Baby Twins CEO

Baby Twins CEO
Belum Siap


°°°~Happy Reading~°°°


" Emang kamu ngga di kasih kartu debit atau kartu kredit gitu? " Mama Clara masih berharap banyak pada putra semata wayangnya itu.


" Kartu? Ada sih ma... Mas Marvell kasih Ane kartu, tapi bentuknya aneh, Ane juga ngga paham cara pakainya gimana, jadi suruh mas Marvell simpan aja... "


Anelis merogoh dompetnya, lalu mengeluarkan kartu yang ia maksud untuk di perlihatkan ke mama Clara.


" MasyaAllah An, kamu bikin mama jantungan aja tadi, mama pikir anak mama itu ngga ada otak sama sekali, ternyata bocah tengik itu masih mikir sedikit. Ini kan black card sayang... Kamu bisa gunain ini buat belanja-belanja, jangan mikir harganya berapa, di dalam sini ngga bakalan habis uangnya... Beruntung nya kamu, mama aja yang udah menikah puluhan tahun, baru di kasih kartu ini sama papa tahun kemarin, itu aja harus pakek ngerayu-ngerayu kasih service full on time "


Anelis hanya bisa nyengir mendengar obrolan absurd mama mertua nya itu.


" Jadi kamu belum pernah gunain kartu ini? "


" Belum ma... soalnya Ane nggak paham cara pakainya gimana, mas Marvell juga udah kasih Ane uang tunai yang jauh lebih dari cukup, di lemari aja masih banyak... "


Mama Clara menepuk jidatnya, bisa ia prediksi bahwa menantu nya itu terlalu irit dengan uang, uang 10 juta aja ngga habis sehari, di bandingkan dengannya, boro-boro satu hari, satu menit aja ngga bakalan cukup.


" Ya udah, sini mama ajarin. Mana tas yang kamu pegang tadi, kita coba beli tas itu pake kartu punyamu... "


Anelis tercengang, tidak bisakah yang jadi kelinci percobaan itu yang harganya hanya ratusan ribu? Ini beneran harganya ratusan juta mau di jadiin kelinci percobaan?


Dan tiba-tiba saja transaksi berhasil, selama itu Ane hanya bisa bengong dengan tingkah mama mertuanya yang begitu bar-bar pada uang.


" Sudah... Gampang kan? "


Anelis hanya tersenyum kecut, ya Allah... Uang ratusan juta melayang begitu saja hanya dalam hitungan detik, berdosakah ia telah menghambur-hamburkan uang milik suaminya itu?


" Kalau gitu, kita coba beli yang lain lagi... " Ajak mama Clara dengan semangat empat lima.


" Ma... Ini... Ini udah cukup ma, kita belanja nya udahan aja ya ma... Ane juga tidak butuh-butuh amat, kita tabung aja uang nya ma, atau sumbangin gitu kan lebih bermanfaat... "


" Ya ampun... mimmpi apa sih, si tengik Marvell sampai dapat istri kaya kamu sayang... Dengarkan mama sayang... Kalau punya suami kaya itu harus di manfaatin, terus ngapain mereka sibuk kerja kalau bukan buat istri sama anak, udah... Kamu tenang aja... Anak mama itu nggak bakalan bangkrut hanya karena uangnya di buat belanja sama kamu, dan soal sumbangan, tenang aja mama udah ada jatahnya sendiri... "


Anelis mendesah pasrah, ia tak sanggup lagi menahan mama Clara yang sudah seperti kerasukan setan shopping, tidak lagi-lagi ia menemani mertuanya itu berbelanja, bisa-bisa uang suaminya itu beneran ludes karena barang-barang mewah pilihan mama mertuanya itu.


Kling kling kling...


Marvell tercengang mendapati ponselnya tertera banyak notifikasi, dengan malas ia mengeceknya nya, seketika itu ia mengembangkan senyumnya, tidak sia-sia ia memberikan kartu itu pada sang istri, akhirnya di pakai juga kartu tanpa batas itu.


🍁🍁🍁


Tok tok tok


Anelis mengetuk pintu ruang kerja Marvell, terlihat sang tuan muda kini tengah berjibaku dengan berkas-berkas yang masih menumpuk di atas meja, padahal suaminya itu sudah berpisah dengan kantornya, apa masih harus membawa pekerjaan-pekerjaan itu ke rumah?


