
"Kekuatan macam apa ini? Kenapa persepsi ku tidak mampu melihat kedalaman ilmunya, apalagi melihat seberapa tinggi tingkatannya. Apakah dia masih layak disebut manusia?" batin seorang pria sudah sangat tua, tapi mempunyai perbawa muda di wajah dan tubuhnya.
Dia adalah Ziangga, leluhur bangsa denawa, sekaligus leluhur bangsa jin dan Gandawa, yang kesaktiannya sudah tidak bisa diragukan lagi.
Umurnya sudah tidak diketahui berapa. Kemungkinan sudah mencapai ribuan tahun, karena dia seangkatan dengan Wangsa Baladewa, atau lebih tinggi lagi dari itu.
Namun anehnya, dia tidak bisa menerawang kekuatan Arya dengan persepsinya, walaupun dia sudah berhasil naik tingkat ke level penguasa alam semesta. Tapi entah kenapa, saat merasakan bahwa keturunannya sedang dalam bahaya, dia tidak bisa berbuat apa apa.
Padahal saat itu dia sudah keluar dari pertapaannya, dan melihat aksi heroik Arya menjebol atap istana dan masuk kedalamnya. serta menyelamatkan Amanda. Namun dia tidak bisa berbuat apa apa juga.
"Siapa sebenarnya bocah itu?Kenapa auranya seperti Wangsa Baladewa? Apakah dia keturunannya?" Ujarnya sangat penasaran, sambil berusaha menyebarkan persepsinya ke arah Arya. Namun tiba tiba...
"Untuk apa kau bersembunyi disitu orang tua! Mau sampai kapan akan terus mengawasi ku. Apa kau tidak merasa bosan disana?" Ujar Arya.
"Bagaimana kau bisa tahu keberadaan ku anak muda? Padahal aku sudah menekan persepsi ku sampai ke titik nol atau kehampaan. Tapi tetap saja kau bisa tahu juga?" Respon Ziangga sangat keheranan.
"Itu mudah saja. karena benda sekecil apapun walau jauhnya di ujung dunia, aku bisa melihatnya, asal dia masih bernyawa.temasuk kau!"
"Tempat pertapaan mu juga aku sudah tahu. bahkan sampai ke dalam dalamnya. Serta kapan kau menembus penguasa alam raya, aku juga tahu."
"Lalu buat apa juga kau bersembunyi di dalam ruang dimensi buruk itu, kalau keberadaan mu bisa aku temukan?" Jawab Arya.
"Siapa kau sebenarnya? Apakah kau anak cucu Baladewa?" Respon Ziangga malah balik bertanya.
"Kalau iya bagaimana? Apa kau ingin mencincang ku karena telah melukai cucumu?" Jawab Arya cuek saja.
"Setidaknya kalau kau mati. Aku bisa menyampaikannya pada leluhur mu, agar dia tidak terlalu bersedih atas kematian mu." Jawab Ziangga meremehkan Arya.
"Membunuhku? Apa kau mampu orang tua?" Reaksi Arya.
"Hahahaha! Membunuhmu bagai membunuh semut saja hai anak muda! Kalau aku mau, dari tadi pun aku bisa. Cuma aku ingin memastikan saja dari darah mana kau berasal?"
"Setelah tahu baru saatnya melenyapkan keturunan Wangsa Baladewa. Hahahaha!" Jawab Ziangga.
"Kau menganggap ku semut orang tua? Ya tak apalah. Tapi ketahui lah, bahwa semut juga punya kekuatan. Apalagi semut yang bernama Arya. Sekali gigit lawannya bisa mati, termasuk kau orang tua!" balas Arya.
"Hahaha, Luar biasa! Kalau kau memang berani, masuklah ke dimensi ku, dan kita bertarung di dalamnya." Reaksi Ziangga.
Whus!
Bam!
Tap!
Dhuar!
Hanya dalam sekelip mata. Arya sudah berhasil memasuki dimensi itu, bahkan bisa memukul Ziangga setelah itu keluar dari sana.
"Kurang ajar! Bagaimana kau bisa masuk dan keluar sesuka hati mu? Ini dunia ciptaanku, dan hanya aku sendiri yang bisa berbuat sesuka hati di dalamnya. tapi kenapa kau bisa?" Reaksi Ziangga tidak percaya.
"Jangankan hanya sekedar masuk, menghancurkannya saja aku bisa. Apalagi menghabisi mu. itu mudah saja orang tua!" Jawab Arya terkesan jumawa.
"Hahahaha! Baru kali ini aku menjumpai anak manusia yang sombong sepertimu. Baladewa saja tidak seperti mu, apalagi Purbaya yang pengecut itu?"
"Tapi keturunannya sangat jumawa. Dia menganggap bahwa dia adalah orang yang paling kuat di atas muka bumi."
"Namun ingatlah hai anak manusia. Diatas langit masih ada langit. Jangan merasa kalau kau tidak bisa dikalahkan!"
"Hari ini, aku Ziangga, bersumpah akan melenyapkan keturunan dari Baladewa.dan mengukir sejarah, orang yang paling berkuasa di muka bumi."
"Baladewa dan keturunannya tidak ada apa apanya bagi ku!"
"Hahahaha?"
Bugh!
Plak!
Des!
Bamm!
"Sialan!. Sungguh tidak bermartabat dan tahu malu kau hai anak manusia!"
"Jika aku tidak bisa melenyapkan mu, Maka jangan panggil aku Ziangga!" responnya.
