Baby Twins CEO

Baby Twins CEO
Perkara Dede Bayi


°°°~Happy Reading~°°°


Acara pernikahan itu sudah berlalu beberapa jam lalu, kini mereka tengah menikmati makan malam bersama di kediaman tuan Edgard, sebelum akhirnya Marvell akan memboyong keluarga kecilnya itu ke kediaman nya yang sesungguhnya.


" Kamu akan pindah esok hari Vell? " Tuan Edgard membuka pembicaraan.


" Iya pa, mungkin agak siangan "


" Kenapa tidak tinggal di sini saja Vell, kamu nggak kasihan sama mama kalau kamu bawa anak-anak dan menantu baru mama pergi dari sini... " Rajuk mama Clara.


" Mama kan masih bisa datang berkunjung, lagian jarak rumah Marvell dan rumah mama kan tidak jauh-jauh amat... "


" Tetap saja itu jauh Vell, kalau mereka disini kan mama bisa leluasa kalau mau main sama mereka... " Mama Clara memanyunkan bibirnya, hatinya sedikit kesal dengan putra semata wayangnya yang egois itu.


" An, kamu mau kan tinggal di sini sama mama sama papa... " Kini mama Clara beralih merajuk pada menantu barunya itu.


Anelis yang mendapat pertanyaan itu sontak di buat bingung, ia melirik pada suami barunya yang tampak acuh dan tetap mengunyah makanannya dengan khusyuk.


" Emmm... Ane ikut aja sama suami, bagaimana enaknya ma... " Sahut Anelis sedikit canggung.


" Iya... kamu bujuk suami keras kepala mu itu agar mau tinggal di sini saja, ya sayang... "


Mendapat desakan itu, Anelis hanya menyunggingkan senyum tipis, sungguh ia merasa tak enak hati saat menolak permintaan ibu mertua nya itu.


" Sudahlah ma... Biarkan mereka hidup mandiri, mereka juga harus menata kehidupan mereka sendiri. Kalau mama kesepian nanti kita bikin aja lagi ... "


" Pa... " Mama Clara memberengut kesal, bukannya di bujuk, ia malah di rayu oleh tuan Edgard. Dasar, suami yang banyak maunya.


🍁🍁🍁


Seusai makan malam itu berakhir, kini Anelis memutuskan untuk mengemasi barang-barangnya yang masih bersarang di kamar bawah, sedang Marvell kembali ke kamarnya di lantai atas untuk membersihkan diri.


Dan di ruang keluarga ini, kini tersisa tuan Edgard, mama Clara, dan si mungil Arsha dan Arshi yang tak bosan-bosannya bermain dengan Jimmi, boneka kesayangannya.


" Jimmy nanti bobo na eundak shama Ashi ya, shoal na Ashi mau bobo shama daddy shama mommy, kalau Jimmy ikut bobo shama Ashi nanti kashul na eundak muat beul lima, jadi Jimmy bobo sheundili ya... " Celoteh Arshi sembari mengusap-usap bonekanya itu, cerita nya kini ia tengah mengambil hati Jimmy agar boneka itu tak ngambek padanya karena harus tidur sendiri.


" Arshi pengen tidur sama daddy? " Mama Clara tak sanggup menahan kekepoan nya.


" Iya glanny, kata daddy kalau daddy udah meunikah shama mommy, Ashi boleh tidull shama mommy shama daddy... "


" Arshi tidak mau dedek bayi? " Selidik mama Clara.


" Dedek bayi? Dedek bayi itu yang nanit na oek oek? " Wajahnya begitu polos, euhhh... Rasanya gemas sendiri ingin mencubit pipi chubby itu.


" Iya, nangis nya oek oek... Ya kali embek embek... Namanya dedek kambing dong sayang... " Sungut mama Clara, bicara dengan cucu perempuan nya itu memang harus memiliki kesabaran tingkat tinggi.


" Hihihi... Glenny lutu, Ashi shuka shama glanny, hahaha... " Arshi menutup mulutnya yang menganga dengan tawa yang masih menggantung.


" Gimana? Arshi mau dedek bayi nggak? " Ulang mama Clara, ia sudah tak sabar menanti jawaban dari sang cucu tercinta.


" Mahu glenny... Tapi... Beuli dedek bayi na di mana? "


" Tidak usah beli sayang, nanti biar daddy sama mommy yang buatin untuk Arshi... "


" Daddy shama mommy bisha buat dedek bayi na? "


" Bisa dong sayang... "


" Bisha? Cala na gimana glenni, di bullat-bullat? Apa di teukan-teukan? " Arshi teringat dengan cara membuat kue ala mommy nya.


