Baby Twins CEO

Baby Twins CEO
Arsha Nggak Mau Jauh dari Mommy


°°°~Happy Reading~°°°


Anelis masih meringkuk disana, ia kian terisak, ingin ia merebut putrinya itu dari laki-laki itu, namun putri nya kini tengah kesal dengannya, ia tak bisa memaksa gadis kecil itu untuk ikut dengannya, ia tak ingin gadis kecil itu semakin kesal dengannya karena tingginya ego untuk merebut putri nya.


Ia pasrah saat laki-laki itu mulai bangkit dari posisinya dengan Arshi yang masih di rengkuh dalam pelukannya, ia tak sanggup melihat putri kecilnya itu ikut bersama laki-laki itu, ia memejamkan matanya, sungguh ia tak sanggup bila harus melihat laki-laki itu benar-benar membawa putri kesayangannya menjauh dari sisi nya. Sungguh, ia tak sanggup.


" Bangunlah... "


Anelis tersentak, dirasakan nya jemari itu melingkar di lengannya, benar, laki-laki itu memegang lengannya. Buru-buru ia menepis tangan laki-laki itu dari lengannya, bagaimana pun, laki-laki itu bukan mahram nya, mereka haram untuk bersentuhan.


Anelis berusaha bangkit dengan sisa kekuatan nya, ia memandang Arshi yang masih berada di gendongan Marvell, meringkuk disana, putri kecilnya itu bahkan melekat erat di dada bidang Marvell seolah tak mau di lepaskan.


" Sayang... Arshi... Sini sama mommy sayang... maafin mommy ya nak... " Anelis mengulur tangannya, ia berusaha mengangkat tubuh Arshi yang masih berada di gendongan Marvell. Namun usahanya sia-sia saja, tubuh Arshi semakin merekat erat hingga membuatnya sulit untuk mengambil alih tubuh mungil itu.


" Eundak mahu, Ashi mahu na shama om danteng... " Sentak Arshi, suaranya lirih tertahan oleh mulutnya yang menempel kuat di bahu Marvell, bahkan gadis kecil itu menyembunyikan seluruh wajahnya di bahu Marvell.


" Biarkan dulu... " Usul Marvell, suaranya begitu lembut, tak seperti sebelumnya yang biasanya terdengar penuh arogansi, kali ini Marvell lebih bersikap hati-hati dalam menguasai perasaannya.


" Dia belum sarapan, tolong bujuk dia untuk mau memakan sarapannya... " Sahut Anelis dengan penuh pengharapan, sorot matanya menatap Marvell penuh mengiba dengan lelehan air mata yang masih menggenang disana.


Menatap wajah sendu Anelis membuat hati Marvell tiba-tiba saja berdesir hebat, kenapa wajah sedih itu berhasil membuat hatinya begitu gusar, kenapa ia merasa bersalah karena telah membuat wanita itu bersedih hingga kini sampai menangis sesenggukan.


" Tenanglah... " Sahutnya.


" Hey gadis kecil... Makan dulu ya... " Sahut Marvell agak kaku, sebetulnya ia bingung harus bersikap bagaimana jika sedang berhadapan dengan anak kecil, apalagi saat ini ia harus membujuk putri kecilnya itu agar mau menuruti permintaan nya.


" Ashi mahu maem tapi halus di shuapin shama om danteng yah... " Tatapan Arshi mengiba, membuat Marvell pun tak tega di buatnya, ia bagai terhipnotis dengan mata biru itu hingga akhirnya mengangguk setuju.


Anelis buru-buru kembali ke dalam rumahnya, ia khawatir dengan kesehatan Arshi karena sampai jam 9 ini putri kecilnya itu belum mau memakan sarapannya.


Sedang di dalam rumahnya, Arsha masih duduk di kursinya, bocah laki-laki itu terlihat termenung dalam balutan lamunan, apa yang sebenarnya dipikirkan putra kecilnya itu di sana.


" Sayang... "


Suara lembut Anelis berhasil membuyarkan lamunan Arsha, bocah laki-laki itu seketika menoleh menatap ke arah sang mommy.


" Mommy... " Sahut Arsha, seketika bocah itu berhambur memeluk mommy nya erat, air matanya jatuh tak tertahan, ia menyerah, ia tak mampu lagi untuk menahan tangis yang sudah sejak kemarin di tahannya.


