Baby Twins CEO

Baby Twins CEO
Kalau Kau Benar Anak Daddy, Bangun Sekarang!!!


°°°~Happy Reading~°°°


" Arsha!!! " Sentaknya.


Tanpa pikir panjang, Marvell langsung berlari mendekati area kolam renang, menceburkan dirinya ke dalam air yang dingin itu tanpa memperdulikan atribut mewah yang masih membalut sempurna tubuh atletisnya.


Byur....


Air kolam renang itu bagai terbelah saat tubuh kekar Marvell memaksa memasukinya, sedang tubuh mungil Arsha kini semakin tenggelam ke dasar kolam dengan sisa oksigen yang tak seberapa.


Marvell tak membiarkan tubuh berharga putranya itu tenggelam begitu saja, dengan gerakan cepat, ia langsung menyaut tangan mungil itu, mendekapnya erat, ia segera membawa tubuh lemah Arsha ke atas permukaan air agar putranya itu bisa mengambil nafas dengan leluasa.


Marvell segera menepikan tubuhnya ke bibir kolam saat di rasa tak mendapati pergerakan apapun dari tubuh Arsha, dengan perasaan yang sudah di penuhi kemelut ketakutan, ia langsung membawa serta tubuh lemah putranya itu naik ke atas kolam, lalu di baringkan nya tubuh yang sudah tak sadarkan diri itu di atas lantai.


Ia mulai memeriksa pernafasan putranya itu, mendekatkan area wajahnya dengan hidung Arsha, Oh God... Nihil... Ia tak mendapati hangat hela nafas putranya. Ia beralih memainkan jemarinya di atas pergelangan tangan Arsha, menekan-nekan disana mencari denyut nadi yang mungkin akan bisa di rasakan nya.


Ahhh... Ssst... Ia mengumpat saat jemarinya tak bisa merasakan denyut nadi dari tangan mungil putranya. Ohhh... pikirannya semakin kalut, hatinya kian berdegub kencang tak terkira, perasaan takut mulai mendominasi hati baja yang sebelumnya selalu mengisi kekosongan hatinya.


" Hey boy... Come on, wake up... " Nafasnya memburu, perasaan takut sudah tak terkira lagi memenuhi isi hatinya, namun ia harus tenang, dengan gerakan dinamis ia berusaha melakukan pertolongan CPR di atas dada putranya yang masih tak sadarkan diri.


" Kau dengar daddy? Bangunlah... " Setelah sedari tadi menahan tangisnya, akhirnya lelehan air mata itu luruh juga, khawatir yang hanya di rasa, hatinya bagai di cabik ribuan pedang saat menatap tubuh putranya yang kini terbaring tak berdaya.


" Kalau kau benar anak daddy, bangun sekarang!!! " Ancaman itu menggelegar dari mulutnya, pikirannya kalut, ia tak tahu lagi harus bagaimana, ia takut bukan main, ia belum siap jika ia benar-benar harus kehilangan putra kesayangan nya itu.


" Uhuk-Uhuk... " Tubuhnya terkoyak, nafasnya tercekat, air yang sempat di telan nya tadi kini keluar dari mulutnya, bersamaan dengan oksigen yang kini bisa di hirup nya dengan bebas.


Bola mata Marvell berbinar, rasa takut yang sedari tadi menyusup dalam hatinya seketika menguap entah kemana, ia menyunggingkan senyum lebarnya di tengah derai air mata yang masih mengalir deras.


Di peluk nya tubuh mungil itu ke dalam dekapannya, hangat pelukan itu begitu terasa di tengah dingin sisa air kolam, isaknya kian menjadi, bagaimana jika ia benar-benar kehilangan putra paling berharga nya itu? sungguh, ia tak akan sanggup jika masa-masa itu harus ia lalui.


" D-Daddyh... Ahr-Sha takut... " Lirih suara Arsha memecah di tengah keheningan tangis Marvell, bibirnya gemetar, wajahnya memucat pasi, tubuhnya menggigil, sisa ketakutan itu masih saja membelenggu hatinya yang kini masih terguncang.


" It's ok, tenanglah... Ada daddy... "


Di tepuk-tepuk nya punggung kecil yang masih terasa gemetaran itu, entah mengapa rasa sesal itu kembali menghinggapi hatinya saat mengingat bagaimana kehidupan anak-anaknya yang dulu serba kekurangan.


Dan rasa sesak itu kian mendera saat ia mengingat dengan jelas bagaimana dulu ia tak mengakui mereka sebagai darah dagingnya. Sebodoh itukah dirinya saat itu? Sungguh, hanya rasa sesal yang kini tersisa.


" T-tuan... " Seorang pelayan tercekat saat mendapati dua sosok itu kini saling merengkuh dengan tubuh yang basah kuyup.


" Panggilkan dokter Richard sekarang... " Marvell beranjak dari duduknya, tak lupa di bawanya tubuh Arsha yang masih lemah itu ke dalam gendongan nya.


Tubuh pelayan itu gemetar ketakutan, ia sadar, kesalahan apa yang kini sudah di lakukannya, bahkan kesalahan itu terlalu besar hingga terlampau jauh untuk bisa di maafkan. Bagaimana jika tuan arogan itu tak bisa mengampuni nya, lalu membunuhnya dengan keji atau bahkan menguburkannya hidup-hidup? Aaaah... Tidak...


" Ma-maaf tuan... Saya bersalah... Saya hanya keluar sebentar... "


" Saya bilang panggilkan dokter Richard sekarang, apa kau tuli, hah...!!! " Bentak Marvell hingga berhasil membuat pelayan itu semakin tenggelam dalam ketakutan nya.


Prang...


Suara benturan antara gelas kaca dengan lantai keramik itu sontak membuyarkan pertengkaran itu, seketika Marvell menatap asal suara, disana ada Anelis yang masih terpaku dengan wajah yang mulai berderai air mata.


Dengan langkah cepat Anelis mulai melangkah mendekati keberadaan Marvell yang tengah menggendong tubuh putranya yang kini basah kuyup, pikirannya sudah berkelana kemana-mana, berbagai ketakutan kian menenggelamkan hati rapuh nya, baru beberapa menit lalu ia mempercayakan Arsha pada dua pelayan untuk menjaganya, sedang ia akan menyiapkan makanan untuk kedua buah hatinya, namun, apa yang ia dapat kali ini? Kenapa putranya itu berakhir dengan tubuh basah kuyup dengan wajah yang sudah memucat.l seperti ini?


" A-apa yang terjadi? A-Arsha kenapa? Kenapa dia... " Anelis tak mampu melanjutkan ucapannya, isaknya sudah mendominasi, di sentuhnya wajah pucat Arsha dengan tangan yang gemetar, ia telah melakukan kesalahan besar kali ini, ia telah ceroboh, ia telah lalai menjaga buah hatinya itu.


" Tidak apa-apa, sebaiknya kita bawa dia ke kamarnya " Marvell berlalu dengan Arsha yang masih setia di gendongannya, di susul Anelis yang sudah tampak kacau dengan linangan air mata yang jatuh menderas.


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Jangan lupa banyak-banyak bersyukur ya Chingu...


Have a nice day


Happy Reading


Saranghaja 💕💕💕