" Hahaha... bagaimana bisa seperti itu... " Mama Clara tertawa geli dengan penuturan cucu perempuannya itu.


" Ihhh... Glanny kok keutawa shih... Ashi kan tanya buat dede bayi na gimana? " Sungut Arshi.


" Hahaha.... iya iya. Aduh... perut granny sakit sayang... ya ampun... " Mama Clara mengusap lelahan air mata yang sedikit tembus dari bola matanya dan kembali pada wajah serius nya


" Arshi ngga usah mikirin caranya gimana, itu biar jadi urusan daddy sama mommy kamu, yang penting Arshi mau enggak di buatin dede bayi? "


" Tapi Ashi penen tahu calla buat dede bayi na glenni, nanti... biall Ashi shama Asha yang buat sheundili eundak apa-apa... Ashi kan anak pintall... "


" Kalau Arshi pengen buat dedek bayi harus tunggu besar dulu, terus buat nya tidak boleh sama Arsha, Arshi harus cari suami dulu sayang... "


" Shuami? Shuami itu appa? "


" Suami itu... Eummm... Apa ya? " Mama Clara berusaha memeras otaknya, haduh... Kok dia malah yang jadi pusing di sini.


" Suami itu... Eumm... Laki-laki yang bisa bikin jantung Arshi dag dig dug... "


Arshi hanya manggut-manggut, ia masih berusaha mencerna kata per kata yang di lontarkan granny nya.


" Jadi Arshi mau tidak? " Pertanyaan itu kembali berulang.


" Iya iya... Ashi mau di buatin dede bayi glanny... " Sahut Arshi dengan wajah berbinar.


" Tapi ada syaratnya... " Smirk mama Clara.


" Syalat na apa glanny? "


" Nanti malam, Arshi sama Arsha harus bobo sendiri, Arshi ngga boleh tidur sama daddy dan mommy "


Senyum yang mengembang di bibir Arshi seketika memudar.


" Keunapa glanny? Kata daddy, Ashi boleh tidull shama daddy kalo daddy shama mommy udah shah-shah... "


" Kalau Arshi tidur sama daddy dan mommy, nanti daddy nya ngga bisa bikinin Arshi dedek bayi dong sayang "


" Keunapa eundak bisha glanny? Ashi kan mau lihat gimana daddy shama mommy buat dede bayi na, Ashi juda eundak apa-apa jika di shuluh bantu buat dede bayi na... "


Haduh... Pembicaraan ini harus segera di selesaikan jika tak ingin otak polos cucu menggemaskan nya itu akan tercemar.


" Ya pokoknya gitu lah sayang... Sekarang kamu pilih tidur sama daddy apa pilih punya dedek bayi... "


" Ashi penen puna dedek bayi glanny, nanti Ashi kashih dede bayi na mimi cucu kaya Jimmy, tapi... Ashi juda penen tidull shama daddy... " Sahut Arshi dengan tak bersemangat.


" Ma... Sudahlah... Kasian cucu mu itu loh... Dia bingung... " Sahut tuan Edgard, meski bola matanya menatap lembaran koran di depannya, namun telinganya masih bisa mendengar dengan jelas percakapan absurd itu.


" Ihhh... Papa diem aja deh... Kalau tidak gini nanti mama dapat cucu nya kapan lagi coba... "


" Kamu ini, memang bikin anak itu gampang? "


" Emang sulitnya dimana, coba lihat putramu yang perkasa itu, sekali tusuk aja dapat dua, apalagi berkali-kali, uhhh... Pasti nanti dapat banyak... "


" Ma... Ada anak kecil di depanmu, jangan aneh-aneh deh... "


Oh iya, mama Clara kembali menatap cucu mungilnya yang masih terlihat kebingungan.


" Nanti Arshi sama Arsha bobo sama granny aja gimana, bobo sama daddy nya besok-besok lagi aja, oke? " Sahut mama Clara sembari mengangkat dua jempol tangannya.


Emmm... Arshi menimbang, ia sudah menunggu sangat lama untuk bisa tidur dengan daddy dan mommy nya itu, jika ia menundanya lagi, itu akan begitu menyiksa hati dan jiwanya.


Tapi... Ia juga ingin punya dedek bayi yang bisa nangis oek oek terus ia akan memberi nya mimik susu sama seperti Jimmy.


Lalu, ia harus memilih yang mana ya?


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Tuh, kesayangan kalian lagi bingung


Bantuin mikir lah, kasian otaknya masih kecil, nggak bisa mikir banyak😅


Happy Reading


Saranghaja 💕💕💕