" Ada apa sayang... Kenapa Arsha nangis sayang... " Anelis membalas dekapan putranya itu, ia tahu pasti Arsha sedang tidak baik-baik saja.


" Mommy... Apa daddy akan membawa Arsha sama Arshi pergi, lalu kita akan hidup terpisah? Arsha nggak mau hidup tanpa mommy... " Rintih Arsha semakin mempererat rengkuhannya, ketakutan akan berpisah dengan mommy nya kini tak dapat di sangkal nya lagi, ia takut bukan main.


" Sayang... Kenapa Arsha ngomong kaya gitu sayang... Itu tidak akan terjadi, mommy sayang sama kalian, jadi kita tidak akan berpisah... " Anelis mengusap punggung bergetar itu, berusaha memberikan ketenangan agar putranya itu berhenti dari tangisnya.


" Lalu apa yang dilakukan daddy di depan rumah? Kenapa daddy tidak pergi-pergi? Arsha takut daddy akan membawa Arsha sama Arshi pergi jauh dari mommy... "


" Sayang... " Sentak Anelis tak percaya.


" Arsha nggak mau jauh sama mommy... " Sahutnya lagi dengan isak yang kian dalam.


Sungguh Anelis tak tega dengan sorot mata Arsha yang di penuhi dengan kabut ketakutan, ini tidak baik untuk putra nya itu. Setidaknya, ia ingin menghilangkan rasa takut nya, ia harus memunculkan kesan baik pada ayahnya.


" Tidak sayang... Itu tidak akan terjadi, mommy akan selalu bersama Arsha dan Arshi... Daddy hanya ingin melihat kalian. Maukah Arsha menemui daddy, daddy datang jauh-jauh hanya untuk menemui kalian sayang... "


Sahut Anelis memberi pengertian, kali ini ia tak boleh egois, ia harus melunak, kedua buah hatinya butuh sosok ayah dalam hidupnya, berapa kali pun ia berusaha menyangkalnya, namun faktanya tetap sama, setiap anak membutuhkan kasih sayang seorang ibu dan ayah dalam hidupnya.


Arsha menggeleng dengan penuh keyakinan.


" Arsha nggak mau, Arsha takut daddy akan bawa Arsha pergi myh... "


" Arsha sayang... Mommy nggak akan biarin siapapun itu memisahkan Arsha dari mommy, termasuk daddy, karena mommy sayang sama Arsha. Jadi... Arsha mahu ya bertemu daddy... "


Setelah berbagai rayuan di keluarkan nya, akhirnya anak es itu mau juga mendengarkan perkataan Anelis.


Anelis keluar dari dalam rumahnya dengan di buntuti Arsha di belakang, sebelah tangannya sudah membawa sepiring nasi lengkap dengan lauk di atasnya


Terlihat Marvell sudah duduk di kursi kayu teras rumahnya dengan Arshi yang duduk di atas pangkuan nya, di sodorkan nya piring itu pada Marvell, karena percuma jika ia memaksa menyuapi Arshi, gadis kecil itu akan kembali menolaknya, karena mode ngambek Arshi sedang dihidupkan, jadi untuk kali ini saja ia akan melunak pada laki-laki kejam itu.


Ragu-ragu Marvell menerima piring itu dari tangan Anelis, jujur saja, ia tak pernah sekalipun menyuapi anak kecil sebelum nya.


Tiba-tiba saja bola matanya membelalak tak percaya saat menatap hidangan sederhana di dalam piring itu, apakah setiap hari buah hatinya itu memakan makanan sesederhana ini?


Ingin ia menyuruh Willy untuk mencarikan makanan yang lebih layak dari itu, tapi itu hanya akan membuang-buang waktu lebih lama lagi, putri nya itu harus secepatnya memakan makanannya.


Di sendoknya nasi itu hingga menciptakan gundukan nasi yang membumbung tinggi, membuat Anelis mau tak mau harus bersuara.


" Tolong kurangi lagi sampai tersisa seperempatnya, mulut putriku tidak selebar itu... " Sungut Anelis, kalau saja putrinya itu tak ngambek dengannya, sudah pasti ia sudah menyaut piring itu dan menyuapi putrinya sendiri.


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Alhamdulillah udah bisa up lagi, hehehe


Doain othor sehat selalu dan nggak nyangkut-nyangkut lagi yah...


Happy Reading


Saranghaja 💕💕💕