
°°°~Happy Reading~°°°
Tak berselang lama, lift itu akhirnya mendarat di puncak tertinggi menara Eiffel. Si kecil Maurin tampak antusias menatap pada keindahan kota Paris dari ketinggian. Namun itu tak berlaku bagi si kecil Arshi, gadis kecil itu semakin mengeratkan rengkuhannya, menyembunyikan wajahnya di bahu kekar Marvell tanpa sedikitpun berniat untuk memandangi sejuta keindahan.
" Heiii girl... It's so beautiful. Kau tidak mau melihatnya? " Pancing Marvell yang hanya di balas gelengan kepala dari si kecil Arshi.
" Kau benar daddy. Ini sangat cantik, benarkan Maura? "
Sontak saja gadis kecil itu tersentak, seumur-umur baru kali ini laki-laki dingin itu secara pribadi berbicara dengannya, membuat gadis kecil itu pun tersipu, pipinya merona merah, kepalanya hanya mengangguk tanpa mampu berucap.
" See... Kalau kau hanya menyembunyikan wajah mu, nanti kau akan menyesal karena tidak melihat ini sendiri, girl... " Laki-laki itu masih berusaha membujuk sang putri.
Perlahan si kecil Arshi mulai mengangkat wajahnya, bola matanya berangsur terbuka mengintip pemandangan menakjubkan di luar sana.
Hingga akhirnya, bola mata itupun berbinar, semua keindahan itu berhasil memenuhi manik biru nya yang cantik, membuat senyum gadis kecil itu kembali terbit.
" Tantik daddy, tapi Ashi tatut... " Lirihnya, sedang kedua tangannya masih setia melingkar di leher sang daddy seolah tak ingin di lepas.
" Takut kenapa girl, bukankah itu sangat cantik? "
" Ashi tatut nanti Ashi jatuh gudublakkk... Ashi endak mau di tuntik, Ashi mau main shama Molla aja... "
Membuat semua orang kini ternganga, otak mereka serasa buntu atas perkataan absurd itu, hingga akhirnya tawa kembali mendengung saat mereka sadar dengan perkataan gadis kecil itu.
🍁🍁🍁
Selesai dengan menara Eiffel, kini mereka beralih ke sebuah restoran halal yang ada di dekat Eiffel tower untuk mengisi perut.
Si kecil Arshi tampak menikmati sajian makanan nya, kedua tangan mungilnya kini sibuk mencengkeram olahan daging ayam yang di masak utuh hingga membuatnya kesusahan untuk memakannya.
" Arshi, dimana tata krama mu? Itu sangat tidak sopan Arshi " Si perfectionis Arsha tentu merasa terganggu dengan tingkah tak senonoh kembarannya itu.
" Kalau tangan shatu, ayam na nanti kabull-kabull Asha, Ashi udah lapall, endak mau kejall-kejall ayam kabull... " Kilah Arshi masih sibuk berkutat pada makanannya.
" Endak mahu... Ashi kan udah beshall, mau mamam shendilli shepeulti Molla... " Ternyata gadis kecil iri pada kemandirian Maura yang bisa memakan makanannya dengan elegan.
" Tidak apa-apa. Kan mommy hanya bantu potong, Arshi kan tetap makan sendiri, jadi tidak apa-apa..."
Arshi tampak berpikir sejenak.
" Oh... Iya iya... Mommy dapat shellatus, hihihi... Ini myh, Ashi mau ayam golleng upin ipin... " Tunjuk Arshi pada paha ayam.
" Itu bukan ayam goreng Arshi, itu namanya roast meats... " Sahut Arsha menimpali.
" Shellah... " Sungutnya.
Anelis pun membantu sang putri memotong daging nya, sesekali wanita itu pun terlihat menyuapi bubur bayi ke dalam mulut kecil baby Arshell.
" Sayang... Baby biar sama aku, kamu bantulah Arshi... "
Marvell mengambil alih baby Arshell, mendekapnya dalam gendongannya, laki-laki itu pun menyuapi baby Arshell dengan cekatan seolah telah terbiasa.
" Wow... Saya tidak menyangka tuan Marvell bisa melakukannya dengan baik, terlihat sudah terbiasa... " Sahut David berpendapat.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Jangan lupa like nya yah
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