Slash!
Bugh!
"Argh! Lagi lagi kena. Bagaimana bisa gerakan mu secepat itu. Apakah kau masih tergolong manusia?" Reaksi Ziangga benar benar marah. Lalu merilis tapak dewa iblisnya, sebuah pukulan tingkat tinggi, yang dulunya pernah dipakai melawan Baladewa. Tapi kali ini malah digunakan untuk melawan Arya.
Swing!
Blar!
Begitu dahsyatnya efek dari pukulan itu. hingga membuat sebagian besar dinding istana jebol. Orang orang yang kebetulan ada di sana, turut menjadi korban. Mungkin termasuk Pangeran Sura. Namun sedetik sebelum pukulan itu sampai, sekelebat bayangan hitam menyambar tubuhnya. dan segera memindah tubuh Sura ke tempat lain.
Arya yang melihat itu hanya menyeringai ringan.Padahal tubuhnya sedang dilalap api. Namun anehnya, jangankan kulitnya terbakar, pakaiannya saja tidak.
"Jangan berpura pura lagi hai anak manusia! Keluarlah kau dari api itu. Aku tahu kau tidak akan mati semudah itu." Ujar Ziangga pada Arya.
"Hahaha! Aku salut padamu raja Denawa. Aura ku yanng sudah setipis ini pun masih bisa kau endus. Macam anjing saja."
"Tapi sayangnya, aku sudah tidak banyak waktu untuk meladeni mu. karena aku sedang terburu buru."
"Namun satu kata yang akan aku tinggalkan untukmu sebagai oleh oleh sekaligus peringatan. Berhentilah mencari gara gara dengan ku, terutama cucu mu yang bodoh itu."
"Jika selangkah saja aku mendengar rakyat mu membuat onar diluar, maka aku tidak akan segan segan lagi untuk menghancurkan mu!" Ujar Arya memberi peringatan.
"Selamat tinggal!"
Blar!
Bamm!
"Ugh!" Jerit tertahan Ziangga terdengar, saat Arya menjentikkan jarinya ke arah tubuhnya. dan yang terlihat adalah, tubuh Ziangga terjengkang ke belakang, walau sedaya upaya ditahannya.
"Sialan! Kuat benar anak itu. Aku yang sudah berada di peringkat tertinggi saja belum mampu menahan serangannya."
"Seberapa tinggi kekuatannya,
sampai hanya dengan jentikan jarinya saja aku sudah terpental."
"Ini tidak boleh dibiarkan. Aku harus mencari tahu kelemahannya. Jika tidak, bakalan tubuh ku yang akan dijadikannya samsak." Ujar Ziangga tidak senang.
"Dasamuka!" ujarnya memanggil cucunya." Apakah kau tahu siapa anak itu? Kenapa kekuatanku yang sudah begini besar, masih juga tidak berdaya terhadapnya?" Tanya Ziangga.
"Aku juga tidak tahu leluhur. Baru pertama kali ini melihatnya." Jawab Dasamuka apa adanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?Kenapa tiba-tiba keadaan jadi memburuk seperti ini? Apakah anakmu telah memprovokasi anak manusia itu?" Tanya Ziangga.
"Ini bermula saat Sura Menggala ingin mendapatkan kekuatan tertingginya. Menurut persepsinya, ada tubuh seorang manusia yang bisa membuatnya semakin menjadi kuat. Dari tingkat awan level pertengahan, bisa meningkat menjadi tubuh penguasa tiada tara"
"Oleh karena itu dia sangat terobsesi sekali, dan berencana menculik anak manusia tersebut. Tapi belum apa apa, ternyata langkahnya itu salah."
"Anak itu dilindungi oleh orang yang bertarung dengan leluhur tadi. yang sama-sama kita lihat dan ketahui, bahwa kekuatannya tidak bisa diremehkan." Jawab Dasamuka sedikit melenceng dari kejadian yang sebenarnya.
"Tapi kenapa jika hanya ingin menculik seorang manusia. Kenapa pula terjadi peperangan, bahkan di tiga negara pula. Ada apa sebenarnya?" Desak Ziangga.
"Selain ingin menguasai bocah sialan itu. Sura juga ingin menguasai tiga negara, yang selama ini selalu membuat negara kita tidak dipandang sebelah mata oleh sekutu sekutu kita."
"Lagi pula di salah satu negara tersebut, atau tepatnya negara naga, terdapat sebuah mustika maha sakti. yang hanya bisa dibuka dan didapatkan melalui darah Amanda, manusia yang diculiknya itu."
"Namun sayangnya. belum juga terlaksana, keadaan sudah menjadi kacau. dan seperti yang leluhur ketahui, akhirnya pelindung anak tersebut marah, dan bertarung dengan leluhur barusan." Jawabnya berterus terang.
Ziangga tidak menanggapi,karena dia sedang memikirkan dampak yang akan mereka dapat. Jika mendukung cucunya, maka kerajaan ini akan hancur. Jika tidak mendukung, kapan lagi kerajaan ini bisa jaya?
"Leluhur! Setelah ini aku khawatir, bukan hanya Sura saja yang akan dihabisi, tapi kita semua." Ujar Dasamuka berterus terang dan apa adanya.
"Celaka!. Kalau begini terus, terpaksa aku harus gunakan kekuatan naga iblis itu. Walau jiwaku akan dimakannya."
"Jika tidak pun, setidaknya akan menjadi budaknya. Ah, sungguh dilema!" Keluh Ziangga berputus asa.