" Mas... Ane bawakan kopi untuk mas... " Anelis meletakkan secangkir kopi buatannya di atas meja.


" Ya, terimakasih... " Marvell menerima kopi buatan istrinya itu, langsung menyeruput nya, ahhh... Begitu menyegarkan, rasa kantuk yang menderanya seketika itu langsung menguap begitu saja.


" Anak-anak sudah tidur? "


" Belum, masih pada main di bawah mas... " Sahut Anelis sedikit gusar, entah apa yang membuat wanita polos itu begitu sukar dan gelisah.


" Nanti saja mas... "


Anelis seperti ragu ingin mengungkapkan isi hatinya, mengerti itu, Marvell pun lantas menanyakannya, ia tahu, Anelis bukan tipikal wanita yang gampang membuka mulut jika tak di pancing duluan.


" Apa ada yang ingin kamu katakan? "


" Emmm... Itu... Tadi pagi, mama ngajak ke mall... " Anelis menelan ludahnya kasar, rasanya begitu sungkan ketika ingin mengatakan kegundahannya.


" Itu... Terus... Ane di ajak belanja sama mama... Karena Ane ngga bawa uang tunai, jadi pakai kartu yang mas kasih waktu itu " Ya Allah, lancarkan Anelis ketika berbicara, kenapa sesulit ini hanya untuk mengatakan hal itu.


" Emmm... Maafkan Ane mas, itu... Ane... Ane udah gunain uang nya banyak banget... Ane di pilihkan mama tas sama sepatu, Ane ngga enak mau nolak... Tapi... Itu... Harganya mahal banget, hampir 500 juta mas... Ane... Ane minta maaf... Lain kali, nanti Ane... Emmm... Janji nggak bakal belanja begituan lagi... " Ya Allah, hampir copot nyawa Anelis saat harus mengungkapkan semua pengakuan itu, bayangkan saja, setengah hari saja ia sudah menghabiskan uang 500 juta untuk berbelanja, belum barang-barang lain yang sengaja di belikan mertuanya itu dengan uang mertuanya sendiri.


Mendengar itu, Marvell hanya mengembangkan senyum samar.


" Kenapa minta maaf? Saya kan sudah kasih kartu itu untuk kamu, jadi kartu itu sudah milik kamu, kamu bebas mau belanja apa aja itu terserah kamu, tidak perlu ijin sama saya lagi... " Sahut Marvell sembari menatap lekat wajah Anelis yang kini hanya menunduk tak enak hati.


" Sudah, jangan di pikirkan lagi... Tidak apa kamu gunakan uang itu... " Sambung nya lagi saat hanya mendapati kebisuan dari Anelis. Sepertinya istrinya itu masih merasa bersalah.


" Maafkan Ane mas... " Sahutnya lirih penuh penyesalan


" Saya kan sudah bilang tidak apa... "


" Tapi tetap saja... Ane merasa sangat bersalah pada mas... Mas sudah sangat baik sama Ane... Tapi... Ane... " Anelis mengusap bulir air mata yang tiba-tiba saja menerobos keluar dari bola matanya.


" Ane bahkan belum memberikan hak mas... Ane tidak bisa menjadi istri yang baik untuk mas... Ane... Sudah jadi istri yang durhaka sama mas... Ane... Ane minta maaf mas... "


" Tak apa... Saya akan menunggu sampai kamu siap untuk memberikan hak saya... Saya akan menunggu... Tapi... "


" Saya ingin bertanya pada kamu... Apa kamu masih membenci saya karena kejadian malam itu? "


Anelis terdiam sejenak, lalu menggeleng.


" Tidak mas... Insyaallah, insyaallah... Ane sudah memaafkan semua yang telah lalu... Tapi... Ane mohon sama mas, berikan Ane sedikit waktu lagi, Ane ingin memantapkan hati Ane, Ane belum siap bila harus mengulang hal itu lagi, maafkan Ane mas... "


" Tak apa, Aku tak ingin memaksakan apapun padamu, bersedia menjadi istriku saja aku sudah sangat bersyukur... "


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Bagaimana hari minggunya?


Jangan boros-boros kaya mama Clara ya...


Sayang uang nya, mending buat aku aja😂


Happy Reading


Saranghaja 💕💕💕