saja selesai dengan acara mandinya, sedang si kecil Arsha jangan di tanya lagi, ia sudah rapi dengan pakaian nya dan kini tengah membaca buku di atas sofa.
" Daddy Ashi dimana myh, Ashi mau shama daddy... " Rengek nya, semalaman tak bertemu dengan daddy nya, membuat Arshi begitu merindukan sosok yang sangat di sayangi nya itu.
" Daddy sedang mandi sayang... Nanti kalau udah selesai, daddy samperin Arshi disini... Terus kita ke rumah daddy... " Sahutnya yang mengerti kegundahan putrinya.
" Arshi semalam tidak nakal kan saat tidur sama granny? "
" Eundak... Ashi eundak nakal ko myh... Ashi kan anak pintall... "
" Arshi bohong myh... " Seloroh Arsha tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang di pegang.
" Ihhh... Asha, Ashi eundak boong tau... Ciyus mommyh... Sheumalem, Ashi tuma minta mimi cucu tobelli shama glanny... tellus pas Ashi mau bobo Ashi lupa bawa Jimmy ikut bobo shama Ashi, jadi Ashi minta glanny ambilin Jimmy di luang tipi beushall... Tellus habis itu glanny puk-puk in Ashi deh sampe Ashi tidull... Jadi Ashi eundak nakal kan myh... Ashi kan eundak nanit... "
" Sudah siap? "
Terlihat Marvell yang kini sudah lengkap dengan kemeja warna hitam dengan lengan yang di gulung sampai siku tengah mendekati keberadaan keluarga kecilnya.
" Maaf, tunggu sebentar... "
Anelis langsung berlari ke arah kamar lawasnya yang terletak bersebelahan dengan ruangan itu, mengambil sisir dan kuncir untuk si kecil Arshi yang masih tersimpan disana.
Marvell memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya lebih dulu, duduk di atas sofa bersama kedua anaknya, tubuhnya langsung saja di kuasai oleh si kecil Arshi yang langsung meminta di pangku.
Di pangku nya tubuh mungil Arshi, sesekali ia juga mengobrol dengan Arsha, si anak dinginnya itu kini sudah mulai membuka diri dan mau di ajak mengobrol oleh nya.
" Sayang... Sini mommy kuncir dulu rambutnya... " Anelis menepuk sebelah sofa, agar Arshi turun dari pangkuan daddy nya dan ia bisa menguncir rambut putrinya itu dengan leluasa.
" Eundak mahu, mommy shini aja... Ashi penen shama daddy... sheumalem kan daddy udah shama mommy... " Arshi tak bergeming, gadis kecil itu masih bermain-main dengan kemeja daddy nya, membuat Anelis jadi bingung apa yang harus di buatnya.
" Kuncir saja, kasihan nanti gerah. di luar cuaca sangat panas... " Sahut Marvell tanpa tahu situasi apa yang nanti akan ia hadapi.
Anelis menimbang, ahhh... Bukankah ini akan sangat memalukan? Tapi benar juga apa yang di katakan laki-laki itu, jika Arshi sudah tak nyaman dengan cuaca yang begitu terik, gadis itu pasti akan rewel bahkan menangis sesuka hatinya, ahhh... Putrinya ini benar-benar menyusahkan nya kali ini.
Mau tak mau Anelis mendekat, menyisir pelan rambut bergelombang Arshi dengan rasa tak nyaman, ya, berada di dekat laki-laki itu membuat hatinya seketika menciut, deru nafas yang berhembus begitu mengganggunya, seolah membuka tabir kenangan buruk yang dulu pernah di alaminya.
" Sudah... " Anelis segera menarik diri dari situasi rumit itu, namun seketika bola matanya melebar saat menatap tangan mungil Arshi yang sudah bergerak nakal.
" Arshi... Apa yang kamu lakukan sayang... " Anelis mengalihkan pandang, putri kecilnya itu sudah sangat lancang dengan membuka kancing kemeja daddy nya hingga kini terbuka lah dada bidang itu.
" Kenapa? " Rupanya sang empu tak menyadarinya sedikitpun, ia terlalu fokus berbincang dengan putranya.
" Ehmmm... Itu ... " Anelis tak menunjuk, wajahnya malah melirik ke arah lain agar menjaga pandangannya yang memang sudah ternoda semalam.
Marvell merasa bingung dengan sikap Anelis yang salah tingkah itu, di liriknya ke arah putrinya.
" Kenapa girl? "
" Lihat daddy... Ashi beuhasil buka kancing baju na daddy... Ada shatu, duwa, tiga... Banak sheukali... Ashi hebat kan daddy... " Senyum bangga dari mulut Arshi.
Marvell melirik ke bawah dada bidang nya yang sudah tersibak, tak malu, ia malah menyunggingkan senyum karena gemas dengan tingkah lucu putrinya.
" Yah... Kau hebat sekali girl... Sini, daddy kasih hadiah, hmm... "
Bukannya membenahi kemejanya yang membelah, ia malah menghujani wajah Arshi dengan kecupan-kecupan membabi buta, membuat kemeja itu kian melebar karena kegiatan barunya.
" Hahaha... Ashi geulli... Ashi geulli daddy... Hahaha... Beulhenti... Ashi geulli... Ashi mau pipish daddy... Hahaha... " Sahut Arshi kegelian, tubuhnya menggeliat hebat, tangan mungil nya menangkup wajah daddy nya agar segera menjauh dari area wajahnya.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Jangan lupa like nya ya
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