
°°°~Happy Reading~°°°
" Sepertinya putri anda sangat sulit untuk diam nona... " Gurau dokter Stephanie di tengah-tengah pemeriksaan nya.
" Kau bilang kalau putriku cerewet begitu!!! " Pekik Marvell tak terima dengan penuturan dokter kandungan itu, membuat dokter Stephanie pun tertegun, tak tahu jika gurauan nya itu akan di tanggapi lain oleh sang pemilik rumah sakit.
" Mas... Dokter Stiphie kan hanya bercanda... " Seru Anelis menyapa akrab dokter Stephanie, wanita itu tengah berusaha menenangkan suaminya yang memang sangat sensitif akhir-akhir ini.
" Bercanda? Dia ngatain putriku sayang... " Timpal Marvell masih tak terima.
" Mas... Itu hanya bercanda... Mas nya aja yang ngga bisa di ajak bercanda... " Sergah Anelis.
Melihat perdebatan itu, dokter Stephanie pun merasa bersalah, niat hati bergurau, malah ia menjadi pemantik sebuah pertengkaran.
" Ehmm... Maafkan atas ucapan saya tuan, nona... Sungguh saya tidak bermaksud... "
" Oh... Tidak apa-apa dokter, yang di katakan dokter juga benar. Putri saya memang sedikit cerewet, sedikit saja tidak bicara, sepertinya mulutnya akan terasa gatal... " Seloroh Anelis berusaha mencairkan suasana yang sepertinya sudah mulai memanas.
" Ohh... Bagaimana keadaan calon bayi saya dok, apa dia baik-baik saja? "
" Usia kandungan nona Anelis sudah memasuki usia 25 minggu, keadaan janin sangat baik, panjangnya 35 cm, beratnya 673 gram. Oh iya, ini calon bayi nya tidak ngumpet lagi seperti kemarin-kemarin, jadi kita bisa melihat jenis kelaminnya... "
" Benarkah itu bisa diketahui sekarang? "
Marvell tampak antusias, calon bapak tiga anak itu sudah tak sabar ingin segera mengetahui jenis kelamin sang jabang bayi. Meski usia kehamilan Anelis sudah memasuki usia 6 bulan, namun nyatanya, sampai sekarang pun mereka belum mengetahui jenis kelaminnya karena tingkah bandel sang calon bayi yang selalu ngumpet saat di periksa.
" Tentu bisa tuan, apa anda ingin mengetahui jenis kelamin calon bayi anda sekarang? " Tawar dokter Stephanie.
" Hmmm... Tentu saja... " Dengan binar wajah yang diliputi oleh antusiasme yang besar.
" Dari layar monitor ini saya bisa menyimpulkan bahwa, jenis kelamin calon bayi anda... "
" Tunggu... Mas... Bisakah kita tidak mengetahuinya sekarang? " Potong Anelis tiba-tiba.
Marvell mengernyit tak mengerti.
" Kita rahasiakan dulu jenis kelaminnya sampai dedek lahir, jangan tahu sekarang ya mas... " Pinta Anelis pada sang suami.
" Kenapa harus menunggu sampai lahir kalau sekarang pun kita bisa mengetahuinya... " Sungguh Marvell tak tahu dengan jalan pikiran istrinya itu.
" Biar surprise... Ya mas... "
" Sayang... "
" Mas... Nanti kalau kita tahu jenis kelaminnya jadi ngga seru mas... Nggak bisa jadi tebak-tebakan, ya mas... " Anelis masih keukeh berusaha mengambil hati sang suami.
Marvell masih terdiam, sejujurnya ia kecewa, kalau bisa tahu sekarang kenapa harus capek-capek nunggu sampai lahir sih. Otak rasional nya mulai bekerja.
" Mas... " Dengan wajah imut nan menggemaskan, tangannya juga tak tinggal diam mengelus-elus lengan kekar suaminya.
" Hmmm... Baiklah, kau menang sayang... " Sembari mengecup kening Anelis, istrinya itu benar-benar pintar mengambil hatinya, apalagi jika tengah menggodanya.
" Mas coba tebak deh, apa jenis kelamin dedek? "
" Perempuan " Sahut Marvell seketika, tanpa diliputi oleh keraguan yang tercipta.
" Mas seperti nya sangat yakin sekali? " Heran Anelis saat mendapati suaminya yang tak ragu sedikitpun.
" Tentu saja dia perempuan, karena dia kamu menjadi sangat nakal sayang... Dan apa kamu tahu? Aku sangat suka saat kamu nakal sayang... " Bisik Marvell dengan suara penuh sensasional, membuat Anelis seketika membelalakkan bola matanya lebar, bulu kuduknya pun ikut meremang, ia tak mengira jika suaminya itu akan memberikan jawaban absurd seperti ini.
" Mas... " Rengek Anelis, wajahnya sudah mulai memerah padam, di goda seperti itu siapa sih yang tidak terbuai, apalagi Anelis hanya sosok wanita polos yang akhir-akhir ini sering di poles hingga akhirnya kepolosan nya jadi sedikit luntur.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